Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 87


__ADS_3

Hembusan angin kering langsung menerpa seorang gadis dengan kura-kura kecil dalam pelukan sang gadis. Rambutnya yang panjang berterbangan tidak beraturan dengan suara dentingan lonceng yang menghiasi rambut hitam malam milik sang gadis yang tengah berdiri didepan sebuah pintu dengan ornamen pohon Willow.


Tangan sang gadis terulur untuk mendorong pintu menara agar terbuka. Hawa yang sejuk langsung menerpa tubuh ramping sang gadis yang sudaha mulai kepanasan dengan keringat yang mengalir di kening dengan wajah pucatnya.


Setelah dia memasuki ruangan itu, pintu langsung tertutup dengan suara yang keras dan membuatnya terkejut. "Tempatmu lumayan nyaman Soleil, hampir sama dengan milik Shiro dan Rugiel." Kata sang gadis yang tidak lain adalah Aquila.


Kepala Soleil menengok seakan bertanya kepada Aquila dengan mengedipkan matanya dengan perlahan.


"Oh iya, Soleil. Shiro itu adalah Catarino, terlalu susah menyebut namanya yang panjang itu. Aku memberikan nama Shiro saat aku masih di tempat tinggal ku, sebelum berpindah kedunia ini." Ucap Aquila bercerita tentang kehidupan sebelumnya sambil memilih buku yang tertata rapih.


Soleil hanya bisa mengedipkan matanya sebagai tanggapan ucapan Aquila. Soleil tidak bisa berbicara, karena permata kehidupannya telah hilang dengan kata lain telah dimakan oleh saudaranya yang tidak sadarkan diri karena rune perbudakan yang sudah mengekangnya.


"Buku milikmu terlalu bagus, aku tidak bisa memilih untuk aku pelajari." Kata Aquila sambil mengotak Atik buku untuk mencari buku yang dia inginkan.


Soleil menepuk tangan Aquila dan kemudian menunjukkan cakarnya kerak buku bagian atas, Aquila pun mengikuti arah yang ditunjukkan Soleil. Di rak bagian atas terdapat buku yang sangat tebal dan sangat berbeda dengan buku yang lain terutama sampulnya yang usang.


Hal itu membuat Aquila ingat dengan salah satu pepatah yang mengatakan 'jangan lihat buku dari sampulnya' yang memberi tahukan kepada dirinya tentang menilai sesuatu jangan dari luarnya tetapi dari dalamnya.


Aquila langsung membuka buku itu dengan penasaran dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Dan benar, isi buku usang itu sangatlah diluar pikiran Aquila, karena isi dari buku itu tertulis dengan bahasa Indonesia yang tidak diketahui artinya bagi manusia di dunia Callista.


"Apa kamu yakin memberikan buku ini keladaku? Isi buku ini sangatlah berharga Soleil." Tanya Aquila dengan wajah serius.


Soeleil menganggukkan kepalanya dengan semangat, seakan mengatakan kalau buku itu untuk nya.

__ADS_1


"Wahhh..... terimakasih Soleil, aku tidak menyangka akan menemukan buku yang sama persis dengan buku diduniaku dulu." Ucap Aquila dengan bahagia.


"Eghemmm. Apa kamu mau ikut denganku menemui dua saudaramu soelil?" Tanya Aquila dengan tersenyum senang meski raut wajahnya yang pucat.


Soleil langsung melompat dalam pelukan Aquila seakan dia menginginkan untuk bertemu dengan saudaranya yang telah lama tidak ditemuinya karena keserakahan manusia yang membuat mereka terpecah belah.


"Aku yakin kau sangat merindukan mereka, begitu juga dengan mereka yang juga merindukanmu. Ayo, kita pulang dan berkumpul dengan yang lain." Ucap Aquila dengan mengelus kepala Soleil dengan lembut.


Aquila meninggalkan tempat penuh buku itu dan berjalan kearah pintu yang tertutup rapat. Saat pintu terbuka, udara panas langsung menyapanya meski matahari telah condong kearah barat yang menunjukan sore hari.


Aquila mengembangkan sayap esnya dan mengepakkan sayap itu untuk mengarungi samudra pasir yang luas untuk menuju ibukota kerajaan Zuwei yang kini tengah ramai membicarakan tentang gadis pembawa pesan, Hestia.


Kecepatan terbang Aquila sangatlah lambat karena mana miliknya telah terkuras banyak untuk mengalahkan manusia yang berubah menjadi monster dan melepaskan belenggu yang mengikat Soleil dengan hilangnya dua burung kembar Doujo dan Douji yang telah bergabung dengan solei.


Matahari telah memerah, dan sedikit demi sedikit mulai menghilang dan hanya menyisakan semburat warna merah dan jingga dilangit yang bersih tanpa awan. Dan akhirnya perjalanan jauh Aquila membuahkan hasil dengan sampainya dirinya dikediaman bangsawan Sehertpar.


"Nona, apa nona baik-baik saja?" Tanya Minami mencemaskan nonanya yang pergi pergi mendadak saat upacara doa dimulai.


"Aku baik-baik saja kak, hanya mana milikku yang terkuras habis. Dimana Shiro dan Rugiel kak nami?" Tanya Aquila sambil mengamati sekitarnya.


"Tuan Catarino dan tuan Rugiel ada didalam kamar nona. Tuan Rugiel sedang menangis dan tuan Catarino tengah menenangkannya." Jawab Minami sambil memapah Aquila untuk menuju kamarnya.


"Apa pak tua dan tuan muda itu telah kembali?" Tanya Aquila sambil membelai kepala Soleil.

__ADS_1


"Mereka sudah kembali nona, tapi mereka langsung sibuk untuk menyiapkan acara lelang besok." Jawab Minami dengan yang dia ketahui.


Setelah berjalan sedikit lama, mereka sampai disebuah pintu putih. Minami membuka pintu itu dan langsung disambut oleh Leave dan Arcahane dengan bahagia.


"Nona, apa nona baik-baik saja? kenapa wajah nona sangat pucat? Nona siapa kura-kura kecil ini?" Tanya Leave berturut-turut membuat Aquila bingung mau menjawab pertanyaan yang mana.


"Nona Leave, nona membuat nona Aquila bingung. Lebih baik simpan pertanyaan itu untuk nanti." Tegur Minami sambil memapah Aquila kekasur yang nyaman.


"Kak Leave, dimana Shiro dan Rugiel?" Tanya Aquila sambil meletakkan Soleil dikasur dengan seprai putih.


"Tunggu sebentar nona." Kata Leave sambil berjalan kesebuah ranjang rotan yang tersimpan dipojok ruangan itu. Kemudian Leave membawa ranjang rotan itu dihadapan Aquila.


"Mereka sedang tertidur nona setelah menenangkan tuan Rugiel yang menangis histeris. Aku juga tidak tau apa penyebabnya." Kata Leave sambil meletakkan ranjang rotan itu disampingnya Soleil.


Soleil merangkak dan mulai memanjat namun dia terjatuh dengan perut menghadap keatas yang membuatnya susah untuk bangkit. Aquila langsung mengambil Soleil dan meletakkannya di dalam rajang rotan yang hampir penuh dengan Shiro dan Rugiel.


"Nona lebih baik istirahat dulu, aku akan menyiapkan air panas untuk nona." Kata Leave sambil berjalan kearah kamar mandi yang berdampingan.


"Aku akan membuat makan malam untuk nona. Lalu aku akan mulai memulihkan mana nona yang terkuras." Ucap Minami, lalu meninggalkan ruangan itu dan pergi menuju dapur dikediaman bangsawan Sehetpra.


Selang beberapa waktu, Leave keluar dari kamar mandi dengan baskom yang mengelukan uap air dengan sebuah handuk putih. Dan menyerahkannya kepada Aquila.


Aquila langsung mengambil handuk putih itu dan mencelupkannya dalam air hangat dan mulai membersihkan wajahnya yang penuh dengan debu. Setelah dirasa cukup, Aquila langsung menyerahkan baskom itu kepada Leave dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Aquila keluar dari kamar mandi dengan balutan piyama sutra yang pas dengan tubuhnya. Dan secara kebetulan Minami telah sampai dengan nampan berisi penuh dengan makanan.


Aquila dengan lahap menyantap makanan itu dengan cepat, dan tidak memperhatikan sopan santun. Yang terpenting baginya adalah mengisi perutnya yang sudah kosong sejak siang tadi.


__ADS_2