
"Nona, waktunya sarapan." Leave menyela perdebatan Aquila dan Shiro,dan Rugiel tengah asik duduk dipangkuan Aquila yang hangat. Aquila yang mendengar kata sarapan langsung memindahkan Rugiel dari pangkuannya dan langsung menghampiri Leave yang berdiri tidak jauh darinya dan Minami yang membawa nampan berisi sarapan.
"Kak Nami, kenapa tidak bilang sedari tadi, aku sangat kelaparan." Ucap Aquila sambil mengambil roti yang diolesi madu.
"Aku sudah memberi tahu nona, tapi nona masih asik mengobrol dengan tuan Catarino dan mengabaikan ku." Kata Minami sambil menaruh nampan itu diatas meja.
"Benarkah, kapan kak Nami mengatakannya?" Tanya Aquila dengan wajah polosnya.
"Nona, lebih baik habiskan sarapanmu. Setelah itu nona bisa bertanya sepuasnya." Kata Leave sambil memakan sayuran segar yang entah dari mana asalnya, sebab Minami hanya membawa sarapannya Aquila.
"Sarapanku mana?" Ucap Shiro yang tiba-tiba berada diatas meja dan disusul juga oleh Rugiel dengan mata yang berair.
"Apa kalian kemari tidak makan?" Tanya Aquila dengan curiga.
"Tidak, para magical beast dan hewan buas itu langsung kemari dan mengabaikan makan paginya." Rugiel menjawab pertanyaan Aquila dengan matanya yang jernih berair.
"Huh, merepotkan saja. Kak Nami, tolong kasih mereka makanan. Dan juga para budak pekerja itu, kalau bisa lepaskan rantai yang mengikatnya." Aquila mengatakannya sambil memakan sarapan yang dibuatkan Minami, dan tidak lupa memberi kedua hewan berbulu dengan roti yang ada dia makan.
"Baik nona, akan saya laksanakan." Minami langsung keluar dari dalam tenda itu dan menuju para magical beast dan hewan buas berkumpul serta para budak pekerja yang terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Kak Aquila, lagi." kata Shiro dengan wajah imutnya.
__ADS_1
"Giel juga ingin tambah." Tambah Rugiel menimpali ucapan Shiro.
"Kalian berdua, benar-benar rakus. Padahal sebelum aku selesai memakan sepotong roti, tapi kalian makan sangat banyak." Aquila mengomel namun masih tetap memberi tambahan kepada Shiro dan Rugiel.
"Kak Aquila sangat baik." kata Shiro lalu langsung melahap roti itu dengan cepat.
"Giel menyayangi kakak." Ucap Rugiel dengan tulus, dan membuat Aquila tersentuh.
"Kakak juga menyayangi kalian. Dan Shiro lain kali jangan berbicara sembarangan. Atau aku tidak akan memberi mu makan." Ancam Aquila namun dengan nada yang lembut.
"Iya kak, aku akan berusaha, kalau tidak kelepasan lagi he he." Ucap Shiro dengan cengiran kucing.
Mereka bertiga kembali terhanyut dalam sarapan dengan diam, Laba-laba Archane melongo karena tadi mereka bertengkar kini menjadi akrab kembali. Dan dia kira mereka sangat lah tidak akrab dan terlihat bermusuhan namun semua itu hanyalah cara kakak beradik akrab.
"Ah haha, maaf kan saya, saya hanya terkejut saja dengan mereka nona." Kata laba-laba Archane dengan malu, untung saja dia dalam bentuk magical beastnya, kalau tidak pasti pipinya akan merona merah karena malu.
"Lain kali kamu harus berhati-hati, itu sangatlah tidak sopan." Leave memperingati nya dengan sopan.
"Saya akan berusaha nona." Ucapnya dengan mantab.
Setelah sarapan mereka usai. Aquila langsung keluar dari dalam tenda itu dan kedua pilar berada pelukan Aquila yang nyaman, Aquila mengarahkan kakinya untuk menuju para magical beast dan hewan buas yang tengah berkumpul dan memakan makanan yang diberikan oleh Minami.
__ADS_1
Dan para budak terlihat bahagia karena rantai yang membelenggu mereka akan terlepas, dan mereka memakan makanan yang layak daripada biasanya yang mereka makan hanyalah sup tawar dengan roti yang keras.
Tubuh mereka penuh luka penyiksaan dan sudah terinfeksi sehingga mengeluarkan nanah dari luka yang tidak terawat, serta beberapa serangga hinggap diluka yang terinfeksi itu. Dan membuat siapapun yang tidak terbiasa akan jijik dan bahkan segera meninggalkan tanpa menoleh lagi.
"Kak Nami, apa sudah selesai memberi mereka sarapan?" Tanya Aquila yang melihat Minami sibuk memecahkan belenggu besi yang sudah diberikan rune untuk menghindari para budak memutuskan rantai itu dan melarikan diri. Benar-benar seperti binatang yang sudah kehilangan hak kebebasanya.
"Sudah nona, tapi aku kesulitan untuk melepaskan belenggu ini." Ucap Minami dengan keringat yang sudah memenuhi dahinya.
"Kak Nami bisa beristirahat dahulu, aku akan melepaskan belenggu itu." Aquila kemudian menurunkan Shiro dan Rugiel dari pelukannya, dan langsung menuju Minami yang sedang berusaha melepaskan rantai dari budak yang sangat sengsara karena luka yang sudah membusuk.
Masih terdapat puluhan orang yang belum terlepas dari belenggu rantai besi dan hanya beberapa orang saja yang sudah terlepas dari belenggu itu, dan memakan makan yang telah dibagikan kepada mereka oleh Minami.
Aquila yang melihat budak yang dia lihat, emosinya melonjak tidak terkendali karena penderitaan yang mereka rasakan. Aura Aquila menguat seakan ingin membunuh orang dengan berutal dan mencincang habis setiap tubuh orang yang melakukan hal yang sangat tidak manusiawi itu.
"Kak Aquila...! kendalikan dirimu...!" Teriak Shiro dalam wujud sempurnanya dan juga Rugiel melakukan hal yang sama dengan Shiro untuk menekan aura membunuh dari Aquila yang sudah diluar kendalinya.
Tatapan dingin dan jejak ingin membunuh terlihat di mata Aquila, seakan teriakan Shiro adalah angin lalu yang menerpa sebentar dan langsung digantikan rasa panas membara di jiwanya untuk menghancurkan sebuah negeri yang melakukan perbudakan kepada manusia dan hewan di dunia Callista.
Leave yang merasakan aura haus darah langsung keluar dari dalam tenda dan diikuti juga oleh Laba-laba Archane yang penasaran dengan aura dingin yang sangat kuat seakan dirinya berada di kutub Utara.
"Apa yang terjadi Minami?" Tanya Leave kepada Minami yang terlihat gemetar ketakutan dengan aura Aquila yang mulai menggila. Meski dirinya seorang dark elf namun tidak dipungkiri aura Aquila melebihi kekejaman dark elf.
__ADS_1
"Aku tidak tau nona, tapi saat nona Aquila ingin mengantikan ku untuk melepas belenggu yang terpasang. Nona berubah menjadi bukan dirinya dan mulai mengeluarkan aura membunuhnya." Jelas Minami kepada Leave tentang apa yang terjadi dengan Aquila.
"Sepertinya emosi nona tidak setabil. Kita harus segera menghentikan nona, sebelum hal yang buruk akan terjadi. Aku tidak ingin nona menyalahkan dirinya sendiri seperti dulu." Kata Leave sambil menatap Aquila yang tengah melayang di udara dengan tatapan membunuh yang tajam.