
Sesampainya diruang makan, mereka berdua langsung memakan sarapan yang terlah disiapkan oleh Leave dan Minami. Aquila dan Shiro memakan makanannya dengan tenang.
Aquila yang telah menyelesaikan sarapannya lebih dahulu dan membereskan alat makanya sendiri, dan menyiapkan sarapan yang akan diantar ke Leave. Sedangkan untuk Minami, Aquila membuat bubur nasi kaldu ayam.
Setelah bubur kaldu ayam itu matang, Aquila meletakkannya dalam mangkuk porselen berwarna putih tulang dan tak lupa segelas air putih dalam nampan kayu.
Semuanya telah selesai, kini saatnya Aquila mengantarkan makanan tersebut. sesampai Aquila di kamarnya, Aquila meletakkan dinakas tempat tidurnya.
"Bagaimana keadaanya kak?"
"Keadaanya sekarang lebih baik, nona tidak perlu cemas." Leave menghibur Aquila.
"Syukurlah, kalau begitu aku akan melanjutkan membaca dan berlatih, kak Leave dan kak Minami jangan lupa memakan sarapan kalian." Kata Aquila sambil berjalan keluar kamar.
"Nona begitu baik, apa aku layak berdiri disampingnya." Minami cemas.
"Kamu tidak perlu cemas, walupun nona terlihat tidak perduli, tapi sebenarnya sangat perhatian. Percayalah." Kata Leave sambil menyuapi Minami dengan bubur kaldu yang Aquila buatkan.
Shiro yang masih menunggu Aquila didepan rumah sambil memainkan kayu yang ada digenggamnya. "Ayo berangkat." Suara Aquila mengagetkan Shiro.
"Kak, bisakah kakak tidak berteriak. Telingaku sakit tau." Shiro sambil memegangi telinganya yang berasa berdengung.
"Hehe, sekarang kita mau kemana?" tanya Aquila dengan semangat.
"Tentu saja didalam perpustakaan. Memangnya ada tempat lain lagi?" Kata Shiro dengan sombongnya.
"Aku tau kalau itu, apa tidak ada tempat lain lagi?" Aquila dengan penuh harap.
__ADS_1
Shiro mengerutkan keningnya bertanda bahwa ia sedang berpikir keras. "Aku rasa untuk saat ini tidak ada kak, lebih baik kita ke perpustakaan dan mempelajari sihir dan rune kuno." Ucap Shiro sambil berjalan kearah menara putih penuh ornamen yang berdekatan dengan gazebo Gardenia.
Memang tempat itu penuh dengan bunga Gardenia putih nan wangi, yang membuat siapapun betah untuk berlama-lama di sana.
"Bagaimana kalau berlatih pedang?" Saran Aquila.
"Boleh juga. Sudah lama aku tidak menggerakkan tubuhku." Shiro sambil melakukan pemanasan.
"Kalau begitu aku akan mengganti pakaianku dulu, jangan menduluiku ya." Aquila berlari kearah rumah yang tidak terlalu jauh dari gazebo Gardenia itu. Tidak memerlukan waktu yang lama, Aquila pun telah mengganti pakaiannya dengan baju karate warna putih dengan sabuk warna putih pula.
Kemudian Shiro melakukan pemanasan dan Aquila pun mengikuti pemanasan yang dilakukan Shiro, sebenarnya Aquila atau Dita di bumi adalah seorang karate dengan sabuk hitam serta seni bela diri yang diajarkan oleh ayahnya dulu.
Namun tubuh Aquila masih lemah meskipun sudah diperkuat oleh Dewi Callista, namun tetap saja menurutnya masih lemah, baru beberapa putaran dari menara ke paviliun sudah membuatnya kelelahan.
Jarak antara paviliun dengan menara sekitar lima ratus meter, memang wajar saja bagi Aquila yang sama sekali tidak pernah berolahraga sedangkan keluar dari dari kamarnya sendiri tidak pernah. Walaupun keluar dari ruangannya sendiri harus dengan kakeknya, jika tidak hinaan secara lisan atau fisik selalu menghampirinya.
Rasa perih ditangannya ia abaikan, semangat nya masih membara untuk menguasai tahap dasar. Dalam setengah hari, Aquila telah menguasai tahap dasar membuat Shiro tercengang. Sebab baru kali ini dia melihat seseorang menguasai tehnik dasar ber pedang secepat ini, membuatnya iri saja.
Bagi orang biasa memerlukan waktu setengah tahun atau lebih untuk menguasai tahap dasarnya itu dianggap sebagai jenius, lalu Aquila dianggap apa bila menguasai tehnik dasar berpedang dalam setengah hari?
"Kak, lebih baik sekarang istirahat dulu. Lalu kita lanjutkan tahap menengah." Saran Shiro yang telah berhenti mengayunkan pedang kayunya, melihat Aquila yang masih mengayunkan pedangnya dengan semangat.
Aquila yang mendengarkan seruan Shiro menghentikan latihannya dan meletakkan pedang kayu itu dibawah pohon. Lalu menyusul Shiro yang telah mendahuluinya, meski hanya lari kecil Aquila telah menyusul Shiro dan mereka pun jalan bersama kearah rumah klasik itu.
Sesampainya didepan rumah, Aquila membuka pintu dan diikuti juga oleh Shiro untuk memasuki rumah. Mereka berdua disambut oleh Leave dan Minami.
Leave memberikan handuk kecil untuk menyeka keringat yang membasahi wajah Aquila, ia menerimanya dengan senang hati. Sedangkan Shiro entah pergi kemana.
__ADS_1
"Apa kak Nami sudah mendingan ?" Tanya Aquila sambil duduk di sofa dan meminum air putih hingga tandas. Memang terkesan tidak sopan, tapi memang inilah dirinya.
"Aku sudah baikan, jangan risau kan aku aku. Aku baik-baik saja." Kata Minami meyakinkan.
"Syukurlah kalau begitu. Aku akan mengganti pakaianku dulu." Aquila beranjak dari duduknya dan berjalan kearah lantai dua tempat kamarnya berada.
Saat Aquila sudah pergi, Shiro pun keluar dari dalam kamarnya dalam sosok kucing, dan menegok kanan dan kirinya mencari keberadaan kakaknya itu.
"Dimana kak Aquila, padahal baru aku tinggal sebentar." Sambil mengibaskan ekornya yang berbulu lebat itu, lalu Shiro menaiki sofa dan duduk diatasnya.
"Nona masih mengganti pakaiannya tuan." Jawab Minami dengan sopan.
"Hemmm, oh iya apakah kamu sudah mengetahui sebab segelmu terbuka Minami?" Tanya Shiro penasaran.
"Sudah tuan, pemicu lepasnya segel dalam diri saya adalah nona tuan."
"Kenapa nonaku bisa melakukanya?" Tanya Leave tidak yakin.
"Itu mungkin saja, menurutku kak Aquila itu istimewa dan penuh teka-teki. Aku juga penasaran dengan lepasnya semu segel dalam tubuhnya kak Aquila." Ucapan Shiro yang disetujui juga oleh Minami.
Minami juga sudah berusaha sejak dulu untuk membuka salah satu segel light elf dan dark elf dalam tubuhny itu, namun baru sekarang terbuka segel pertama dan masih ada sembilan lapis segel dalam diri Minami yang belum terbuka.
Beberapa saat kemudian, Aquila turun dari tangga dan menghampiri mereka bertiga yang tengah asik bercerita. Aquila yang melihat Shiro dalam bentuk kucingnya langsung menggendongnya dengan muka yang aneh.
"Kakak, turunkan aku!" Shiro sambil meronta dalam pelukan, Aquila mengabaikan pergerakan Shiro dan langsung duduk di kursi makan. Aquila menurunkan Shiro ditempat duduknya sendiri.
Aquila mengabil makanan yang telah disiapkan oleh Minami dan Leave dengan senag hati menerimanya. Tanpa sengaja Aquila melihat mata Minami yang berbeda warna dengan sebelah kanan berwarna putih keperakan dan sebelah kiri berwarna hitam pekat.
__ADS_1
"Mata kak Nami indah sekali, sama dengan milikku dan Shiro, namun berbeda warna." Kata Aquila antusias dan kagum.