Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 8


__ADS_3

"Benarkah....? Maksudku, kamu baru kenal dengan ku?" Dita sambil memalingkan muka.


"Tuan baru mulai mengenalku, tapi Leave telah mengenal tuan dari dulu. Lebih tepatnya, leave ada saat tuan hadir di dunia ini." Leave menjelaskan dengan nada yang berwibawa.


"Bisakah kamu tidak memanggilku tuan, itu membuatku tidak nyaman Leave." Dita memandang leave dengan penuh harap.


"Tapi itu tidak sopan tuan."


"Tidak apa, kakak bisa memanggilku adik. itu lebih baik daripada kakak memanggilku tuan." Dita pandangan penuh harap kearah Leave.


Leave yang mendengarkan tuturan Dita membuatnya terharu, itu membuatnya lebih baik. Dita hanya memamerkan senyumannya yang manis.


Sedangkan orang yang melihat Dita terpesona melihat senyuman bagaikan bidadari yang turun ke bumi. Dan ada juga Yang merasa iri akibat kecantikan Dita yang mereka anggap diluar logika mereka.


Sesampainya di toko Rin, Dita langsung menghampirinya. "Hei Ta, kenapa kamu kembali lagi?" Tanya Rin heran melihat sahabatnya itu.


"Memangnya tidak boleh aku kesini lagi?" Kata Dita cemberut, karena teguran Rin.


"Tentu saja boleh, kapanpun kamu boleh kesini kok."


Dita langsung memeluk sahabatnya dengan erat, sedangkan Rin hanya bisa pasrah dengan kelakuan Dita yang menurutnya semakin aneh itu.


"Dita, bisa kamu lepaskan pelukanmu itu, aku tak bisa bernafas." Rin sambil memukul punggung Dita, dengan muka memerah akibat tak bisa bernafas, dengan tangan yang memukul punggung Dita agar dilepaskan pelukannya tersebut.


"Ahhhh..... maaf, aku hanya terlalu senang saja Rin." Kata Dita sambil tersenyum tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Lama-lama aku bisa mati, bila kamu peluk erat kaya gitu." Sedangkan yang diberi ocehan hanya menampilkan tampang bodoh.


"Ah, sudahlah. Berbicara denganmu tidak bakal berhasil." Kata Rin frustasi akibat kelakuan Dita yang semakin aneh itu.


"Rin, malam ini kamu ada kegiatan tidak?" Rin memandang Dita dengan penasaran. sebab jarang sekali Dita menanyakan hal yang menurutnya merepotkan.


"Tentu saja tidak, walaupun aku ingin pergi setidaknya menunggu akhir pekan." Rin menjawab dengan santainya.


"Bagaimana kalau nanti malam kamu datang ke rumahku, kan kamu jarang sekali datang ke rumahku." Dita sambil menapilkan muka yang memelas.

__ADS_1


"Tumben sekali kamu mengundangku kerumah mu?"


"Ya tidak apa kan?" Rin hanya bisa menghela nafas berat, karena kelakuan ke kanakan-kanakan Dita yang mulai kambuh lagi.


"Baiklah, aku akan ke sana." Rin pasrah menuruti kemauan sahabatnya itu.


Dengan semangat Dita langsung memeluk Rin lagi, sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali. Rin hanya pasrah sambil menahan nafas nya yang mulai sesak. kemudian Dita melepas pelukannya.


"aku akan memasak makanan kesukaanmu, jadi jangan telat ya!" Dita sambil berjalan keluar dari dalam toko.


Rin merasa seolah-olah Dita akan pergi jauh dari hadapannya, Rin segera menepis pikiran yang membuatnya tak nyaman itu.


"Haaahhh...., mungkin hanya pikiranku saja." Sambil meyakinkan dirinya sendiri.


" Baiklah, aku harus membereskan semua barang yang ada diluar, lalu langsung pulang." Sambil berjalan menuju barang yang dipamerkan diluar toko.


Setelah semuanya selesai, Rin langsung mengunci pintu toko dan berjalan pulang. sesampainya Rin dirumahnya, ia langsung menuju ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya. Setelah selesai melakukan kegiatannya, Rin langsung memakai switer biru navy yang dipadukan dengan celana jins panjang warna putih, dan memakai sepatu putih, rambut yang pendek berwarna coklat gelap yang membuatnya terlihat tomboi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah selesai memasak dan membereskan peralatan yang telah Dita gunakan, Dita langsung melakukan ritual mandinya dan memakai gaun yang simpel berwarna putih dan dibawahnya terdapat renda yang sederhana.


setelah menyiapkan semuanya, Dita langsung menunggu Rin didepan sambil duduk dan menikmati secangkir teh.


Shiro datang dan langsung naik dipangkuan Dita yang tengah duduk itu.


"apa persiapan mu telah selesai shiro?" Tanya Dita penasaran sebab Dita baru melihat Shiro sekarang.


"Semuanya telah siap kak, tapi kenapa kakak mengundang teman kakak kemari?"


"Aku hanya ingin saat aku pergi nanti dia berada di sisiku, itu saja keinginanku Shiro." Dita sambil memandang jauh yang ada didepannya.


Shiro hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Kak, waktu memulai perpindahan di seperempat awal malam ini, ya sekitaran jam 9, apa kakak siap untuk semua ini, bila tidak siap kakak tidak perlu pergi." kata Shiro yang melihat keraguan di mata Dita.

__ADS_1


"Tidak perlu seperti itu Shiro, aku sudah memastikan keputusanku ini." Kata Dita sambil melihat Rin yang berada didepan pagar rumahnya.


"Apakah kamu akan diam saja, tanpa membuka gerbang mu!" teriak Rin yang berada didepan gerbang rumahnya.


"Sabar lah, aku akan ke sana," Kata Dita sambil berjalan menuju ke pagar rumahnya.


"Kamu lama sekali, aku sangat lelah menunggumu tau!" Dita hanya terkekeh saja ketika kelakuan manja temanya itu.


"Padahal belum terlalu lama, kamu saja baru datang, lelah darimana coba." sambil membuka gerbang rumahnya.


"akau kira tidak jauh, ini sangat jauh tau dari rumahku." Rin sambil memalingkan mukanya.


"Jauh mana dari tempatku ke toko mu?" Dita sambil menaikan salah satu alisnya.


"Hemmm, apa aku tak boleh masuk apa? kamu membiarkan aku berdiri di gerbangmu?" Kata Rin sambil berjalan.


"Tanpa disuruh pun kamu masuk sendiri." Dita sambil menutup gerbangnya dan mengikuti Rin dari belakangnya.


Rin yang mendengarkan perkataan Dita hanya bisa menyembunyikan rona wajahnya karena malu.


"Dita, apa kucingmu selalu duduk disitu?" tanya Rin terheran melihat Shiro yang duduk manis di atas meja sambil mengibaskan ekornya dengan santai.


"Biarkan saja, itu memang tempat favoritnya. Bila bosan entar masuk sendiri kedalam rumah." akata Dita sambil melihat raut wajah Shiro yang cemberut namun menggemaskan itu.


Kemudian Shiro turun dari meja dan mengikuti mereka kedalam rumah. Saat Dita melihat jam yang dipajang diatas pintu ruang makannya dan menunjukan waktu pukul 7 malam, yang berarti waktunya tidak akan lama di dunia ini.


Sedangkan Rin memandang makanan yang Dita buat sebelumnya dengan mulut terbuka dan mengeluarkan sedikit air liur dan mata yang berbinar.


"Jangan melihat makanannya seperti itu, makanannya tidak akan pergi Rin." Dita menegur kelakuan Rin yang mulai aneh ketika melihat makanan kesukaannya.


"Hehehe, seafood, daging bakar, mama akan datang...!!" Rin sambil menarik bangku dan mengambil makanan yang telah disiapkan Dita dengan sangat banyak.


Dita hanya melongo saja melihat kelakuan rakus temanya akan makanan yang begitu disukainya.


"Tanpa disuruh pun, kamu langsung mengambilnya." kata Dita sambil menarik bangku yang berada didepan Rin.

__ADS_1


"dan siapa suruh kamu memasak makanan ini." Rin dengan pipi mengembung akibat mulutnya yang masih mengunyah makanannya. Dita hanya melanjutkan makanya dengan tenang dan mengabaikan Rin yang sambil mengoceh.


__ADS_2