Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 85


__ADS_3

Entah kebetulan atau sudah direncanakan. Itulah yang terjadi di ibu kota kerajaan Zuwei.


Kekacauan di kuil Dewa Orunmla akibat seorang gadis pergi dari dalam kuil dengan sayap di punggungnya dan meninggalkan kuil dengan sangat cepat, dan membuat orang-orang baik didalam atau diluar kuil merasa keajaiban telah diperlihatkan oleh dewa yang mereka sembah. Yaitu munculnya sang pembawa pesan, Hestia.


Sedangkan di istana kerajaan Zuwei, seekor kucing dan seekor magical beast berlarian secara liar seakan sedang mencari sesuatu yang tidak diketahui. Seperti sebuah skenario yang dilakukan secara kebetulan direncanakan oleh sang maha kuasa.


"Tangkap kucing putih itu...! Jangan biarkan dia mengacau, atau kepala kita yang akan menjadi taruhannya..!" Perintah seorang kapten prajurit yang mengacungkan pedangnya.


"Baik...!" Teriak mereka para prajurit yang tidak lebih dari sepuluh orang dan mulai mengejar kucing putih yang berlarian di lorong istana.


"Kalian ingin bermain bersama yang mulia ini? Akan aku layani!" Ucap Shiro dengan senyuman mengejek, lalu mulai berlari kencang dan tidak lupa dengan jejak yang dia tinggalkan di ubin marmer dengan bekas cakaran kukunya.


"Eh? apa aku tidak salah dengar? kucing itu berbicara? apa aku sedang bermimpi?" Ucap mereka hampir bersamaan.


"Apa yang kalian lakukan bodoh! cepat kejar kucing itu!" Teriak kapten prajurit dengan sangat marah karena perbuatan bawahannya yang menjadi bodoh.


"B-baik! Ayo cepat kejar kucing itu....!" Ucap salah satu diantara mereka dan mulai mengejar Shiro dengan sengit.


Disebuah gazebo putih ditengah kolam buatan dengan bunga teratai yang bermekaran, menambah nilai keindahan serta kesejukan dari bangunan itu. Ditempat itu, Seorang wanita yang cantik mempesona tengah bersantai dibangku santai lengkap dengan meja serta cemilan yang tertata rapih dan dayang yang selalu setia mengikutinya.


"Ara.... Hari ini sangat ramai sekali, tidak seperti biasanya." Ucap wanita itu yang tidak lain adalah ratu kerajaan Zuwei.


"Maaf atas tidak kenyamanannya yang mulia, hamba dengar dari para penjaga telah terjadi keributan yang disebabkan oleh dua ekor kucing yang berlarian didalam istana." Kata sang dayang dengan sopan.


"Tidak perlu dipikirkan, bukankah tidak apa-apa istana ramai meski hanya sekali saja?."Ucap sang ratu sambil memakan buah yang telah dikupas.


Para prajurit masih terus mengejar Shiro, sampailah mereka disebuah pintu yang sedikit dipoles dengan emas namun terdapat rune yang menyegel di pintu itu. Shiro langsung masuk begitu saja dalam ruangan dengan sangat mudah. Namun para prajurit itu langsung panik.

__ADS_1


"Jangan biarkan kucing itu masuk dalam ruangan itu.!"


Namun apa lah daya mereka, kucing putih itu masuk dan mereka tidak bisa masuk, dan hukuman pasti akan mereka rasakan.


"Bagian ini kapten, apa kita harus melaporkan hal ini?" Tanya salah satu prajurit dengan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya.


"Kita harus segera melaporkan kepada yang mulia raja apapun itu, meski aku telah lalai membiarkan kucing liar itu masuk dalam ruang penyegelan sang matahari. Atau hal yang buruk akan segera terjadi." Ucap sang kapten sambil berlalu untuk melaporkan tentang kucing itu yang dengan mudah menembus rune penyegelan.


"Kalian tetap berjaga ditempat ini, dan jangan pergi sebelum aku kembali." Ucap sang kapten memerintah.


"Baik!" Ucap para prajurit dengan tegas.


Ruangan gelap, namun hawa yang sangat panas terasa pekat diruang yang Shiro tempati. Shiro mulai menyusuri tempat itu dengan sangat hati-hati dan mencermati tempat itu dengan waspada.


"Ugh, kenapa tempat ini sangat panas, bahkan lebih panas daripada gurun." Ucap Shiro dengan penuh Keluhan.


"Biarlah, siapa tau aku menemukan hal yang menarik untuk ku berikan pada kak Aquila." Shiro langsung berjalan kembali dengan girang.


Setelah menyusuri ringan itu, akhirnya Shiro menemukan hal yang menarik. Yaitu sebuah patung Garuda dengan rantai mengikat pergelangan kaki patung itu dengan rune pengekangan.


"Aneh sekali, kenapa patung ini sangat panas dengan hawa yang sama dengan helios? Apa hanya perasaanku saja ya?." Kata Shiro sambil berpikir keras.


"Ah sudahlah. Coba aku lihat lebih dekat lagi." Ucap Shiro, lalu dia mulai melompat dipunggung patung itu dan mendekati kepala burung dengan dekat.


Namun, tanpa diduga mata patung itu langsung terbuka dengan lebar dengan hawa membunuh yang kental langsung keluar dan menekan Shiro.


"Nyawww.....!!!" Teriak Shiro terkejut khas suara kucingnya, sampai dia terjatuh dilantai dengan kasar serta bulu putih miliknya berdiri dengan tegap. Hal itu membuat Shiro seperti landak namun tanpa duri.

__ADS_1


"Hei....! Jangan membuatku mati karena terkejut. Dan hentikan tatapan mu itu, aku juga bisa melakukan hal yang sama dengan mu...!" Teriak Shiro dengan marah, dan juga ia memelototi balik patung burung Garuda itu dengan menantang.


"Ghoorrrr.....!" Teriak patung itu dengan marah, kemudian satu persatu potongan batu jatuh dilantai dengan sisi lain batu berpijar dan memberikan hawa panas yang sangat besar, lebih besar dari pada sebelumnya.


Shiro terdiam dalam seribu bahasa dan memandangi burung Garuda yang sebelumnya menjadi patung. Rune ungu melekat di kepala sang burung Garuda yang menandakan kalau dia dalam keadaan dikendalikan. Satu kata langsung terlintas dipikiran Shiro.


"Helios."


Setelah mengucapkan kata itu, sebuah batu besar dengan api membara langsung menghujam Shiro dengan sangat keras, kesadaran Shiro langsung kembali pulih dan sesegar mungkin menghindari serangan dari saudaranya yang dalam kendali rune perbudakan.


"Ke-kenapa kekuatan element Soleil ada pada mu, helios? A-apa yang kamu lakukan padanya?" Tanya Shiro dengan suara yang bergetar.


"Rino.....!!!! Giel akan membantu mu....!!!!" Teriak Rugiel dengan semangat.


"....." Shiro sangat terkejut dengan kedatangan Rugiel yang begitu cepat, hingga membuatnya tidak tau harus berkata apa.


"Rino, awas....!" Rugiel berteriak memperingati Shiro yang mematung, sebuah baru berpijar langsung menghantam Shiro.


BUUMMM....


Shiro langsung menghindar sebelum batu berpijar itu mengenai tubuhnya, dan Shiro langsung menghampiri Rugiel yang berada tidak jauh dari serangan yang diluncurkan oleh Helios.


"Rino, kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Rugiel cemas.


"Aku tidak apa-apa Giel, kenapa kamu bisa sampai disini?" Tanya Shiro penasaran.


"Jangan bahas itu sekarang, lebih baik kita kalahkan monster itu terlebih dahulu!" Ucap Rugiel dengan semangat.

__ADS_1


"Dia bukan monster Giel, dia adalah Helios." Kata Shiro dengan nada yang lemah.


"Apa?! Katakan sekali lagi, tidak mungkin dia Lio?!..." Ucap Rugiel tidak percaya.


__ADS_2