Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 134


__ADS_3

"Kakak, apa kakak yakin dia sahabat kakak, bukan manusia yang jahat itu kan?" Tanya Vent Leger memastikan.


"Tentu saja, dia adalah sahabat ku saat didunia lama ku. Jadi percayalah pada nya seperti kamu mempercayaiku." Ucap Aquila sambil membelai kepala Vent Leger.


Vent leger mengangguk tanda mengerti, dan kemudian kabut tipis mengelilingi tubuhnya, dan kemudian berubah menjadi anak remaja laki-laki dengan rambut putih bergradasi dengan warna abu-abu perak yang sangat indah.


"Wah.... Imutnya.... Aku tidak sabar bila Coco jadi manusia sama seperti Eger ini." Ucap Rin dengan memeluk Vent Leger dengan sangat kencang, tentu saja wajah Vent Leger langsung mencium zirah yang dikenakan Rin.


"Le-pas..." Kata Vent Leger memberontak untuk melepaskan pelukan maut yang menyiksa nya itu.


"Dita... Awas... Ada ular di kakimu...!!!" Teriak Rin panik dan langsung melepaskan pelukannya pada Vent Leger dan menarik pedangnya dari tempatnya.


SSRRRIIINNGGGG.....


Vent Leger langsung bernafas dengan lega dan tentu saja sangat berterimakasih pada Adrian yang tiba-tiba muncul itu. Namun tidak bagi Rin yang sangat-sangat membenci hewan melata terutama ular.


"Rin....!!!! Tenanglah... Kenapa kamu sangat heboh bila melihat ular. Dan tentu saja dia bukan sembarang ular tetapi salah satu adikku juga." Tegur Aquila pada Rin yang sudah memegang pedangnya dengan gemetar.


"Kamu jangan bercanda Dita. Mana mungkin....!!!" Sanggah Rin dengan muka yang pucat.


"Baiklah, Adrian, berubah wujud mu sekarang. Dan jangan membuat Rin menjadi takut denganmu." Pinta Aquila pada seekor ular kecil dengan warna ungu cerah itu, dan kemudian kabut ungu langsung mengelilingi sama seperti Vent Leger saat berubah tadi.


Dan setelah kabut ungu itu menghilang, kini yang terlihat hanyalah remaja dengan rambut panjang berwarna ungu dengan sepasang tanduk kecil di keningnya, dan warna bibir ungu lavender terlihat sangat manis, dan tidak lupa dengan pupil mata vertikal miliknya.


"Kakak... padahal aku suka dengan bentuk asliku..." Kata Adrian dengan merajuk.


"D-d-dia berbicara?!" Ucap Rin dengan suara yang bergetar karena takut sekaligus takjub.

__ADS_1


"Tentu saja, aku ini kan sang pilar penguasa malam." Kata Adrian dengan membanggakan dirinya sendiri.


"Adrian... Bisakah kamu tenang. Aku hanya ingin tidur sebentar lagi...!!!" Teriak Helios dari balik selimut.


"Apa itu...!!" Teriak Rin dengan mengacungkan pedangnya pada selimut yang bergerak-gerak.


Sedangkan Aquila hanya bisa menepuk jidatnya dengan tingkah sahabatnya itu yang terlalu penakut, dan juga Aquila menjadi meragukan Rin dipanggil sebagai saint padahal dia sangat penakut.


"Aku rasa hari ini akan semakin ramai saja." Ucap Aquila sambil memegangi kepalanya.


"Kak Aquila... Giel takut.... Jauhkan manusia itu dari selimut Giel.... Hiks.." Ucap Rugiel dengan terisak ketakutan.


"Huaa.....!!!! Kenapa mahluk ini bisa berbicara.....!!!!" Teriak Rin dengan heboh karena baru pertama kali dia melihat aneka hewan yang bisa berbicara dihadapannya.


"Kakak Rin, bisakah kakak diam. Aku hanya ingin tidur cuacanya sangat dingin tau..." Kata Shiro sambil mengeluarkan kepalanya dari balik selimut yang menutupi tubuhnya, sebentarnya Shiro sudah terbangun lebih awal daripada Soleil, namun rasa dingin diluar membuatnya enggan untuk keluar dari zona nyamannya itu.


"Kya..... Kucing bicara....!!!" Teriak Rin dengan melemparkan pedangnya dan bersembunyi dibelakang Aquila dengan tubuh yang bergetar ketakutan.


Setelah melakukan hal yang sama dan terus berulang kali, akhirnya Rin menjadi tenang dan tidak berteriak histeris seperti tadi.


"Hah... Kali ini jantung benar-benar berolah raga." Kata Rin dengan memenangi zirahnya yang berat itu.


"Ya, maafkan kelakuan mereka yang sedikit nakal itu." Kata Aquila dengan senyum canggung.


"Leil tidak nakal kok."


"Aku juga, aku kan hanya menghampiri kak Aquila tidak menakut-nakutinya." Kata Adrian membela diri, karena dia tidak mau dikatakan sebagai adik yang nakal.

__ADS_1


"Mereka benar, aku lah yang terlalu berlebihan menanggapi apa yang baru saja aku alami ini. Jujur saja hanya Cocolah yang bisa berbicara denganku, sedangkan hewan yang pernah aku temua semuanya sama seperti mayat hidup tanpa ada jiwa." Ucap Rin dengan sedikit kesal.


"Hem... Mereka pasti diperbudak. Huh... rasanya aku ingin mati saat itu."Kata Helios yang masih dalam wujud burung Garuda nya.


"Benar kah, kamu pernah jadi mayat hidup seperti apa rasanya?" Tanya Rin dengan antusias kepada Helios, dan tentu saja Helios langsung pergi dan hingga di samping Aquila karena tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh rin.


"Jauhkan tatapan itu dari adikku. Asalkan kau tau Rin, aku membebaskan mereka dengan susah payah dan kau malah menginginkan hal itu, dan sekarang tinggal Tiga lagi. Dan salah satunya berada di kekaisaran samudra, tempat kau dipanggil." Ucap Aquila dengan menatap tajam Rin.


"Ah.. maaf, aku tidak tau kesulitan mu, aku kira mereka datang sendiri kepadamu." Kata Rin merasa bersalah pada sahabatnya itu.


"Baiklah, Rin apa kau tau siapa yang mereka ingin kau bunuh?" Tanya Aquila dengan wajah yang serius.


"Tentu saja, sang Messiah yang berubah menjadi iblis dan membantai seluruh prajurit dari kerajaan Zuwei saat menyerang kerajaan Tayounokuni, dan kerajaan itu bahkan mengusirnya dan salah satu dari pengikutnya menghapus seluruh ingatan dari kerajaan itu, namun tidak dengan anak-anak dari kerajaan itu." Jawab Rin dengan lancar tanpa ada cela.


"Jadi, sebenarnya akulah yang melakukan hal itu." Kata Aquila dengan wajah tertunduk, tidak berani menatap wajah sahabatnya itu.


"Sudah ku duga. Pasti karena mereka kan yang kamu ingin lindungi, atau karena salah satu diantara mereka telah membuatmu tersinggung. Aku benar bukan?" Ucap Rin sambil menepuk pundak Aquila dengan lembut namun penuh penegasan.


"Kau tidak marah dengan apa yang aku lakukan?" Tanya Aquila dengan menatap mata Rin untuk memastikan apa yang dia katakan.


"Tentu saja, bila aku menjadi dirimu pun aku akan melakukan hal yang sama. Dan tentu saja aku akan memihak mu apa pun yang terjadi. Percayalah pada ku." Kata Rin dengan senyum yang meyakinkan.


"Terimakasih Rin." Kata Aquila terharu dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya sekaligus saudaranya itu.


"Jangan sungkan, aku akan mendukungmu, dan tentu saja aku akan berbuat apapun untuk membantumu."


"Aku serahkan padamu untuk kekaisaran samudra itu, dan jangan kau katakan kalau dirimu pernah bertemu denganku, pasti akan timbul masalah yang lebih rumit." Kata Aquila dengan memperingati.

__ADS_1


"Tentu saja, tapi bagai mana aku membawa salah satu pilar untuk meyakinkan mereka. Aku sangat membutuhkan Nix untuk mengelabuhi mereka. Tapi dia adalah salah satu dari adik-adikmu?" Tanya Rin bimbang.


"Serahkan saja pada ku, tapi aku butuh sedikit mananya untuk membuat replika tubuhnya." Kata Adrian dengan antusias.


__ADS_2