Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 13


__ADS_3

Duke Albiyon hanya bisa melihat dengan nanar kepergian Aquila Aisar. Sedangkan para bangsawan wanita bertanya kepada suami atau kerabatnya tentang apa yang barusan terjadi.


Kemudian sang duchness menghampiri Duke Albiyon yang tengah terduduk dilantai yang dingin itu. "Sayang, apa yang terjadi?" sambil mendekati Duke Albiyon.


Duke Albiyon berdiri sambil memegangi lengan atasnya yang terluka dengan pisau yang masih menancap itu. Istri Duke Albiyon terkejut ketika melihat pisau yang menempel.


"sayang, siapa yang berani melakukan hal ini? kenapa kamu tidak menghukumnya sayang!?" Duchness merasa khawatir akan luka Duke Albiyon dan sekaligus geram akan perlakuan yang diterima suaminya.


"Kalau bisa, sudah sedari tadi aku merajam anak sialan itu." Dengan sorot mata yang penuh dendam.


"Tapi anak sialan itu bersama yang mulia Catarino, kalau tidak aku sudah memotongnya dan memberikan bangkainya kepada hewan lapar di hutan." jelas Duke Albiyon.


"Sayang, lebih baik kamu obati dulu luka ini, lain kali kita akan balas perlakuan nya nanti." Duchness sambil menenangkan Duke Albiyon yang terlihat sangat marah.


Kemudian duchness mengakhiri pesta yang berhenti akibat kejadian yang tak diduga itu. Segera para bangsawan membubarkan diri dan pulang kekediaman masing-masing.


Erlando Aisar pun pergi dari aula mension menuju kamarnya yang terletak tidak jauh dari aula. kemudian Erlando bergegas pergi untuk mengejar Aquila Aisar.


Erlando Aisar tau, bila dia meminta izin pada ayahnya, pasti tidak akan dibiarkan pergi untuk menyusul adiknya.


Erlando Aisar membuka jendela kamarnya dan didepannya terdapat taman yang luas, hal ini mempermudah untuk menyelinap keluar dari kediaman Aisar yang dijaga ketat itu.


Setelah sampai di tembok pembatas, Erlando melompati pagar yang tingginya tiga meter dengan bantuan pohon yang ditanam didekat pagar itu.


Setelah itu Erlando Aisar berlari kearah hutan Catarino untum menyusul Aquila Aisar.


Sesampainya di tepi hutan, Erlando Aisar melihat Aquila Aisar yang tengah duduk di batang pohon besar dan diselimuti cahaya yang lembut berasal dari rusa kristal yang tak lain adalah Leave.

__ADS_1


"Jadi, ada keperluan apa tuan, hingga jauh-jauh datang ke pinggir hutan yang menyeramkan ini?" Tanya Aquila Aisar sambil membelai Shiro.


Perkataan Aquila Aisar membuat Erlando terdiam, seolah-olah perkataan Aquila Aisar tidak mengenal kakaknya sendiri.


Kenyatannya memang benar, mereka tidak dekat. Bahkan Erlando acuh terhadap Aquila Aisar yang berusaha untuk dekat dengannya. Itu dulu, tapi tidak sekarang yang ada hanyalah pandangan tidak perduli dari Aquila Aisar.


"Bisakah kamu tidak memanggilku tuan, itu tidak membuatku nyaman." Kata Erlando sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Aquila Aisar hanya menautkan alisnya dengan tatapan heran. "Bukankah Anda menginginkan semua ini tuan?"


"Bukankah Anda menginginkan saya hilang dari hadapan tuan? Tapi mengapa anda rela jauh-jauh untuk menyusul saya di tempat yang jauh dari kemewahan anda tuan?"


"Jangan memanggilku tuan Aquila, panggil aku kakak. Aku minta maaf atas perlakuanku dulu. Jadi maafkan kakakmu ini, ya?" Erlando sambil menatap Aquila Aisar yang memancarkan raut wajah kecewa dan kesedihan.


Tak kuasa menahan tangis, Aquila Aisar melepaskan tangisannya sambil berlari kearah Erlando dan langsung memeluknya.


Erlando hanya bisa tersenyum kecut ketika teringat kelakuan terhadap adiknya, dan tidak bisa melindungi Aquila Aisar dari perundungan para maid maupun ayahnya. Hanya kakeknya saja yang melindungi Aquila Aisar dari kekejaman ayahnya itu.


Tapi yang membuat Erlando merasa bersalah terhadap Aquila Aisar adalah ketika dia mengetahui rencana keji ayah dan ibunya terhadap Aquila Aisar dengan menghancurkan kehormatan sang adik. Tapi dia tidak bisa melakukan apa pun.


Mengingat kejadian itu membuat Erlando menumpahkan air matanya dengan memeluk sang adik yang tengah menangis juga didalam pelukannya.


"Maafkan kakak yang tak bisa melindungi mu, maafkan kakak....." Isak Erlando.


"Ini semua bukan salah kakak, hiks... aku tau kakak yang selalu memberiku obat untuk luka-lukaku dulu hiks, aku tau kakak melindungi secara diam-diam hiks...." Aquila sambil menatap Erlando dengan air mata yang berderai dengan ingus yang ikut keluar dari hidungnya.


Erlando membelai kepala Aquila dengan sangat lembut. dan kemudian mengeluarkan saputangannya untuk membersihkan ingus yang keluar dari hidung Aquila Aisar.

__ADS_1


Sedangkan Shiro dan Leave hanya menatap mereka terharu tanpa ingin mengganggu kedekatan dua saudara yang sedang menangis.


Aquila Aisar tersentuh dengan perlakuan kakaknya dengan kasih sayang, yang selama ini Aquila Aisar cari, jiwa Dita merasa terharu dengan kasih sayang kakak Aquila Aisar itu.


saat ini jiwa Aquila Aisar yang menempati tubuhnya, akibat keinginan kuat untuk bertemu dengan kakaknya. Dita hanya membiarkan kedua saudara itu melepaskan rindunya. toh hanya sementara saja, pikir Dita.


Kemudian Erlando mengeluarkan sebuah kalung yang sama persis dengan milik Dita yang diberikan oleh ibunya pada saat ulang tahun yang kelimabelas tahun lalu.


" Kakak hanya bisa memberikanmu ini, hanya ini kakak punya. maafkan kakakmu yang payah ini." Kata Erlando sambil memberikan kalung dengan liontin seperti bulan sabit dengan bagian tengahnya terdapat bandul seperti tetesan air dengan warna biru laut yang indah.


"Ini bagiku sudah sangat cukup kakak, dengan ini aku akan selau mengingat kakak dimana pun." Aquila Aisar sabil mengenakan kalung yang diberikan kepadanya.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Baiklah, sudah waktunya aku kembali ke sana. Jaga baik-baik dirimu." Kemudian Erlando mencium kening Aquila Aisar dan berbalik arah dan akan meninggal kan Aquila Aisar yang tengah memandang kepergian sang kakak.


Saat akan melompat didahan pohon, Erlando merasa tertahan oleh pelukan Aquila yang sangat erat.


"Jaga baik-baik kesehatan kakak, aku hanya bisa memberikan ini saja." sambil memberikan cincin yang terbuat dari kristal yang didalamnya terdapat tumbuhan rambat yang indah.


Dan Erlando langsung memasangnya di jari manis tangan kanannya. Erlando terkejut, karena cincin pemberian Aquila mengisi mananya yang telah berkurang.


kemudian Erlando mengecup lagi dahi adiknya dan langsung pergi meninggalkan Aquila yang tengah melihat kepergian nya.


"Baiklah, kini saatnya aku kembali. Jaga diri kakak baik-baik. aku akan selalu merindukan kakak Erlando dan kakak Dita." Kata Aquila memudar dan diiringi kesadaran Dita.


Dengan kembalinya kesadaran Dita, suasana yang tadinya tenang menjadi riuh suara angin yang meniup dedaunan hutan.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang shiro?" Tanya Dita sambil menatap kearah depan.

__ADS_1


"Untuk saat ini, kita kembali ke menara yang ada dipusat hutan. Untuk membuka segel pada tubuh kak Dita dan melatihnya." Saran Shiro kepada Dita


Dita membalikan badannya kearah Shiro dan Leave yang tengah menatapnya. "saat ini aku akan mengunakan identitas Aquila Aisar, dan aku akan melatih tubuh ini dan menyelamatkan saudaramu." Dita dengan semangatnya dan berjalan kearah Shiro dan leave untuk memasuki hutan Catarino.


__ADS_2