Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 97


__ADS_3

Setelah kejadian memalukan tadi, Aquila hanya bisa terdiam dan terus berjalan mengikuti arah Minami yang berjalan di pemukiman rakyat Tayounokuni. Rumah-rumah sederhana berjajar dipinggir jalan utama dengan berbagi jenis pohon yang menyejukkan disiang hari meski sekarang hanya daun-daun muda yang baru saja tumbuh.


Orang-orang yang melihat kehadiran Aquila dan kedua kakaknya langsung melakukan oguji sebagi bentuk hormat kepada mereka. Aquila hanya bisa diam dengan wajah datar tidak perduli dengan sekitarnya. Akan tetapi Minami dan Leave lah yang menyapa mereka dengan senyum ramah.


Setelah menyusuri jalan yang berlapis batu alam, dan tibalah mereka disebuah tempat dengan pohon wisteria yang tumbuh dengan subur dan ditengah rimbunnya pepohonan terdapat kuil yang tidak terlalu besar namun terasa menyejukkan dan penuh dengan kedamaian rohani.


Aquila langsung memasuki kuil itu dan Leave serta Minami menunggunya diluar sambil menikmati pepohonan yang sedang bertunas dan beberapa kuncup bunga yang baru saja terlihat.


Didalam kuil Aquila merasakan kemurnian mana yang berada dalam kuil itu, lalu Aquila langsung duduk menghadap sebuah altar doa untuk memanjatkan doa pada sang maha kuasa. Dan dalam sekejap kesadaran Aquila menghilang dan kembali tersadar di sebuah tempat yang sangat indah meski pun tempat itu penuh dengan kegelapan namun cahaya bintang dan galaksi begitu memukau.


"Bukankah malam berbintang itu sangat menakjubkan?" Sapa sebuah suara yang tidak terlalu asing bagi Aquila, namun ia melupakannya.


"Ya, Memang sangat indah, dan kenapa aku bisa sampai disini?" Tanya Aquila dengan nada terheran.


"Apa salahnya bila diriku bertemu dengan seorang Messiah dan juga dia juga merupakan anakku sendiri?" Ucap sang Dewi Amaterasu dengan tersenyum.


"Bukan masalah, dan juga memang aku sedang berkunjung ke kuil mu. Bukankah ada hal yang penting sehingga dirimu membawaku kemari?" Tanya Aquila dengan menyentuh poin utama tentang dirinya dipanggil ke alam lain, dan tentu saja pertanyaan blak-blakan Aquila membuat sang Dewi cemberut.

__ADS_1


"Sifat mu masih tetap saja ya, tapi setidaknya berikan aku senyuman manis mu dan biarkan aku melepaskan rindu ku ini. Aku sangat iri dengan Orunmla, kenapa dia bisa bertemu dengan mu dengan waktu yang lama." Ucap sang Dewi dengan wajah kesalnya.


Aquila tidak bisa berkata apa, dengan terpaksa juga Aquila memberikan senyuman yang cukup kaku. "Ahh.... Apakah anakku bari saja tersenyum padaku? Betapa bahagianya aku.."Ucap sang Dewi sambil memeluk aquila dengan senyum bahagia yang tidak luntur dari wajahnya yang cantik.


"Jadi, bisakah kamu memberitahukan intinya pada ku?" Raya Aquila langsung membuat sang Dewi melepaskan pelukannya dan menatap mata Aquila dengan tajam.


"Baiklah, dengarkan aku wahai Messiah, perang akan terjadi dan akan menyerang kerajaan yang engkau tinggali saat ini. Lindungi mereka dengan segenap jiwa mu. Terserah dirimu mau melakukan apa untuk melakukan apa. Dan ingat, negeri yang kamu tinggali saat ini sangat membenci namanya pertumpahan darah, berhati-hati lah, aku dan yang lain selalu mengawasi mu dan kami semua menyanyangi mu anakku." Ucap sang Dewi dengan serius dan kemudian setelah mengatakan semua itu, sang Dewi mencium kening Aquila dan menghilang ditelan kegelapan langit malam.


Dan dalam sekejap, kesadaran Aquila telah kembali dalam raganya dengan nafas yang tersengal seperti baru berlari. "Aku akan berusaha sebisa yang aku mampu." Ucap Aquila dan langsung berdiri dari depan altar dan keluar untuk kembali ke istana untuk memberitahukan kalau bahaya akan datang dalam waktu dekat.


"Kak kita kembali dan beritahukan pada seluruh rakyat kerajaan ini untuk bersembunyi ditempat aman. Perang besar akan terjadi dalam waktu dekat." Ucap Aquila dengan wajah yang serius.


Setelah perginya Mibami dan Leave, Aquila langsung merubah pakaiannya yang rumit menjadi pakaian yang biasa dia kenakan, yaitu zirah Wister yang selalu melekat ditubuhnya.


Aquila langsung pergi kemana pasukan Zuwei sendiri diketahui dari Minami dan Leave. Sedangkan Minami dan Leave pergi ke pemukiman rakyat Tayounokuni untuk mengalihkan pesan dari Aquila, bukannya didengarkan, mereka malah mengacuhkan Minami dan Leave dan bahkan mengatakan kalau ucapan kedua perempuan itu hanya menakut nakuti mereka.


Dan ada juga yang mengatakan kalau itu hanyalah kebohongan agar mereka dapat menguasai negeri mereka dengan mudah. Minami dan Leave diusir secara paksa dengan melempari mereka dengan batu.

__ADS_1


"Aku sudah memperingati kalian, bila ada sesuatu yang buruk terjadi jangan salahkan kita yang tidak memperingatimu!." Perkataan terakhir Minami sebelum pergi meninggalkan mereka.


Minami dan Leave pergi menuju istana, dan memberitahukan hal serupa pada sang raja. Namun tanggapan yang sama juga terlontar dari mulut sang raja, tentu saja dia mengatakan dengan sangat kasar.


"Pergilah, dan jangan kemari lagi. Aku menerimamu di istana ini karena permintaan yang Mulia Helios. Dan siap kalian yang juga berani memerintahkan ku untuk menurunkan prajurit ku untuk membatu mu berperang. Jangan harap aku akan tertipu dengan trik murahanmu!" Tolak sang raja.


"Baiklah, jika itu keinginanmu. Maka aku akan pergi dari sini dan jangan salah kan kami yang tidak memperingati mu yang mulia." Ucap Minami dengan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali.


Mereka berdua langsung menyusul Aquila yang sudah pergi untuk mengawasi pasukan kerajaan Zuwei yang berjalan kearah kerajaan Tayounokuni saja tanpa melakukan apa pun, dan juga dia menunggu kedatangan kedua kakaknya dengan santai.


Setelah menunggu mereka berdua cukup lama, Minami dan Leave datang dan mengatakan semua apa yang terjadi di kerajaan Tayounokuni setelah memberitahukan yang dikatakannya, namun hanya tolakan penuh hinaan yang mereka dapatkan dari rakyat dan raja Tayounokuni.


"Biarkan saja kak, kita sudah memperingatkan mereka. Mereka telah menganggap remeh apa kak Nami dan kak Leave sampaikan maka biarkan mereka merasakan akibatnya." Ucap Aquila dengan wajah acuh dan tatapan tidak perduli kearah pasukan Zuwei yang sedang berjalan menuju kerajaan Tayounokuni itu.


"Apa kita akan diam saja nona?" Tanya Leave dengan wajah penasaran.


"Ya, buat apa kita membantu, mereka sendiri tidak mau mendengarkan yang kalian katakan. Maka lihat saja pertunjukan dan mengawasi saja. Kita akan membatu mereka pada saat yang genting saja." Kata Aquila dengan suara yang datar.

__ADS_1


"Nona, bolehkah aku menyelamatkan anak-anak, mereka tidak tau apa yang terjadi dan tidak pantas untuk dibunuh." Tanya Minami penuh harap sebab dia sangat menyukai anak-anak.


"Tentu saja, lakukan apa yang ingin kak Nami lakukan, aku tidak akan menghalangiku." Minami senang dengan keputusan nonanya itu, dan dalam sekejap Minami menghilang dari hadapan Aquila dan Leave.


__ADS_2