
Vent Leger masih terpaku dalam ketidak percayaan akan kenyataan yang baru saja dia dapatkan. Tampilan Aquila sangatlah berbeda dengan kali pertama Vent Leger saat mereka berjumpa, hanya netra mata milik Aquila sangat mengintimidasi saat menatap netra mata yang berwarna merah darah.
Tanda bulan sabit di kening Aquila memancarkan cahaya samar setelah itu menghilang, saat Vent Leger memandang para saudaranya yang lain wajah mereka terlihat biasa saja dan tidak menunjukan keterkejutan meskipun hanya secuil.
"Ke-kenapa kalian tidak memberi tahu ku tentang semua ini?" Tanya Vent Leger dengan protes.
"Kau tidak bertanya." Kata mereka semua dengan serempak kecuali Adrian yang hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Sudahlah..! Rugiel, kamu tetap disini bersama Soleil, dia berada didalam kamarku. Dan Shiro, Helios, dan Eger, tugas kalian melepaskan tubuh utama milik Adrian. Aku akan menjadi pengalih agar kalian bisa masuk dalam istana. Apa kalian mengerti?" Tanya Aquila setelah melerai dan memberitahukan rencananya.
"Tapi kak Aquila, bukankah itu sangat berbahaya bila kak Aquila menghadapi para penjaga istana kekaisaran Zemlya, dan apa lagi dengan tampilan kak Aquila yang mereka anggap sebagai jelmaan iblis." Kata Helios.
"Heh.. Itu memang tujuanku. Aku ingin mereka semua menganggap ku seperti mereka inginkan." Kata Aquila dengan senyum yang tidak diketahui maksudnya, entah itu senang atau sedih.
"Kak, setidaknya biarkan salah satu dari kita ada yang mengikuti mu. Aku tidak mau kak Aquila kembali terluka." Saran Shiro.
"Terserah kalian. Aku tidak melarang salah satu dari kalian mengikuti ku. Dan juga jangan anggap aku lemah dan gampang terluka, memang mereka sanggup untuk sekedar memotong ujung rambutku." Kata Aquila dengan nada sombong.
"Tch, ternyata kakak kita sangat sombong." Kata Vent Leger dengan nada tidak suka.
"Aku akan ikut dengan kak Aquila. Tidak apa kan?" Tanya Helios dengan mengusulkan dirinya sendiri untuk mengikuti Aquila saat membuat kekacauan untuk mengalihkan perhatian para penjaga.
"Tidak masalah. Kalau begitu ayo berangkat...!!!" Ucap Shiro dengan semangat.
__ADS_1
"Kak Aquila, Rino, Lio, Adrian dan Eger, berhati-hati lah, Giel dan Leil akan menunggu kak Aquila untuk kembali dengan selamat." Kata Rugiel sebelum mereka semua pergi untuk menyelamatkan tubuh utama Adrian. Tidak, lebih tepatnya mengambil secara diam-diam.
"Tentu saja, kita semua akan kembali dengan selamat. Giel tetaplah disini bersama Leil." Kata Shiro sebelum pergi.
Setelah itu, Shiro, Vent Leger dan Adrian langsung pergi dan kemudian disusul Helios. Sedangkan Aquila masih di tempat, kemudian mengelus kepala Rugiel dengan penuh kasih sayang.
"Tetaplah disini, aku pastikan mereka tetap aman, aku akan kembali secepat mungkin." Kata Aquila sebelum pergi meninggalkan Rugiel yang berdiri di pintu rumah yang mereka tempati. Lalu Aquila pergi menyusul Shiro dan yang lainnya yang sudah mendahului Aquila.
"Kak Aquila, berjuanglah....!!" Teriak Rugiel setelah kepergian Aquila yang sudah ditelan gelapnya hutan yang ada di sekitar rumah yang mereka tempati.
Aquila menengok kan wajahnya sesaat dengan senyum kecil, lalu menghilang digantikan dengan senyum mengerikan dengan tatapan mata yang tajam siap membunuh yang menghalanginya.
"Bersiaplah kalian, aku akan mengambil apa yang seharusnya bukan milik kalian." Ucap Aquila dengan arogasi penuh dengan peringatan.
Penjagaan yang sangat ketat dan selalu ada yang berjalan menyusuri lorong istana tanpa meninggalkan kelonggaran dari pengawasan para prajurit yang berjaga. Namun semua kesiapan para prajurit yang berjaga langsung dikejutkan dengan ledakan yang sangat besar dan berasal dari gerbang utama istana kekaisaran yang terbuat dari logam mulia yang diukir dengan indah.
BBUUUMMMM.....!!!!
Kepulan asap dan debu masih terlihat jelas dan terdapat dua cahaya yang berbeda dari balik tirai asap dan debu yang masih menyembunyikan sosok yang bersembunyi di baliknya. Namun, dua cahaya yang berbeda warna itu sangatlah mengintimidasi dan membuat para prajurit yang mengerubungi kepulan asap dan debu berkeringat dingin meski pun saat itu adalah musim dingin yang menusuk kulit dan tulang.
"Tetap Waspada lah....! Kita tidak tau musuh yang ada dihadapan kita...!" Teriak salah satu prajurit dengan memegang tombak yang bergetar karena tidak mampu menahan ketakutan yang menyelinap di tekatnya.
"BAIK.....!!!" Teriak para prajurit yang lain dengan bersamaan dan penuh keberanian.
__ADS_1
Kepulan asap dan debu menghilang terbawa hembusan angin dingin, buliran salju turun satu persatu membentuk sebuah tirai tipis disekitar lubang ledakan sebelumnya. Rambut hitam malam berkibar bersama hembusan angin dingin, suara lonceng menderu meski teredam hembusan angin.
Mata dari sang pembuat onar masih terpejam dan tanpa ada niat untuk membukanya yang tidak lain adalah Aquila yang masih mengganti sekitarnya dengan bantuan element angin yang baru dia pelajari sebelumnya. Para prajurit yang ada disekitarnya langsung mengatakan mata tombaknya ke tubuh gadis yang berdiri di lubang yang menganga di batuan alam yang tersusun rapih.
Derap langkah kaki melangkah terdengar keras bersama dengan suara gesekan armor dan zirah bersama pedang atau perisai. Seorang lelaki dengan wajah garang dan kejam langsung menuju dimana asal keributan yang menganggu tidur nyenyak para anggota kerajaan yang sedang beristirahat.
"Siap kau, berani sekali membuat keributan di depan istana kekaisaran Zemlya ini?" Tanya sang jendral dengan ketidak sukaan yang ketara.
"...." Diam, tidak ada jawaban, hanya suara seruan angin dan gesekan ranting tanpa daun yang menjadi suara yang mewakili.
"Apa kau bisu?! Kalau begitu, biarkan aku membuatmu bersuara gadis kurang ajar." Kata sang Jendral kekaisaran Zemlya sambil mengajar pedang yang berada di pinggang sebelah kirinya.
Srriinngg....
Suar gesekan pedang dengan sarungnya terdengar sangat nyaring dan membuat siapapun yang mendengarkannya akan merasa ngilu akibat suara gesekan yang ditimbulkannya.
Jendral Kekaisaran Zemlya langsung menyerang Aquila dengan bilah pedang yang tajam yang sudah menghilangkan ribuan nyawa saat berperang. Aquila tidak menghindar, namun masih tetap terdiam iri ditempat yang sama dan tidak ada pergerakan sama sekali.
"MATILAH KAU.....!!!!" Teriaknya sambil mengibaskan pedangnya ke pangkal leher Aquila, mata Aquila masih terpejam langsung terbuka dan dalam sekejap pedang yang hampir menyentuh lehernya itu terpental jauh dan menimbulkan dentingan suara jatuh di ubin batu alam yang tersusun rapih.
Suasana yang sebelumnya mencekam, kini suasana itu bertambah kali lipat dengan hawa dingin yang jauh lebih berat, bahkan para prajurit yang mengelilingi Aquila tidak bisa bernafas dengan normal.
"I-IBLIS...!!! D-dia iblis......!!!!"
__ADS_1