
Rembulan sudah tidak menapakkan dirinya dimalam yang sunyi, hanya bintang yang bertaburan dilangit hitam untuk menerangi sang bumi dengan cahayanya yang lemah. Namun sinarnya selalu ada di angkasa untuk sebagai petunjuk arah bagi nelayan disamudara yang sangat luas.
Begitu juga dilautan pasir, memerlukan sang bintang agar menjadi petunjuk bagi sang pengelana yang ingin melintasi lautan pasir yang dingin.
Malam yang tenang telah berlalu dengan selimut kegelapan yang sunyi, bahkan suara serangga pun tidak terdengar seakan takut untuk mengeluarkan suara nya di malam yang tenang dengan bulan sabit yang tergantung diujung langit yang mulai jernih.
Sang mentari telah muncul di ufuk timur, memancarkan sinarnya yang hangat untuk memberikan semangat bagi mahluk hidup yang akan melakukan aktifitasnya dihari yang cerah.
Dan suara berbagai aktifitas juga terdengar sangat samar, namun masih terdengar jelas. Dan terutama dikediaman bangsawan Sehetpra yang sibuk mempersiapkan acara rumah pelelangan Amoon yang diadakan pada hari ini.
Hal yang begitu berisik tentu saja membuat seorang gadis merasa jengah dan jengkel, namun apa daya dia adalah seorang tamu yang sedang menumpang tidur.
Dengan terpaksa Aquila bangun dari tempat tidurnya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang sedikit kaku. Setelah selesai, Aquila langsung memakai zirah Wister yang sangat pas ditubuhunya.
Rambut basah Aquila dibiarkan tergerai dengan tetesan air yang jatuh dari ujung rambut hitam malamnya. Aquila berjalan kearah kasurnya yang masih acak-acakan dan melihat ketiga hewan berbeda spesies yang sedang tertidur pulas.
Tok! Tok!
"Nona, ini Minami."
"Masuklah kak Nami, pintunya tidak terkunci." Sahut Aquila yang masih mengamati ketiga hewan itu yang tidak lain adalah para pilar dunia Callista.
"Nona, tumben sekali nona sudah bersiap. Biasanya nona masih bergulat dengan selimut." Kata Leave dengan nada menggoda.
"Hari ini sangat berisik, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak kak. Dan dimana ular kecil itu kak, bulakannya dia aku berikan padamu?" Tanya Aquila sambil mencari keberadaan magical beast ular.
"Apa nona ingin tahu, setelah nona memberikannya pada ku, dia langsung pergi dan malah mengikuti tuan muda Sehetpra itu sampai sekarang dan tidak kembali lagi." Ucap Minami dengan nada yang sedikit kesal.
"Nona, apa nona mau mengikuti acara lelang dari keluarga Sehetpra?" Tanya Leave sambil mengeringkan rambut Aquila yang basah.
__ADS_1
"Jujur saja aku ingin melihatnya, tapi aku tidak suka kalau bertemu dengan banyak orang." Ucap Aquila sambil mengelus bulu halus Shiro yang sedikit kusam.
"Nona, tenang saja. Mereka sudah mempersiapkan tempat privasi untuk nona tempati. Terutama tuan muda Sehetpra itu yang mengusulkan pada ayahnya." Ucap Minami dengan wajah berbinar. Sebab, dia ingin melihat acara lelang itu, dengan bertujuan menemukan peninggalan kerajaan light elf dan dark elf.
"Kalau begitu aku bisa tenang membawa mereka bertiga. Dan tentu saja agar orang yang menginginkan kak Leave tidak terpancing." Ucap Aquila dengan bernafas lega.
"Tenang saja nona, aku bisa membela diriku dan mengalahkan mereka dengan mudah." Ucap Leave dengan sombong.
"Kak Leave, jangan sombong. Kita tidak tau rencana apa yang mereka lakukan untuk menagkap mu." Tegur Aquila kepada Leave.
"Maafkan aku nona, aku telah melupkan hal sepenting itu. Tapi tenang saja nona, aku tidak akan lengah terhadap para manusia di dunia ini."
"Ya, baiklah, terserah kak Leave saja. Oh iya kak Nami, aku meminta tolong kepadamu." Kata Aquila dengan tersenyum tulus.
"Ada apa nona, katakan saja." Ucap Minami dengan antusias. Lalu tangan Aquila meminta nya untuk mendekat.
"Tolong siapkan aku air hangat. Dan juga jangan sampai ketahuan oleh mereka" Ucap Aquila sambil berbisik. Lalu Minami langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Apa yang akan nona lakukan?" Tanya Leave penasaran. Aquila hanya menangagapi pertanyaan Leave dengan senyum jahilnya.
"Kakak akan tau nanti setelah mereka bangun." Ucap Aquila dengan senyum yang aneh.
Leave hanya bisa terdiam karena tidak mengerti dengan rencana nonanya itu, dan Leave melanjutkan kegiatannya untuk mengepang rambut Aquila agar sesuai dengan model yang populer di kerajaan Zuwei bagi kalangan para gadis bangsawan.
Minami datang dengan wajah cerah dan langsung mendatangi Aquila. "Nona, air yang non inginkan sudah aku siapkan." Bisik Minami.
"Baiklah. Terimakasih kak Nami." Ucap Aquila dengan nada puas dan senyum jahil yang mengembang dengan sangat lebar.
Leave hanya bisa mempertanyakan semua pertanyaannya dalam pikirannya, walaupun dia ingin mengetahui rencana nonanya itu hanya sebuah senyuman menjadi sebuah jawaban.
__ADS_1
"Kak Leave, apa sudah selesai?" Tanya Aquila yang mengagetkan Leave yang tengah melamun.
"Sudah nona." Jawab Leave dengan linglung karena terkejut.
"Baiklah, kak leave dan kak Nami, tolong buatkan sarapan untukku dan mereka. Jangan terlalu terburu-buru ya...." Ucap Aquila sambil mendorong Leave dan Minami keluar dari dalam ruangan itu.
"Ada apa dengan nona?" Tanya Leave dengan penasaran.
"Jangan dipikirkan nona. Biarkan nona Aquila melakukan nya dengan fokus." Jawab Minami yang tidak membuat rasa penasaran Leave terhapuskan dari benaknya.
"Ya baiklah, asalkan itu tidak membahayakan keselamatan nona." Ucap Leave pasrah dan mereka berdua pergi menuju dapur dan membuat sarapan untuk mereka semua. Sebab Aquila tidak suka dengan rasa masakan para koki dari keluarga bangsawan Sehetpra yang dirasanya hambar.
Alhasil Aquila meminta Minami dan Leave membuat sarapan untuk dirinya yang sangat menyukai masakan dari kedua kakaknya itu.
"Sudah lama aku tidak melakukan, aku rasa kalian sangat menginginkannya." Ucap Aquila sambil mengepalkan jari tangannya dengan senyuman yang sulit diartikan. Bahkan bulu dari Shiro dan Rugiel berdiri dengan sendiri, seakan mengetahui bahaya akan datang.
Bahkan ketiga hewan nan lucu yang sudah dianggap Aquila sebagai bagian keluarganya yang berharga, selain Leave dan Minami.
Aquila langsung mengendong kucing, Griffin dan kura-kura kedalam kamar mandi tanpa sepengetahuan yang ada di gendongannya itu. Dan kemudian,
BYUUURRRR......
Cipratan air langsung keluar begitu saja dan membuat ketiga hewan itu langsung terbangun dari tidurnya karena air yang membasahi bulu mereka.
"Nyyyaawwww......, kakak.....! Kenapa kamu sangat tega sekali....!" Teriak Shiro dengan penuh kebencian.
"Kiiikkk......!!! Sayapku basah.... hiks...." Jerit Rugiel dengan mengepakkan sayapnya yang sudah basah dan menciptakan air karena kepakan sayapnya.
"......" Sedangkan Soleil hanya terdiam di temaptanya dan tidak melakukan gerakan.
__ADS_1
"Ha ha ha.... kenapa? Lihatlah bulu kalian yang penuh debu itu, dengan senang hati aku memandikan kalian." Tawa bahagia Aquila di atas penderitaan Shiro dan Rugiel yang belum menyadari kehadiran Soleil dengan aura yang lemah.