Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 141


__ADS_3

Mentari sudah ada di atas cakrawala biru dengan sedikit awan menghiasinya, udara masih tetap dingin dengan tumpukan salju yang terlihat menggunung membentuk gurun salju yang luas di tundra dengan lumut kecil yang membeku.


Sayup-sayup pekikan elang terdengar, meski teredam oleh hembusan angin yang mengantar dua anak manusia yang salah satunya menunggangi seekor rusa putih bagaikan kristal yang tengah menuju daratan yang berwarna merah merona dan sedangkan salah satunya menuju tempat berwarna biru seperti permata Safir yang menawan.


"Sampai disini saja aku menemani mu, Sampai bertemu lagi saat itu terjadi." Kata Aquila kepada Rin dengan air mata yang membuat matanya berkaca-kaca.


"Dita... Aku tidak mau, kami ikut denganku saja ya?" Kata Rin memelas.


"Rin... Percayalah, semua ini akan baik-baik saja. Lagi pula tidak akan ada yang tau." Kata Aquila seolah tidak perduli dengan kegelisahan dari sahabatnya itu.


"Benar juga. Dan... Dimana para pembuat rusuh itu?" Tanya Rin penuh selidik.


"Tidur. Selalu saja begitu entah sampai dimana saudara mereka berkuasa atas wilayahnya. Dan jaga adik kecil ku itu." Kata Aquila sambil memperingatkan Rin tentang manekin Nix yang berada di balik jubah Rin yang juga ikut tertidur.


"Tentu saja, bila dia adalah adik Dita tentu saja akan menjadi adikku." Kata Rin dengan bangga.


"Terserah kau saja Rin. Cepat pergi sana." Usir Aquila kepada Rin, sedangkan Minami hanya bisa menahan tawa karena wajah Rin yang sebelumnya penuh dengan senyum berubah menjadi kain lecek.


"Jahat sekali, padahal aku masih ingin bersamamu." Kata Rin dengan murung.


"Baiklah, aku akan pergi, jaga dirimu aku akan memberimu pelajaran saat kita berjumpa lagi." Kata Rin menambahkan sambil melambaikan tangannya pada Aquila untuk salam perpisahan.


"Tentu saja, aku menantikannya." Kata Aquila menjawab ucapan Rin yang sudah pergi menjauh dari hadapannya itu dan tertelan oleh hamparan hutan Pinus yang sudah terlapisi salju yang putih.


"Nona, apa kita langsung kekaisaran Dahana? Tapi menurutku lebih baik kita bersembunyi sementara dan menunggu tuan Catarino sadar bersama dengan para pilar lainnya." Saran Minami yang menatap wajah Aquila yang belum lepas dari arah kepergiannya sang sahabat.

__ADS_1


Namun yang dilihat oleh Minami hanya wajah datar tidak ada emosi sama sekali, Yang terarah pada hamparan warna biru yang berada diujung pandangnya.


"Nona, kita harus pergi." Ucap Leave tiba-tiba, dan tentu saja membuat Aquila langsung menatap Leave dengan serius.


"Apa ada masalah?" Tanya Aquila.


"Iya nona, mereka sepertinya tengah mencari sesuatu, namun menurutku aura mereka sangat tidak bersahabat." ucap Minami kepada Aquila.


"Kalau begitu kebetulan sekali, aku ingin melakukan aksi kecil." Kata Aquila dengan wajah tersenyum sinis.


"Nona, apa tidak apa-apa. Kita tidak tau mereka dari mana." Kata Leave menasehati


"Tenang saja kak Leave. Dan kak Nami, apa mereka masih jauh dari sini?" Kata Aquila mematikan dengan serius.


"Kebetulan sekali, kita langsung bertemu orang-orang dari kekaisaran samudra." Kata Aquila dengan senyum sulit diartikan.


"Dimana pun nona pergi, aku akan selalu setia menemani nona."Kata Leave kepada Aquila.


"Kak Leave, aku menghargai kesetiaan kakak. Namun kali ini, Kak Leave pergi saja bersama kak Nami dan bawalah adik-adikku untuk mencari tempat yang aman." Kata Aquila dengan senyum manis berbeda dengan senyum sebelumnya yang terlihat penuh ambisi.


"Tapi nona, apa tidak apa-apa? Bukankah nona adalah target utama dari kekaisaran samudra?" Tanya Minami memastikan.


"Tentu saja, bukankah lebih baik membuat mereka kerepotan. Ha..ha... Aku sudah tidak sabar. Kalau begitu, aku pergi dulu....." Ucap Aquila sebelum pergi meninggalkan Minami dan Leave yang tengah membawa para pilar dunia yang masih dalam proses tidur panjang mereka untuk menyesuaikan dengan kekuatan dari sang penguasa daerah itu.


"Kenapa nona ku selalu saja berbuat seenaknya. Apa nona tidak memerlukan bantuan kita?" Tanya Minami pada Leave yang masih terus memandang tempat sang nona yang menghilang ditelan lebatnya hutan Pinus.

__ADS_1


"Apa kamu masih belum memahami nona Aquila Nami? Nona hanya tidak ingin melibatkan siapapun dalam urusannya, sebenarnya aku juga ingin membantu nona sebisa yang aku mampu." Kata Leave.


"Aku tahu nona, tapi setidaknya aku ingin membantu nona Aquila seperti nona yang membatu saat di kekaisaran selatan yang melindungi bangsaku." Kata Minami yang mengeluarkan keluh kesahnya pada Leave yang masih berwujud sang rusa kristal.


"Bersabarlah, suatu saat nanti nona akan memerlukan bantuan kita. Dan juga aku penasaran, rencana apa yang nona Aquila dan nona Rin lakukan hingga membuat mereka terlihat sangat berantusias." Kata Leave sambil berjalan lurus kearah lautan yang membahana dengan warna merah menyala yang ternyata adalah lava pijar.


Kecepatan gerak Aquila telah sampai dimana tempat Rin berada yang tengah dihadang olah prajurit kekaisaran samudra yang menuntut Rin meyerahkan manekin Nix yang tengah bersembunyi ketakutan dibalik jubah Rin.


"Berikan mahluk buas itu pada kami, dan kamu Nona saint, silahkan pergi lakukan tugasmu yang telah diberikan oleh yang mulia kaisar samudra." Ucap salah satu prajurit dengan congkak kepada Rin yang berwajah acuh merendahkan.


"Aku tidak mau, memang siapa kamu yang berani memerintah yang mulia seperti ku."Jawab Rin dengan menyombongkan gelarnya.


"Hei orang rendahan dari dunia lain. Seharusnya kamu itu melakukan setiap yang kami perintahkan. Serahkan binatang buas itu dan carilah sang Messiah itu. Lalu bawakan lah kepalanya pada yang mulia kaisar, atau binatang milikmu itu akan kami bunuh." Ancamnya pada Rin yang malah terlihat semakin sombong.


"Itu bukan tugasku. Aku tidak yakin, kalau kalian mampu membunuh temanku itu, bahkan kalian pun tidak mampu untuk menggores kukunya. Enyahlah dari hadapanku, dan jangan halangi aku." Kata Rin dengan aura yang tidak dapat dibantah.


Prajurit yang mengepung Rin pun langsung mundur dengan sendiri karena tidak tahan dengan aura yang dipancarkan Rin yang terlihat sangat kesal. Lalu Rin langsung pergi begitu saja tanpa melihat dibelakang yang terdapat prajurit yang berwajah pucat dengan keringat dingin yang menghiasi punggung mereka.


Prok... Prok...


Suara tepuk tangan yang begitu nyaring, namun tidak ada orang yang terlihat disekitar para prajurit kekaisaran samudra yang belum reda rasa tertekan mereka karena pancaran aura Rin, namun sekarang membuat rasa takut mereka semakin meningkat.


"Wah... Wah... Sungguh sangat berani, bahkan saint yang kalian panggil pun kalian rendahkan. Aku benar-benar tidak menyangka kalau akhlak mahluk dunia ini telah merosot sangat begitu tajam." Ucap Aquila yang tiba-tiba hadir dihadapan mereka.


"I-iblis...!!!"

__ADS_1


__ADS_2