
Pendar cahaya kecil menjadi pelita di tengah gelapnya reruntuhan istana Candana. Sebuah lorong yang cukup panjang dengan ornamen relief yang menakjubkan untuk menceritakan sebuah keindahan negeri yang sekarang hanya menyisakan kenangan kelam.
Setelah menyusuri lorong yang cukup panjang, kini Aquila telah sampai disebuah altar dengan patung serigala dan seorang Dewi dengan rune bunga yang menandakan kalau dia adalah sang Dewi cinta.
"Sudah sampai sejauh ini, tinggal sedikit lagi...." Kata Aquila sambil meletakkan permata kehidupan milik Vent Leger di altar yang sudah penuh dengan debu.
"Terbukalah sebuah harapan,
Terbentuklah sebuah kehidupan,
Cahaya dan kegelapan menyatu,
Menjadi simfoni yang tidak akan berakhir,
Permohonan aku sampaikan,
Untuk kembalinya sang pilar yang telah menghilang." Aquila mengucapkan keinginannya dengan sepenuh hati dan menyalurkan seluruh mananya ke permata kehidupan milik Vent Leger.
Setalah cukup lama Aquila menyalurkan mananya dan mana nya sekarang sudah mencapai akhir dan akan habis. Aquila merasakan sakit yang mulai menjalar di dadanya dan berakhir dengan aliran darah keluar dari mulutnya.
"S-sedikit lagi..." Ucap Aquila dengan menguatkan dirinya sendiri dengan rasa yang menusuk di jantungnya.
Sebuah cahaya abu-abu keluar dari dalam permata kehidupan sedikit demi sedikit dan akhirnya seluruh batu kehidupan bercahaya seluruhnya, dan lama kelamaan cahaya yang keluar dari permata kehidupan membentuk siluet hewan berukuran kecil dan dalam sekejap mata berubah menjadi besar dengan tubuh yang gagah.
__ADS_1
Setelah semua itu berlalu, cahaya itu menghilang masuk dalam tubuh hewan itu yang ternyata seekor serigala dengan mahkota dan bertahtakan permata kehidupan yang melekat di kening nya. Matanya masih terpejam namun perlahan-lahan mulai terbuka dan memperlihatkan netra berwana perak.
"Syukurlah.... Aku rasa aku bisa istirahat sejenak..." Kata Aquila dengan suara lirih namun penuh dengan kelegaan atas keberhasilannya membangkitkan salah satu pilar yang sudah tiada.
Serigala itu masih terdiam di altar dan mencerna apa yang baru saja terjadi pada dirinya yang sudah tertidur dalam dunia yang damai.
Bruk...
Suara benda jatuh membuat serigala itu tersadar dari lamunannya dan mengalihkan perhatiannya pada suara jatuh yang tidak jauh dari tempatnya berada. Dan yang dia lihat seorang gadis dengan rambut bersurai perak tergeletak dengan wajah pucat dan aliran darah menghias dagu yang membentuk garis lurus.
Serigala itu yang tidak lain adalah Vent Leger sang pilar angin langsung turun dari altar yang dia dibangkitkan dan menghampiri Aquila yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kenapa aroma manusia ini sangat mirip dengan Catarino dan yang lain?" Tanya nya terheran sambil mengendus karena penasaran.
Ditengah kebingungannya, seekor ular ungu dengan ukuran sedang langsung menyerang Vent Leger dengan membuka mulutnya lebar memamerkan taring yang tajam. Merasakan bahaya yang mengancam diri nya, Vent Leger langsung menghindar dan menggeram waspada.
"Hei.... Adrian...!!!! Kenapa kamu meninggalkan aku hah....!!!" Teriak Shiro yang masih didalam lorong yang gelap.
Shiro tidak bisa melihat didepannya karena cahaya yang menyinari tempat itu menyilaukan matanya yang masih menyesuaikan dengan lorong gelap. Dan sesampainya di tempat yang Shiro dan Adrian tuju, berdiri seekor serigala yang menatap Adrian tajam dan Adrian menatap tajam pada serigala itu.
"Catarino? Kamu kah itu?" Tanya Vent Leger memastikan.
"Iya, itu memang nama ku, dan kau..." Jawab Shiro sambil mengamati serigala yang menatap lekat diri nya penasaran.
__ADS_1
"Tunggu.... Aura ini.... Kau Eger?" Ucap Shiro yang sangat terkejut karena yang dia kira sudah tiada dan tidak dapat kembali lagi ternyata sudah berada dihadapannya tanpa meninggalkan bekas luka dan bulunya terlihat lebih halus dengan motif angin yang sudah menjadi ciri khas dari Vent Leger.
"Ini aku, bukankah seharusnya aku sudah meninggalkan tempat ini, tapi kenapa aku bisa kembali lagi?" Ucapnya mengiyakan perkataan Shiro, dan juga Vent Leger sangat terkejut dan bahagia dengan kembalinya dirinya untuk berkumpul dengan para saudaranya yang lain.
Shiro langsung berlari kearah Vent Leger dan menubruk tubuh serigala yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya, dan lamunan nya langsung buyar karena pelukan Shiro yang mendadak menurutnya.
"Syukur lah, aku kira aku tidak bisa melihatmu kembali." Kata Shiro terharu bahagia.
"Aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu Kembali, tapi siapa manusia itu dan ular ungu yang menyerang ku itu?" Tanya Vent Leger penasaran.
"Kamu tidak mengenal Adrian? Ular ungu itu adalah Adrian!." Kata Shiro dengan nada sedikit tinggi karena serigala yang ada dihadapannya itu tidak mengenal Adrian sang pilar malam.
"Aku tidak bisa merasakan aura dari nya, wajar saja bila aku tidak mengenalnya." Kata Vent Leger menjelaskan karena memang dia tidak bisa merasakan aura dari ular ungu yang mendesis mengancam pada dirinya.
"Lalu dimana kak Aquila?" Tanya Shiro sambil mengamati sekitarnya yang terang dibagian altar tetapi selain itu hanya kegelapan saja.
"Apa yang kamu maksud itu manusia yang di lindungi oleh Adrian?" Tanya Vent Leger sambil melirik ular ungu yang tidak lain Adrian yang memandanginya dengan permusuhan.
Shiro langsung melihat sekelilingnya dan melihat Adrian yang sembunyi di kegelapan dan hanya memperlihatkan kepalanya saja. Kemudian Shiro langsung berjalan cepat kearah Adrian yang waspada, dan benar saja dia melihat Aquila yang tergeletak lemah dan wajah pucat.
"Kenapa kamu sangat perhatian sekali dengan manusia itu, semua manusia itu sangatlah busuk dengan penuh tipu muslihat." Ucap Vent Leger dengan nada yang curiga, menandakan kalau dia sangat membenci semua manusia yang hidup di dunia Callista.
"Aku mengerti apa yang kamu rasakan, Eger. Tapi jangan samakan kakak kita dengan manusia yang pernah menyakitimu dan memperbudak saudara kita yang lain. Aku harap kamu tidak memandang kak Aquila sama dengan mereka." Kata Shiro memperingati Vent Leger karena kebenciannya terhadap manusia yang masih melekat dalam jiwanya.
__ADS_1
"Buat apa? Dan manusia itu bukan kakak kita. Paling juga kita hanya dimanfaatkan saja oleh manusia keji itu." Kata Vent Leger yang keras kepala karena kejadian yang dialaminya.
"Terserah kau Eger. Asal kau tau, dialah yang menyelamatkanmu dan membangkitkan mu kembali dengan pengorbanan yang dia lakukan. Aku harap kau mengerti Eger." Kata Shiro sambil mengendong Aquila di punggungnya dan Adrian yang masih menempel erat ditubuh Aquila, lalu meninggalkan Vent Leger yang masih belum menerima kenyataan kalau dia di bangkitkan kembali oleh manusia yang di bawa oleh Shiro dan Adrian.