Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 42


__ADS_3

Permaisuri kekaisaran selatan memikirkan apa yang dikatakan sang mentri tentang sikap dan kecantikan sang gadis misterius itu. "Wajah yang cantik, dengan tempramen dingin dan kejam, memiliki tanda bulan sabit dengan mata yang berbeda warna. Apa dia membawa seekor kucing putih dengan warna biru pucat mentri?" Tanya sang permaisuri.


"Benar yang mulia permaisuri. Akan tetapi kucing yang anda maksud hanyalah kucing putih biasa tanpa warna biru." Ucap sang mentri yang di ketahu dari bawahannya.


"Sangat mirip dengan apa yang panasea katakan tiga tahun yang lalu. Tetapi hanya kucingnya saja yang berbeda." Kata sang permaisuri sambil mengelus dagunya.


"Apa yang Panasea katakan permaisuriku?" Tanya sang kaisar.


"Oh kaisar ku, apakah anda melupakan hal penting yang diucapkan Panasea. Padahal gadis itulah yang membebaskan negeri kita tercinta ini." Ucap Sang permaisuri dengan lembut.


"Maafkan aku permaisuriku, kaisar mu ini sudah tua dan saatnya turun tahta. Namun putra mahkota kita belum kembali dari petualangan nya." Kata sang kaisar sambil memeluk permaisurinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Sang mentri hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu dan mengumpat didalam hatinya dengan kemesraan sepasang kekasih tua yang tidak tau tempat untuk menunjukan kasih sayang itu.


"Biarkan dia menjelajah dunia yang kejam ini kaisar ku. Biarkan pengalaman menjadi guru terbaiknya." Hibur sang permaisuri.


"Ehem...." Suara batuk sang mentri membuat sepasang kekasih itu segera sadar dari dunia mereka yang indah untuk kembali kedunia nyata.


"Maafkan kami Mentri." Kata sang permaisuri dengan malu.


"Tidak apa permaisuri. Memang apa yang dikatakan oleh Panasea tiga tahun yang lalu?" Tanya Sanga Mentri mengalihkan pembicaraan. Sang kaisar hanya menatap permaisurinya dengan rasa ingin tahu yang terlihat dimatanya.


"Tiga tahun yang lalu, Panasea mengatakan kalau akan hadir seorang gadis dengan tanda bulan sabit dikeningnya dan kedua matanya berwarna berbeda dan membawa seekor kucing putih dan sedikit waran biru pucat. Panasea mengatakan kalau dia adalah Sang Messiah yang ditunjuk oleh Dewi Callista." Permaisuri mengatakan apa yang dia dengar dari Panasea kuil pusat kekaisaran selatan, kini Panasea itu melakukan meditasi tertutup untuk mendekatkan dirinya dengan sang pencipta.


Setelah mengatakan yang permaisuri ingat dari ucapan Panasea tiga tahun yang lalu dan kedua orang yang antusias mendengarkan cerita sang permaisuri.


"Baiklah Mentri ku, kamu bisa pergi." Titah sang kaisar.

__ADS_1


"Baik yang mulia kaisar." Ucap sang penuh hormat, mentri penyelidikan dan berjalan mundur beberapa langkah lalu pergi meninggalkan kaisar dan permaisurinya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelum mereka sampai kehutan Roa, mereka melewati hutan dark elf terlebih dahulu dan kemudian hutan light elf. Rombongan Aquila bersinggah di hutan dark mengunjungi Lino sebentar untuk mengecek apakah mereka hidup dengan baik atau tidak.


Namun yang mereka lihat, kubah yang sebelumnya Aquila dan Leave buat kini menjadi sangat indah. Rumah yang light elf terbuat dari dahan pohon yang ditata rapih membentuk rumah pohon dengan ruang-ruang yang disekat dengan ranting kecil dan membuat kesan dinding tiga dimensi.


Anak-anak berlarian dengan riang gembira, Minami menemani mereka bermain sampai menjelang malam. Sedangkan Aquila duduk ditepi sungai yang ditemani oleh Leave ambil menikmati buah yang disediakan oleh light elf yang dipetikan dari kebun mereka.


Shiro dan Rugiel tertidur disamping Aquila dengan tenang, mereka menggulung menjadi satu seperti roti yang ditumpuk. Bunga begonia dan sakura menggugurkan kelopak bunga mereka akibat tiupan angin sore yang lumayan dingin.


Rombongan magical beast dan hewan buas beristirahat dengan santai sambil menikmati suasana sore yang tenang dan damai ditempat tinggal Light elf. Matahari tenggelam secara perlahan dengan warna merah yang mempesona dengan awan jingga yang menghiasinya.


Kicauan burung digantikan dengan suara jangkrik dan burung hantu. Kunang-kunang mulai keluar dari persembunyian mereka dan memancarkan cahaya diujung ekornya dengan cepat. Nyanyian jangkrik terus menggema memenuhi hutan yang gelap dan sinar cahaya dari kunang-kunang menyinari tempat yang mereka pijak.


"Nona, nona Rin pasti baik-baik saja. Anjing kecil itu akan selalu disampingnya dan menjaganya." Kata Leave menghibur Aquila yang merindukan sahabatnya yang cerewet dan selalu perhatian seperti kakak perempuan yang menyayangi adiknya.


"Aku berharap begitu. Semoga dia menemukan kebahagiaan disana." Ucap Aquila dengan penuh harap dan doa.


Suara langkah kaki mendekati mereka yang tengah hanyut dalam kenangan masa lalu mereka. " Nona, saatnya makan malam." Kata seseorang yang berada di belakang mereka.


Aquila terkejut dengan suara yang memberitahukan tentang makan malam yang telah siap. "Oh ternyata nona Lino, apa semuanya sudah berkumpul?" Tanya Leave.


"Semuanya sudah berkumpul nona. Mereka semua menunggu nona untuk makan malam bersama." Kata wanita yang sudah menjadi istri Lino.


"Aku akan kesana, Kak Leave tolong bawa Rugiel dan aku akan membawa Shiro." Aquila berdiri dari tepi sungai dan mengendong Shiro yang tengah tidur pulas dengan Rugiel.

__ADS_1


"Baik nona." Kata Leave sambil mengangkat Rugiel dan menggendongnya dengan kedua tangannya.


"Nona Lino, tolong bimbing jalan." Kata Aquila.


"Tolong ikuti saya."


Mereka bertiga berjalan dengan Nona Lino sebagai pemimpin jalan. Hiruk pikuk suara mulai terdengar, tawa anak kecil menggema menghiasi malam yang cerah.


Magical beast membentuk kelompok sendiri dengan beberapa Light elf yang ikut mengobrol dengan mereka, sedangkan para hewan buas memakan makanan yang telah disiapkan oleh light elf seperti daging dan sayuran.


Cahaya menerangi tempat itu seperti lampu namun berbentuk bulat sempurna tanpa kabel atau baterai, benda bundar bercahaya itu diletakkan ditempat yang tinggi sehingga dapat menyinari keseluruh tempat dalam jangkauannya. Benda itu mereka sebut sebagai mutiara malam.


Minami masih asik bercerita dan bercanda dengan anak-anak yang berkumpul disekitarnya dan kadang-kadang tawa anak-anak menghiasi bagian ceritanya yang lucu.


"Ah.... Nona Messiah, kemarilah...!" Teriak seorang pria dengan rambut hijau dengan warna kulit coklat kayu albasiah,yang tidak lain adalah Lino.


Aquila, Leave dan istrinya Lino menghampiri orang yang memanggil mereka, disamping Lino terdapat empat kursi kosong yang terbuat dari ranting pohon dan terdapat daun yang lebar sebagai bantalan duduk. Terlihat alami dan unik pikir Aquila.


"Silahkan duduk nona Messiah dan nona Rusa." Kata Lino dengan ramah.


"Terimakasih atas jamuan nya tuan Lino." Balas Aquila dengan ramah juga.


"Perhatian semuanya...!!" Teriak Lino untuk menarik perhatian orang-orang yang tengah asik dengan teman baru mereka.


"Semuanya, Sang Messiah telah kembali dan mengunjungi kita dan perjamuan kali ini adalah menyambut Messiah kita. Bersulang!" Teriak Lino dengan penuh semangat sambil mengangkat sebuah gelas yang terbuat dari bambu.


"Bersulang...!" Sahut semua orang yang ada di sana kecuali satu orang saja, yaitu Aquila.

__ADS_1


__ADS_2