
Sebuah rune melayang dikaki Aquila segera mengeluarkan cahaya abu-abu, dan seketika Aquila langsung melesat dari tumpukan kayu yang menggunung.
Sedangkan prajurit yang akan menangkap Aquila dari belakang, langsung terjerembab di tumpukan kayu dan kayu yang disusun rapih pun langsung hancur berantakan dan menimpa prajurit dibawahnya dan orang yang menabraknya.
BRAKKK.....
Suara nyaring tumpukan kayu jatuh langsung mengalihkan perhatian para budak yang sedang menebang kayu dengan kapak. Para budak terlihat menyedihkan, dengan baju yang compang-camping dengan tubuh penuh luka benda tumpul atau tajam yang menggores dikulit mereka, serta rantai yang mengikat dipergelangan kaki mereka. Hal ini menyulitkan untuk para budak melarikan diri dari tempat itu.
Aquila yang melihat mereka semua dari atas hanya bisa mengepalkan tangan dengan erat, suara berisik dari orang-orang yang ingin menangkapnya semakin keras.
"Anak kurang ajar...! Turun kau sekarang...!" Aquila hanya menatap datar namun sorot matanya memperlihatkan kemarahan yang sangat jelas.
"Oh, ternyata kamu seorang penyihir. Pantas saja kamu sangat sombong." Kata orang yang berpakaian mewah dan mengelus janggutnya yang tebal.
"Aku bukan penyihir, aku hanya anak biasa yang sering dipanggil yang mulia." Sanggah Aquila sambil membenarkan poninya yang berantakan terkena angin sore.
"Anak kecil seperti mu berani berbohong dengan tuan bangsawan ini? Tunggu saja dan lihat, apakah kamu masih mau berbohong?" Katanya menantang dengan nada yang sombongnya. Lalu bangsawan yang berjanggut penuh itu segera membuat rune pemanggilan.
Cahaya ungu gelap keluar dari rune yang dibuat, lalu muncul laba-laba besar dengan kaki panjang dan tajam, taring berwarna merah mencuat dari mulutnya, kedelapan matanya berwarna serupa dengan taringnya yang merah. Dipunggung laba-laba itu terdapat rune budak berwarna ungu.
"Wahhh.... Aku takut sekali....!! Hanya bercanda." Lalu Aquila tertawa dengan mengejek bangsawan itu.
"Om muka rambut, kamu mendapatkan laba-laba kecil itu dari mana?" Sambil mengamati laba-laba itu.
"Beraninya kau menghina bangsawan ini. Archane..! Tangkap gadis tidak tau malu itu untuk ku...!" Laba-laba itu langsung melakukan perintah yang ucapkan oleh bangsawan itu.
__ADS_1
Seutas benang putih keluar dari ujung perut laba-laba Archane dan menembakkannya kearah Aquila yang tengah melayang. Aquila menggunakan sihir api yang telah dia kuasai sebelumnya dan menembakkannya kearah benang putih.
kepulan asap terlihat sedikit dari api yang dilontarkan Aquila sebelumnya dan segera membakar habis benang laba-laba. Laba-laba Archane melompat kearah Aquila, dan dengan sigapnya Aquila menghindar dan turun kembali untuk memijak tanah.
BUUMMM....
Laba-laba Archane kembali ketanah dan langsung menyerang Aquila dengan kaki depannya yang tajam. Dengan sigap Aquila mengambil pedangnya yang tersembunyi didalam kalung dimensinya dan langsung menangkis kaki laba-laba yang tajam itu.
TRANGG....
Benturan benda yang terbuat dari logam dan menimbulkan sedikit percikan api. Kaki lain laba-laba menyerang Aquila dari samping dan Aquila segera menghindar dengan salto kebelakang.
Rambut hitam Aquila berkibar dan lonceng yang terpasang di rambutnya bergema sesaat. "Lumayan juga peliharaan mu om muka rambut, berikan pada ku ya?"
"Dalam mimpimu, serang dia....!!!" Laba-laba Archane menyerang kembali Aquila namun dengan jaringnya yang lengket langsung mengarah ke Aquila yang masih bermain-main dengan pedangnya.
Dinding tanah langsung melindungi Aquila dari serangan laba-laba Archane namun naas, laba-laba itu malah menerkam pelindung tanah itu dan membuat taringnya masuk terperangkap didalamnya. Aquila yang berada dibalik perisai tanah itu merasa ngeri karena taring laba-laba itu menembus sampai dalam.
"Huuhh... Untung saja tepat waktu, kalau tidak aku sudah mati..." Ucap Aquila sambil bernafas lega. Lalu aquila keluar dari balik tanah dan mulai menggunakan sihir tanah miliknya untuk mengurung laba-laba yang terjebak diperisai tanah Aquila.
Laba-laba Archane tidak dapat bergerak karena seluruh tubuhnya tertutupi oleh lapisan tanah yang mengurungnya itu. Suara desisan laba-laba mulai menggema, dan suara benturan terdengar dari dalam tanah yang mengurung laba-laba Archane.
"Ternyata keras kepala juga, persis dengan tuannya." Sindir Aquila.
"Dasar hewan tidak berguna, aku membelimu mahal. Bukan untuk dikalahkan oleh gadis penyihir itu.....!!" Teriaknya dengan marah-marah sambil menginjak-injak tanah.
__ADS_1
"Om muka rambut, kalau sudah kalah tetap saja kalah. Jangan menyalahkan magical beast yang kamu kendalikan itu." Kata Aquila santai diatas kurungan tanah yang didalamnya terdapat laba-laba Archane.
"Diam kau.... tidak ada hungangan nya denganmu." Ucapnya dengan muka yang memerah menandakan kalau dia sangat marah dengan Aquila.
"Sayangnya, semua ada hubungannya denganku om muka rambut." Kata Aquila menggenggam pedangnya dengan erat.
"Dasar tidak tau sopan santun. Kamu masih berani memanggilku muka rambut sekali lagi. Bangsawan ini akan menjadikanmu budak yang sangat menderita." Katanya dengan sengit dan penuh ancaman.
"He he, ternyata ada yang berani mengancam yang mulia ini. Sepertinya kau orang rendahan lebih pantas dijadikan budak yang menderita." Kata Aquila tak kalah sengit dan sangat sombong.
"Lihat saja nanti!" Kata bangsawan itu sambil mengeluarkan cambuk yang dipenuhi duri dan langsung menyerang Aquila dengan membabi-buta kesegala arah.
"Om muka rambut, sepertinya perutmu dalam masalah." Kata Aquila sambil tersenyum sinis. Perut bangsawan itu memanglah besar dan setiap menyerang Aquila selalu terpantul seperti bola yang dipukul.
"Diam ka- ugh...." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, perutnya serasa dihantam oleh batu yang berat. Namun yang saat melihat perutnya, sebuah tangan dengan sarung tangan hitam dengan kain sifon pink yang menggantung disikutnya menghantam perutnya yang besar.
BRRAAKKK....
Pukulan yang mengenai perut besar bangsawan itu langsung mendorong jauh tubuhnya dan menghantam tumpukan kayu yang tidak jauh dari yang telah hancur sebelumnya.
"Uhuk..." Bangsawan itu terbatuk dan mengeluarkan makanan yang ada diperutnya itu namun perutnya masih terasa sakit dan punggungnya pun ikut terasa sakit akibat tabrakan dengan tumpukan kayu itu.
"Ugh... Menjijikan." Kata Aquila sambil menutup mulutnya dengan pandangan jijik dan menghina terhadap bangsawan itu.
"Diam kau. Kalian....!!! Kenapa hanya diam saja bantu aku berdiri dan hajar anak itu...!!!" Teriaknya kepada para prajuritnya yang terbengong dengan yang kejadian barusan.
__ADS_1
"Baik..!" Teriak mereka secara serentak dan dua orang prajurit langsung memapah bangsawan itu untuk berdiri dan kesepuluh prajurit yang lain langsung menyerang Aquila kembali dengan berutal.