Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 154


__ADS_3

Seekor kucing putih berjalan dengan lunglai putus asa menuju tempat yang sangat megah dan mewah, batu Rubi tertata dengan indah bersama dengan zambrut yang mendampinginya.


Cahaya sang mentari bersinar dengan sangat terik hingga membuat siapapun yang terkena sinarnya merasa kepanasan. Namun tidak bagi sang kucing putih yang sangat merasa kedinginan di dalam hatinya karena sang cahaya hati telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Setelah memasuki bangunan mewah itu, hawa yang sebelumnya panas berubah menjadi sejuk dan membuat nyaman orang yang ada didalam bangunan itu. Para pelayan atau prajurit masih sibuk melakukan aktivitas mereka tanpa memperhatikan kucing putih yang berjalan di lorong istana Dahana.


Lorong yang berkelok-kelok dan bercabang membuat siapapun akan tersesat bila tidak ada yang memandu, namun tidak bagi kucing putih itu. Dia terus berjalan dengan langkah pelan dan akhirnya sampai di sebuah pintu ganda dengan warna emas dengan ornamen yang sangat indah yang dibaliknya terdapat aula indah nan menawan.


"Apakah anda peliharaan sang Messiah wahai kucing putih?" Tanya sang Maharani dengan suara lembut namun tegas.


Shiro yang mendapat pertanyaan itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan sang Maharani. Sang Maharani langsung turun dari singgasananya dan menghampiri Shiro yang tengah berdiri di atas karpet bludru merah menyala dengan sulaman emas ditepi nya.


"Terimakasih saya ucapkan untuk sang Messiah yang telah membantu kekaisaran Dahana yang diambang kehancuran. Oleh sebab itu, saya akan memberikan apa yang sang Messiah inginkan, yaitu sang pilar api Ignatius untuk diserahkan kepadanya. Dan sang Messiah mengamanatkan kepada saya untuk memberikan kepada anda wahai kucing putih." Kata sang Maharani panjang lebar.


Shiro masih terdiam tidak menanggapi perkataan sang Maharani, namun mendengar nama saudaranya Ignatius membuat Shiro kembali ke akal sehatnya tentang apa yang dikatakan Aquila kepada Shiro untuk menjemput saudaranya itu.


"Di mana dia? Bisakah kau memberikan saudaraku secepatnya. Aku tidak bisa disini terlalu lama." Kata Shiro dengan sangat terburu-buru.


"Anda tidak perlu terburu-buru, sang pilar api sudah ada disini, beliau berdiri di belakang anda sekarang." Kata sang Maharani dengan tersenyum lembut.


Shiro langsung membalikkan tubuhnya, dan ternyata dibelakangnya terdapat seorang pemuda yang sangat menonjol dengan warna rambutnya yang merah menyala seperti api di gunung yang erupsi.


"Sudah sangat lama kita tidak bertemu saudaraku." Sapa pemuda itu yang tidak lain Ignatius.

__ADS_1


Kucing putih yang ada dihadapannya langsung merubah wujudnya menjadi remaja seumuran Ignatius dengan Surai putih dan kemudian langsung memeluk tubuh Ignatius dengan sangat erat.


"Syukurlah, kamu baik-baik saja. Ayo ikut aku sekarang. Kita tidak punya waktu banyak." Kata Shiro sambil menarik tangan Ignatius tanpa memperdulikan sekitarnya.


Sang Maharani hanya bisa tersenyum simpul dengan tingkah laku orang yang ada dihadapannya yang sebelumnya tidak bersemangat kini berubah menjadi sangat energik.


Setelah kepergian Shiro dan Ignatius, aula yang sebelumnya senyap kini menjadi riuh karena perubahan dari sosok kucing putih menggemaskan menjadi pemuda yang sangat menawan.


Sedangkan sang Maharani hanya bisa tersenyum melihat sang pilar api yang sebelumnya murung kembali ke keadaan semula, penuh dengan kebahagiaan. Dan kemudian mengalihkan pandangannya pada Mentri dan jendralnya yang masih terhanyut dengan percakapan mereka tentang pemuda yang sebelumnya hanyalah seekor kucing putih.


"Apakah kalian sudah selesai membahasnya wahai Mentri ku dan para jendralku?" Tanya sang Maharani dengan lembut, namun memberi arogansi pada bawaannya.


"Ma-maafkan kami wahai yang mulia." Ucap mereka dengan serempak.


Setelah semua perkara telah usai, kini Shiro dan Ignatius masih terus berlarian. Tidak. Lebih tepatnya Shiro lah yang menyeret Ignatius untuk berlari mengikuti langkah Shiro yang sudah tidak sabar untuk bertemu kembali dengan sang kakak tercintanya, Aquila di dunia callista dan sebagai Dita sang jiwa panggilan dari bumi.


"Kenapa kau sang terburu-buru Rino? Apa yang terjadi?" Tanya Ignatius yang terus diseret oleh Shiro.


"Aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Namun, aku ingin bertemu kak Aquila secepatnya sebelum kak Aquila benar-benar pergi meninggalkan kita." Jawab Shiro sambil terus berlari secepat yang dia bisa.


"Memang apa yang terjadi dengan kakak? Bukankah dia baik-baik saja saat menemui ku dan bahkan bercerita tentangmu dan saudara kita yang lain dengan sangat bahagia?" Tanya Ignatius dengan ketidak percayaan.


"Maafkan aku Ignatius, aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan mu itu. Sebab kak Aquila tidak bisa menunggu kita dalam waktu yang lama." Kata Shiro dengan wajah yang terlihat sedih.

__ADS_1


"Jangan bilang kalau...." Belum sempat Ignatius menyelesaikan ucapannya, teriakan sangat nyaring membuat Ignatius langsung terdiam.


"Rino.......!!!!! Kau sangat lama......!!!!" Teriak Vent Leger dengan wajah yang tidak bisa dibilang ramah, dengan kata lain dia sangat marah dengan keterlambatan saudaranya itu.


"Berisik..!! Bukankah kamu tidak berbuat apapun sedari tadi." Kata Helios yang masih duduk lesu bersama dengan Soleil dan Rugiel yang sesenggukan di samping tubuh Aquila yang sudah pucat.


Adrian dan Nix hanya diam, namun mata mereka masih memerah dan terdapat air mata diujung mata mereka. Sedangkan Sebasta masih belum sadarkan diri dan tertidur diperut dingin Aquila yang berlumuran darah yang sudah membeku.


"Ini... Tidak mungkin kan...? Benarkan Rino? Aku pasti salah lihatkan?" Tanya bertubi-tubi Ignatius kepada Shiro yang hanya diam sebagai jawaban dari Ignatius.


"Ah.... akhirnya kalian semua telah berkumpul. Aku sangat lelah menunggu kalian tau." Kata sosok transparan yang melayang santai.


"kak Dita, apa kakak benar-benar akan meninggalkan kami semua?" Tanya Nix dengan suara yang bergetar menahan tangis.


"Maafkan aku Nix, namun inilah takdirku. Yah. Tapi sebenarnya aku sangat enggan untuk meninggalkan kalian semua. Tapi setidaknya aku sangat senang dengan kalian sudah berkumpul." Kata Dita dengan senyum cerahnya.


"Kak, kamu sedang bercanda kan? kenapa tubuh dan jiwa kakak tidak menyatu?" Tanya Ignatius dengan tidak percaya.


"Sayangnya itu bukan sesuatu yang dapat digunakan untuk bahan lelucon, aku sangat benci mengakui itu." Kata Vent Leger masam.


"Dita, apa kah kita dapat bertemu lagi dengan mu?" Tanya Rin dengan wajah penuh air mata.


"Aku Tidak tahu Rin. Hanya takdir lah yang menentukan kita untuk bertemu kembali. Tapi aku harap kamu tidak menyusul ku dengan cepat." Kata Aquila dengan menatap wajah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Setidaknya kamu bisa membantu ku untuk mengawasi adik-adikku yang kadang nakal. Dan kak Leave, kakak bisa bepergian kemana pun yang kakak suka begitu juga dengan kak Nami." Tambah Aquila dengan senyum tulus diwajahnya.


__ADS_2