Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 68


__ADS_3

Deruan angin malam yang dingin ditengah gurun gersang dan hanya ditumbuhi kaktus yang jarang. Menyisakan teror tersendiri bagi mahluk hidup yang tinggal dalam ekosistem gurun.


Jarang terdapat makanan dan air, namun terdapat mahluk hidup yang mampu bertahan di gurun yang penuh keputusasaan yang setiap hari bagi yang lemah. Apa lagi bagi manusia biasa yang tidak bisa menyerap mana atau menjadi kesatria akan mati karena kehausan dan panas yang menyengat seakan matahari hanya sejengkal dari atas kepalanya.


Namun dimalam hari, gurun akan menjadi sangat dingin bahkan mampu membekukan tulang dan daging. Sangat kontras dengan siang hari. Namun itulah gurun yang telah ditentukan oleh sang maha kuasa atas segala-galanya.


Aquila tidak bisa tertidur malam ini, karena suara menggigil dari anak-anak yang tidak tahan dinginnya gurun. Melihat anak-anak yang kedinginan, Aquila mengeluarkan selimut dari kalung dimensinya untuk membantu anak-anak itu tertidur berdampingan dengan dinginnya udara.


Aquila pun menyelimuti satu persatu anak-anak itu yang berjumlah sepuluh orang dengan tujuh perempuan dengan tiga laki-laki. Setelah menyelimuti anak perempuan yang terakhir, tangan Aquila di pengang dengan erat.


"Terimakasih ibu." Gumamnya dalam tidur.


"Tidurlah, besok perjalan akan sangat melelahkan." Ucap Aquila sambil tersenyum lembut dan penuh kehangatan.


Setelah melepaskan genggaman tangan anak perempuan itu, Aquila langsung pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ketempat tidur yang sudah disediakan oleh Leave sebelumnya.


"Nona, ternyata kamu sangat perhatian." Ucap seorang pria dengan baju yang sudah comaoang-camping.


"Bukan urusanmu. Bukan seharunya dirimu tidak disini, kembalilah ke tempatmu dan teman-temanmu." Ucap Aquila dengan nada yang acuh.


"Nona, anda begitu sangat dingin tak tersentuh. Seharusnya nona beristirahat dan biarkan saya yang berjaga." Ucap pria itu.


"Apa perdulimu, terserah ku mau melakukan apa. Tidak ada hubungannya dengan mu tuan" Kata Aquila dengan dingin.


"Maafkan saya nona, perkenalkan nama saya Sehetpra Lufni. Saya putra dari pemilik lelang Amoon. Dan terimakasih telah menolong saya dan pengikut saya." Pria itu memperkenalkan diri namun Aquila mengabaikan pria itu dan pergi begitu saja.


"Nona tunggu saya.!" Teriak Sehetpra Lufni. Dan kemudian berlari untuk menyusul Aquila yang berjalan menyusuri tepi Oase.


Aquila hanya diam saja tidak menanggapi teriakan pria itu, menurut Aquila umur pria itu sama dengan kakaknya Erlando Aisar yang sekitar dua puluh tahunan. Itu hanya perkiraan Aquila.

__ADS_1


"Nona, tunggu saya." Ucapnya dengan nafas tersengkal-sengkal.


"Sangat lemah." Kata Aquila langsung menusuk relung terdalam dari pemuda itu. Namun segara dienyahkan ucapan Aquila yang menusuk itu.


"Maafkan saya nona, fisik saya memang sangat lemah sejak saya lahir." Ucapnya dengan nada yang kikuk.


"Pantas saja dirimu diculik." Kata Aquila asal, namun raut wajah Sehetpra Lufni langsung berubah menjadi murung.


"Nona tau dari mana, kalau saya diculik?" Tanyanya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Aku tidak tau, hanya menebak dari perkataan mu sebelumya." Kata Aquila cuek.


"Terimakasih atas pertolongan nona untuk membebaskan kami semua bersama anak-anak itu. Pasti orang tua mereka sangat menghawatirkan mereka semua." Ucapnya dengan tulus.


"Kenapa berterimakasih kepadaku? Bukannya kakakku yang menyelamatkan kalian semua?" Tanya Aquila heran.


"Kakak? Bukankah dia pelayanmu nona?" Ucap Sehetpra Lufni lebih terheran daripada Aquila.


"Uhuk... Uhuk...!" Sehetpra Lufni langsung terbatuk dan menutup mulutnya dengan tengannya. Lalu melihat tangannya yang sudah ternoda oleh darah.


"Hemoptisis? Sejak kapan kamu mengalami penyakit seperti ini?" Tanya Aquila sambil menyekal tangan Sehetpra Lufni.


"A-apa yang nona bicarakan. L-lebih baik nona menjauh dari saya, agar tidak ter- Uhuk..! Uhuk..!" Sebelum meyelesaikan ucapannya, batuk berdarah langsung memotong ucapan Sehetpra Lufni.


"Jangan berpikir aneh-aneh, lebih baik duduk. Biarkan aku mengobati mu." Ucap Aquila memaksa.


"T-tapi nona, kutukan dalam tubuh saya kembali kambuh." Ucapnya dengan sekali nafas.


"Kutukan? Pfftt.... Hahaha.... Kau sedang membuat lelucon? Jujur saja itu tidak sesuai dengan kondisi mu saat ini." Kata Aquila dengan tertawa terbahak-bahak, seolah sifatnya yang dingin telah hilang.

__ADS_1


"Nona, saya tidak bercanda, l-lebih baik nona menjauh dari s-saya." Ucapnya sambil mendorong Aquila agar menjauh.


"Dengarkan aku tuan muda. Itu bukan kutukan. Tapi itu penyakit dalam dan bisa disembuhkan." Ucap Aquila dengan wajah serius.


"Panasea yang mengatakan itu pada ayah saya." Ucapnya dengan nada sedih.


"Apa itu Panasea?" Tanya Aquila dengan polos.


"Nona, apa anda membuat lelucon?" Tanyanya dengan wajah yang tidak percaya.


"Tidak, jangan banyak bertanya. Katakan saja apa itu Panasea?" Ucap Aquila dengan memalingkan muka untuk menutupi rona pipinya karena malu.


"Panasea adalah pemimpin kuil dan Panasea mampu menyembuhkan semua kutukan dan penyakit. Namun aku tidak tau kenapa Panasea tidak bisa menyembuhkan kutukan yang aku miliki sejak kecil." Ucapnya dengan sedih.


"Omong kosong. Akan aku buktikan kalau itu bukan kutukan." Ucap Aquila dengan semangat.


"Terimakasih nona, tapi lebih baik nona tidur dan biarkan saya disini untuk menghindari yang lain agar tidak terkena kutukan saya. Nona apa yang anda lakukan?!" Tanyanya dengan panik.


"Diam. Duduklah yang tenang." Kata Aquila galak, kemudian rune dengan cahaya putih keluar dan menyinari tubuh Sehetpra Lufni dan membuat nya nyaman dan hangat diseluruh tubuhnya terutama paru-paru dan tenggorokannya.


"Kembalilah dan istirahat, besok perjalan kita sangat panjang. Dan ambil ini." Ucap Aquila dan melemparkan selimut kepada Sehetpra Lufni dan kemudian Aquila pergi meniggalkan tempat itu.


Sehetpra Lufni masih terkejut dengan apa yang terjadi dengan dirinya, dia belum merasakan rasa nyaman dan hangat dalam tubuhnya dan baru tersadar karena lemparan selimut dari Aquila.


"Te-terimakasih nona. Saya akan selalu mengigat atas bantuan anda." Ucapnya dengan rasa terimakasih. Aquila berhenti sebentar.


"Jangan dipikirkan, lebih baik kembali dan tidur. Perjalan kita besok sangatlah panjang." Ucap Aquila dan kembali berjalan.


Sehetpra Lufni masih terdiam dipinggir oase itu dan masih terus memandang punggung Aquila dengan tatapan yang memuja. Sebab baru pertama kali dia melihat gadis yang sangat baik dan tidak takut akan kutukan yang ia derita tetapi malah menyembuhkannya dalam sekejap mata dimalam itu.

__ADS_1


"Nona kamu sangat baik, meski sikapmu itu sangat bertolak belakang dengan ucapanmu. Dirimu sangat hebat diusia muda melebihi Panasea, siapa sebenarnya dirimu nona?" Ucapnya sambil melihat punggung Aquila yang sudah tenggelam di kegepan malam dengan cahaya bulan purnama yang indah.


Menjadi saksi bagi Sehetpra Lufni atas sembuhnya kutukan miliknya dan pertemuan dengan seorang gadis menolongnya dari penculikan dan kesembuhan atas kutukannya.


__ADS_2