
Kepulan debu menghilang, kini terlihat jelas sebuah ruang yang sedikit luas. Debu menempel dimana setiap mata memandang.
Sebuah Altar doa dengan sebuah patung dewa Ra yang kusam penuh dengan debu dan sarang laba-laba, menandakan kalau tempat itu telah ditinggalkan cukup lama.
Desiran angin terdengar dari celah berlubang dinding kuil yang lapuk, membawa butiran debu gurun Agris yang panas. Membuat siapa pun yang berada dalam ruangan itu ingin pergi segera mungkin.
"Apa ini ilusi atau kenyataan, kenapa aku merasakan hal yang menyakitkan dalam haatiku?" Kata Aquila sambil menekan rongga dadanya yang sakit.
"Aghhrr...." Suara yang begitu sangat lemah, yang membuat siapa pun ingin menangis karena ratapan itu.
"Soleil? Dimana kamu...!!!!" Teriak Aquila dalam keheningan kuil di samudra gurun. Namun hanya suara desiran angin yang menjawab suaranya.
"Tenang, jangan terlalu panik. Pasti ada petunjuk ditempat ini." Kata Aquila dengan berpikir positif.
"Tunggu! Bukankah kata kakak yang berada di hutan Roa kalau kuil ini terdapat jebakan? Mungkin saja ada pintu rahasia untuk sampai ditempat Soleil dengan aman." Ucap Aquila sambil mengamati setiap sisi dalam kuil dewa Ra.
"Patung?, Helios! bukankah dia adalah pilar berbentuk burung elang?" Pikir Aquila langsung berjalan ke altar yang berdiri dibelakang altar.
Dan betul saja, apa yang dipikirkan Aquila. Dibawah kaki patung dewa Ra terdapat sebuah kalimat yang berbahasa sama dengan Alkitab.
"Aku adalah sang mentari, menyinari seluruh negeri. Aku menjadi kehangatan di musim dingin dan menjadi kekacauan saat aku terenggut dari asalku. Tempatku berpijak kini menjadi gersang, kemudian lapuk dan membawaku kesebuah tempat yang tidak diketahui. Apa maks-" sebelum menyelesaikan kata terakhirnya.
Krak....!
Tepat yang dipijak Aquila runtuh dan memang, lubang itu membawa ketempat yang tidak diketahui. Didalam tempat itu sangat gelap dan pengap, namun api mulai hidup satu persatu menghiasi lorong yang gelap dan menjadi sumber cahaya.
Aquila menelusuri lorong yang diterangi oleh api yang berjajar rapih dipinggir lorong itu. Hingga sampailah Aquila disebuah pintu dengan relief kura-kura dengan tempurung seperti sayap burung serta sebuah simbol element tanah disisi kanan dan kirinya.
Dada Aquila semakin sesak, karena rasa sakit dan kesedihan yang tidak diketahui asal usulnya itu. Air matanya jatuh dengan sendiri seakan ingin menunjukkan rasa simpati dan kasih sayangnya.
"Kenapa aku menangis? Apa apa dengan diriku ini?" Ucap Aquila dengan terheran dengan perasaannya sendiri yang berkecamuk.
__ADS_1
"Aghhhrrr....!" Suara ratapan itu kembali terdengar, namun sekarang lebih jelas dari sebelumnya.
"Ternyata suara itu berasal dari sini, apa Soleil dikurung ditempat sempit seperti ini?" Tanya Aquila terheran.
Aquila mulai menelusuri pintu itu dengan seksama. Saat menyentuh relief kura-kura, sebuah rune langsung menghalangi tangan Aquila untuk menyentuh relief itu.
"Penghalang, ternyata orang yang mengurung adikku sungguh sangat berhati-hati. Tapi sayangnya itu tidak berlaku untukku." Ucap Aquila dengan tersenyum sinis.
Kemudian, Aquila mulai menarik nafasnya dan menghembuskan ya secara perlahan. Tangan Aquila terulur menyentuk rune itu dan mulai mengucapkan mantra pelepasan rune penggurungan.
"Semua yang tersembunyi akan terlihat,
bersabarlah dalam pengekangan,
biarkan lah cahaya masuk untuk menemanimu,
meski maut akan menjemputmu."
Rune penyegelan itu pecah seperti kaca yang dilempar batu dengan keras, dan pecahan rune itu berhamburan dan menghilang dan kemudian menguap seperti uap air di pagi hari dan kemudian menghilang.
Pintu yang sebelumnya menutup kini terbuka secara perlahan dengan suara deritan pintu yang sudah lama tidak pernah dibuka. Namun, pemandangan didalam ruangan itu sangatlah mengerikan.
Tulang belulang berserakan tidak beraturan, serta bau anyir darah begitu menyengat dan penuh dengan serangga yang begitu menjijikan dan tidak bisa dijelaskan seperti apa rupanya.
Banyak lendir yang bercampur dengan darah yang sudah menghitam, dan dengan serangga yang memakan sisa daging yang sudah membusuk dan menyisakan tulang putih dengan noda darah.
"Aku tidak menyangka kalau tempat ini begitu mengerikan,syukurlah aku tidak mengajak salah satu diantara mereka, mereka pasti akan pingsan ditempat." Ucap Aquila penuh dengan kelegaan.
Aquila terus menelusuri tempat yang sepeti pembuangan mayat itu dengan hati-hati. Aquila merasa sangat kasihan dengan mahluk hidup yang kini sudah menjadi tulang.
"Ha ha ha..! Aku tidak menyangka ada makanan datang ke tempatku..!" Suara tawa seorang pria yang mengerikan dengan aura haus darah yang pekat.
__ADS_1
Brukk...!
Pria itu jatuh dari langit-langit ruang yang gelap, dengan kaki sebagai landasannya. "Selamat datang wahai makananku. Bagaimana perjalananmu, sangat menyenangkan bukan?" Sapa pria itu dengan suara yang mengerikan.
Wajah pria itu tidak dapat dilihat karena ditutupi oleh rambut hitam yang acak-acakan dan tidak beraturan. Darah kering menghiasi tubuhnya dan di tangannya terdapat sebuah potongan kaki hewan.yang masih mengeluarkan darah.
"Cih! Sungguh manusia yang berubah menjadi iblis." Ucap Aquila dengan menghina.
"Ha ha ha...! Makanan! Apa yang kau katakan, apa kau tidak takut akan memasuki perutku!" Ucapnya sambil menggigit potongan kaki tadi.
"Buat apa aku takut dengan mu, aku hanya takut dengan Tuhanku, bukan mahluk biadab sepertimu." Ucap Aquila dengan sakarstik.
"Tuhan?! kau bercanda? Bahkan Tuhan pun tidak bisa mengalahkan ku!" Ucapnya dengan sombong.
"Sungguh sombong sekali, tidak heran kini menjadi binatang biadab dan dikurung." Ucap Aquila dengan wajah menghina.
"Makanan yang banyak bicara, lebih baik kau mati dan mengisi perutku yang lapar...!" Ucap pria itu langsung menyerang Aquila dengan kuku tangannya yang panjang serta menghitam penuh darah kering.
"Lakukan, kalau kau bisa." Kata Aquila dengan menantang.
"Aku akan merobek wajahmu! menarik ususmu! mengisap darahmu! ha ha ha! Aku pasti akan abadi..! ha ha ha!" Ucapnya dengan tawa bahagia dan menyerang Aquila dengan acak dan tidak beraturan.
"Heh! aku menjadi penasaran, apa kau bisa menyentuh ujung rambutku? sepertinya tidak tidak bisa." Ucap Aquila dengan wajah datar dengan hawa dingin yang menyelimutinya.
"Jangan lari kau..! Kemari dan biarkan aku memakan dagingmu yang harum itu...!" Teriaknya dengan kegilaan dan terus menyengat Aquila.
Aquila hanya menghindar serangan dari pria yang sudah berubah menjadi manusia dengan tubuh binatang serat terdapat dua tubuh manusia yang menjadi tulang. Kini wajahnya berubah menjadi tengkorak tanpa kulit dengan tengkorak buaya di kepalanya, hanya darah yang mengalir dan menetes di tanah.
Tetesan darah itu langsung menguap dan tanah yang terdapat darah itu langsung berlubang, yang menandakan kalau darah itu bersifat korosif.
"Biarkan aku memakan mu...!"Teriaknya dengan gila dan langsung menerkam Aquila dengan kukunya yang panjang dan tajam.
__ADS_1
Namun sayangnya, yang dia dapatkan hanyalah tumpukan kayu yang patah bukan orang yang diinginkannya. Dia langsung mencari keberadaan Aquila yang telah menghilang dari tempat itu.