Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 127


__ADS_3

"Tetapi nona... Ini belum seberapa, aku masih belum puas menghajarnya..." Kata Minami dengan raut wajah yang tidak puas.


"Maka, lumpuhkan saja." Kata Aquila dengan tidak berperasaan.


"Ide yang sangat bagus nona. Ha....ha...ha... Aku sudah tidak sabar melihat kau pengacau menjadi orang yang tidak berguna..." Ucap Minami dengan seringai tawa bahagia melebihi tawa dari sang putra mahkota yang sebelumnya sudah tidak berdaya.


"Sejak kapan kakak ku menjadi seperti ini?" Tanya Aquila pada dirinya sendiri.


Kemudian Minami langsung memutuskan aliran mana dari dalam tubuh sang putra mahkota kekasaran Zemlya, dan tidak lupa juga mematahkan kedua tulang kaki dan paha hingga hancur dan tidak dapat disatukan kembali meski dengan sihir penyembuhan tingkat tinggi, kecuali Minami sendiri lah yang menyembuhkannya.


Setelah merasa puas, Minami menyusul Aquila yang tengah bersama Leave menanti kehadirannya untuk berkumpul bersama. Senyum bahagia tidak pernah luntur dari wajah Minami yang sangat jarang terlihat meski tertutupi tudung kepalanya.


"Aku sudah memberi pelajaran pada orang yang membaut kalian menjadi seperti ini. Kini saatnya kita harus berpisah, dan temui lah kedua orang tua kalian dan kembalilah pada sang pencipta." Kata Minami pada sekumpulan cahaya yang terus mengikutinya itu.


Cahaya-cahaya itu langsung mengerubungi Minami sebelum berpisah untuk selamnya. Lalu mulai menyebar ke segala arah dan beberapa naik ke angkasa luas dengan sang bulan yang telah muncul dari balik awan yang tebal.


"Apa semuanya sudah selesai? Jika sudah, kita akan melanjutkan perjalan ini untuk menemui sang penguasa tarian api Ignatius yang masih terkurung dalam jurang kegelapan keegoisan manusia." Kata Shiro dengan semangat yang membara.


"Sebelum itu, Rino, ayo kita kembalikan pelita dunia untuk menyinari wilayah Adrian dengan cahaya sang matahari." Kata Helios tidak kalah semangat dari shiro.


"Rino..... Lio..... Terimakasih.... Terimakasih...." Kata Adrian dengan menahan tangsi karena terharu dengan kedua saudaranya itu.


"Tidak perlu Adrian. Ini adalah tugasku..." Kata Helios dengan senyum yang sangat menyilaukan seperti cahaya matahari.

__ADS_1


"Ayo..." Ajak Shiro kepada Helios untuk terbang di cakrawala nan luas degan rembulan ungu sebagai sumber pelita di kekaisaran Zemlya.


Sedangkan Adrian, Rugiel, Soleil, dan Vent Leger hanya memandang dimana kedua saudaranya itu tengah melayang diudara bebas dengan kedua sayap yang berada dipunggung mereka seperti peri yang tengah mengatur tatanan alam.


Lalu kedua tangan Shiro dan Helios saling berhubungan dan sebuah rune jingga muncul diatas kepala mereka yang sangat tepat dengan posisi bulan, dan kemudian bulan itu menghilang dan digantikan dengan sang Surya yang memancarkan cahayanya yang hangat keseluruh penjuru kekaisaran Zemlya yang gelap nan kelam.


Udara yang dingin kini mulai menghilang karena cahaya sang Surya yang hangat melelehkan es yang runcing dan mencairkan air sungai yang membeku. Raut wajah bahagia, penuh dengan rasa syukur akan kehadiran sang matahari yang mereka nantikan selama ini.


Wajah Adrian pun diterpa dengan kelembutan dan kehangatan dari cahaya sang Surya yang sudah lama tidak dia rasakan selama ini. "Lio... kali ini aku sangat berhutang Budi pada mu." Ucap Adrian dengan suara yang lirih.


"He....? apa yang baru saja kamu katakan Adrian? kau berbicara tidak jelas..." Kata Helios dengan tiba-tiba.


"Ti-tidak ada. Kau salah dengar mungkin.." Kata Adrian dengan memalingkan muka.


"Huh.... kenapa aku bisa punya saudara yang sangat menyebalkan seperti mu.." Kata Adrian yang tidak suka dengan tingkah Helios yang selalu membanggakan dirinya sendiri dihadapannya, sedangkan dengan saudaranya yang lain sekali pun tidak pernah.


"Aahhh.... Adrian kau katakan saja kalau aku ini memanglah sangat hebat dari pada dirimu ya kan...?" Ucap Helios yang semakin besar kepala.


"Apa mereka berdua selalu saja begitu shiro?" Tanya Aquila yang terheran dengan kedua adiknya yang sangat bertentangan dengan element mereka, yang berupa cahaya dan kegelapan, penyembuh dan racun itu.


"Ya begitulah kak Aquila, mereka senantiasa akan berdebat bila ada kesempatan. Biarkan saja mereka, bila mereka sudah kelelahan pasti akan diam." Kata Shiro dengan tatapan mata yang terarah pada Adrian dan Helios yang tengah asik beradu mulut itu.


"Nona, apa kita beristirahat dulu di kekaisaran ini untuk sejenak, atau kita tetap akan melanjutkan perjalan ini?" Tanya Leave yang terlihat sangat kelelahan.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu Shiro?" Tanya Aquila pada Shiro alih-alih menjawab pertanyaan Leave. Tentu saja membuat Leave kesal dengan sikap nonanya yang dia anggap sebagi adiknya itu.


"Tidak masalah untuk beristirahat sehari. Dan juga aku merasa lelah karena terlalu banyak mengeluarkan mana. Mungkin aku akan tertidur dalam beberapa hari." Kata Shiro dengan menguap lebar.


"Rino.... Tutup mulutmu itu... Kau sangat tidak sopan.." Kata Soleil protes.


"Baiklah, kak Leave. kita akan beristirahat untuk sehari, lalu besok kita akan melanjutkan perjalanan ini dan banyak rintangan yang masih menunggu kita didepan."Kata Aquila dengan tersenyum manis kepada Leave yang berwajah masam karena diabaikan, dan kini kembali ceria dalam sekejap mata karena sebuah senyuman milik Aquila.


"Terimakasih nona....." Kata Leave dengan memeluk Aquila erat.


"Ya, sama-sama. Ayo kita kembali ketempat kita menginap." Ajak Aquila kepada seluruh adik-adinya yang tengah asih bercanda.


"Nona, bolehkah aku pergi sejenak." Kata Minami meminta izin.


"Tentu saja, aku tidak melarang kak Nami untuk berjalan-jalan. Aku tau kalau kak Nami ingin menemui seseorang, aku benar kan?" Tanya Aquila seakan tengah menebak yang ada didalam pikiran Minami.


"Nona, apa nona mengikuti ku kemarin?" Tanya Minami dengan wajah tidak menyangka dengan kalau pertemuannya dengan pamannya itu akan diketahui oleh nona nya itu.


"Tentu saja tidak. Aku tidak mungkin melakukan hal yang merepotkan seperti itu kak." Kata Aquila


"Lalu, nona tahu dari mana?" Tanya Minami penuh selidik.


"Entahlah, sudahlah kak Nami, mereka menunggumu, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia katakan. Sampai jumpa nanti di rumah...." Kata Aquila sambil berlalu meninggalkan Minami yang masih bergulat didalam pikirannya itu, dan kemudian tersadar oleh ucapan Minami yang sudah berjalan jauh meninggalkannya ditempat festival lentera berlangsung dan kini hanya menyisakan kesunyian ditinggalkan oleh orang-orang yang mengikuti nya. Dan hanya menyisakan lampion yang rusak berserakan di jalan kota.

__ADS_1


__ADS_2