
Tangan kecil dari seorang anak remaja dan diatasnya terdapat tangan kecil dengan cakar putih dari seekor macan tutul salju yang tengah terlihat tengang karena sedang memfokuskan dirinya untuk memberikan sedikit mananya pada sesosok anak remaja yang ada dihadapannya.
Butiran-butiran cahaya kecil dengan warna biru mudah melayang disekitar tubuh macan tutul salju, dan kemudian menuju pada tangan yang saling berhubungan dengan aura kesejukan yang menenangkan jiwa.
"Sudah, cukup Nix." Kata Adrian kepada sesosok macam tutul salju yang ada dihadapannya yang memejamkan matanya.
"Benarkah? Aku kira akan membutuhkan sedikit lagi." Kata Nix tidak percaya dengan Adrian hanya memerlukan sedikit sekali mananya.
"Tidak, namun kali ini aku meminta sedikit darahmu."Kata Adrian dengan senyum jahil.
"Tidak! Aku tidak mau." Tolak keras Nix akan permintaan Adrian.
"Rino, Eger. Bantu aku untuk menahan Nix agar tidak banyak bergerak." Pinta Adrian lada dua saudaranya yang duduk berdekatan dengan macan tutul salju itu.
"Baiklah.." Kata Shiro .
"Tentu saja.." Jawab Vent Leger hampir bersamaan dengan Shiro.
"Kalian..." Kata Nix tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Shiro dan Vent Leger yang akan menahannya.
"Tenanglah, ini tidak akan menyakitkan. Percayalah pada ku." Kata Adrian meyakinkan.
"Aku tidak mau....!!!!!" Tolak Nix saat melihat kuku tajam Adrian yang sudah menusuk bantalan kaki miliknya dan tentu saja dengan kaki belakang meronta untuk melepaskan dirinya dari cengkraman Shiro dan Vent Leger.
"Sudah..." Kata Adrian dengan senyum puas setelah mendapatkan beberapa tetes darah Nix.
"Hu..hu... Kenapa Rino dan Eger sangat tega dengan ku. Kalian kan sangat mengetahui kalau aku tidak suka rasa sakit." Keluhnya dengan air mata yang menumpuk dimatanya.
"Sudahlah, nanti akan sembuh sendiri." Kata Vent Leger dengan santainya namun tidak dengan Nix yang tengah menahan rasa perih di bantalan kakinya.
"Benar sekali, apa kamu akan menjadi Giel yang kedua yang suka mengais entah apa penyebabnya." Kata Shiro dengan menyamakan Rugiel yang terkenal diantara saudaranya yang gampang sekali menangis.
"Aku tidak mau, dan juga jangan samakan aku dengan si cengeng itu." Tolak keras Nix yang tidak mau disamakan dengan Rugiel.
"Hiks... Apa aku salah Nix. Hiks.. Aku juga tidak mau terus menangis seperti ini..." Kata Rugiel yang sontak saja membuat Nix tegang karena Rugiel tepat berada dibelakangnya.
__ADS_1
"Bu-bukan. A-aku tidak be-bermaksud begitu..." Kata Nix terbata sebab Rugiel yang terlihat akan menangis lebih keras.
"Hiks.... Kak Aquila... Hiks... Nix...Nix... Me-mengakatakan kalau Giel itu ce-cengeng..." Keluh Rugiel dengan menangis keras dipangkuan Aquila yang tengah asik mengobrol dengan Rin.
"Benarkah? Sudah tidak apa-apa, lagi pula dia hanya iri denganmu." Hibur Aquila mengelus Surai kepala Rugiel.
"Be-benarkah...? Hiks..." Tanya Rugiel yang masih terisak.
"Ya, lebih baik Rugiel tidur." Bujuk Aquila dengan lembut.
"Aku tidak menyangka kalau Dita yang aku kenal cuek dan dingin ternyata sangat menyayangi adik-adiknya.." Ucap Rin menggoda.
"Diamlah. Makan saja dan jangan berisik." Kata Aquila dengan menatap tajam Rin yang terus melihatnya.
"Heh... Namun tetap sama saja bila berbicara denganku." Kata Rin lesu karena Aquila yang terlihat tidak mau diajak berbicara banyak.
"Oh iya, apa kau sudah meminta kucingmu itu tentang cara merubah wujudnya itu?" Tanya Rin.
"Belum. Aku tidak sempat bertanya padanya." Jawab Aquila dengan padat dan jelas.
"Tidak.." Potong Aquila dengan cepat.
"Cih... Biarkan aku menyelesaikannya." Keluh Rin dengan Aquila yang tiba-tiba memotong perkataannya yang belum sempat diselesaikan.
"Baiklah...." Kata Aquila dengan wajah malasnya.
"Ah... Aku sudah lupa apa yang akan aku katakan. Ini salahmu yang tiba-tiba memotong perkataan ku." Kata Rin dengan wajah kesalnya.
"Lalu?" Tanya Aquila dengan cuek.
"Kak Aquila... Tolong sembuhkan luka Nix, lukanya tidak mau menutup dan terus mengeluarkan darah." Kata Shiro tiba-tiba dengan menyeret seekor macam tutul salju.
"Tidak....!!! Aku tidak mau...!!" Tolak Nix dengan keras menggoyangkan tangannya yang digenggam oleh Shiro.
"Lihat kak. Tangannya berdarah kan?" Kata Shiro dengan menyodorkan tangan Nix kepada Aquila yang duduk santai dengan Rugiel yang tidur di pangkuannya.
__ADS_1
"Sepertinya sangat dalam." Kata Aquila dengan menyentuh telapak tangan Nix yang masih mengeluarkan darah.
"Lepaskan tanganmu dari tanganku..." Kata Nix yang seakan enggan untuk dipegang oleh Aquila.
"Huh, kau masih saja cerewet, apa suaramu itu tidak akan habis?" Tanya Aquila yang terheran sebab sedari mereka keluar dari ruang bawah tanah sampai didalam ruangan yang dibuat oleh Leave masih saja terus aktif berteriak tidak jelas.
"Biarkan... Ini juga suaraku bukan sua-" Ucapan Nix langsung terpotong karena mulutnya dimasukan sepotong buah oleh Aquila yang sudah tidak kuat dengan suara berisik Nix.
"Begini lebih baik." Kata Aquila dan langsung mengeluarkan element cahaya miliknya untuk menyembuhkan luka Nix yang tergores oleh kuku Adrian yang sangat susah bila disembuhkan.
"Sudah. Pergi tidur, ini sudah larut malam." Kata Aquila kepada Shiro, Nix, dan Vent Leger yang masih terjaga. Sedangkan Soleil, Helios, dan Rugiel sudah tertidur lelap di samping Aquila.
"Baiklah...." Kata Shiro dan Vent Leger bersamaan, Sedangkan Nix masih membersihkan sisa darahnya yang sudah berhenti.
"Apa kamu tidak tidur Dita?" Tanya Rin sambil menguap.
"Belum. Kamu bisa tidur dahulu Rin. Aku akan menunggu Adrian yang masih diluar." Kata Aquila menolak ajakan dari sahabatnya itu.
"Baiklah, aku akan tidur.. Selamat malam.." Kata Rin dengan merebahkan dirinya di samping Aquila dan kemudian terlelap dengan cepat.
"Cepat sekali. Dasar Rin.." Kata Aquila dengan senyum kecil melihat tingkah laku sahabatnya itu.
"Hei..." Kata Nix dengan lirih dan canggung, dan Aquila langsung memandang sosok macan tutul salju itu penasaran.
"Terimakasih." Ucapnya lagi dengan suara lirih.
"Untuk apa?" Tanya Aquila dengan penasaran.
"Karena sudah membebaskan ku, dan sudah menyembuhkan luka yang dibuat oleh Adrian yang sangat susah disembuhkan oleh Rino." Jelasnya dengan suara yang masih terdengar kecil.
"Bukan masalah besar bagiku. Lebih baik kamu tidur, besok kita akan melalui hari yang berat, namun aku tidak memaksamu untuk ikut dengan ku." Kata Aquila dengan membelai Rugiel yang ada di pangkuannya itu.
"Aku akan ikut. Aku tidak mau ditinggal sendiri seperti dulu." Kata Nix dengan lemah namun dengan kesedihan yang mendalam.
"Aku tidak akan memaksamu. Bila kamu ingin ikut dengan para saudaramu, maka aku katakan. Selamat datang adik kecil." Kata Aquila dengan tersenyum lembut.
__ADS_1
"Aku... Aku... Aku pulang..." Ucap Nix dengan air mata yang telah menumpuk di pelupuk mata.