Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 24


__ADS_3

Rumor seorang gadis yang telah membuat putra dari seorang jendral menjadi mandul tersebar seperti asap yang tertiup angin. Membuat jendral kekaisaran Selatan menjadi geram karena putra satu-satunya yang ia banggakan kini menjadi cacat dan menyedihkan.


Istri dari jendral terus menangis meminta keadilan terhadap putra semata wayangnya itu, anak yang ia rawat secara hati-hati kini menjadi barang rusak.


"Suami, kamu harus menangkap gadis itu untuk mengembalikan nama baik putra kita, apa kamu mau putra kita satu-satunya menjadi orang yang tak berguna dan menjadi bahan ejekan seluruh kekaisaran ini?" Keluh sang istri disela tangisannya.


"Tenanglah istriku, aku pasti akan menghukum gadis kurang ajar itu dengan kedua tanganku, sampai ia meminta kematian." Bujuk sang jendral kepada istrinya.


Mata sang jendral dipenuhi dengan rasa amarah dan haus darah yang ketara dikedua matanya yang coklat.


"Benarkah suami, kamu harus menghukumnya demi anak kita." Ucap sang istri sambil memeluk sang Jendral, kecupan ringan mendarat di bibir sang istri yang lembut dengan warna merah ceri.


Kecupan ringan kini menjadi pergulatan sengit diatas kasur, suara rintihan dan erangan terus menggema dalam ruangan itu hingga dini hari menjelang. Membuat para penjaga yang ada didepan pintu ruangan itu tersipu dan memendam birahi mereka sendiri tanpa pelampiasan. Namun kegiatan itu masih terus berlanjut sampai sang istri pingsan, sehingga kegiatan itu berhenti.


Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, istilah ini sangatlah cocok bagi ayah dan anak yang sama-sama liar dalam nafsu birahi dan membuat keributan dimana-mana.


Semua orang tau tentang kebejatan jendral dan anaknya, namun kaisar membiarkan kelakuan jenderalnya dan menutup mata dengan keluhan rakyatnya yang sudah lama menggema dalam laporan keluhan setiap minggunya.


Kaisar juga tak berani mengusik rumah jenderalnya, yang penuh dengan wanita penggoda. Dan juga takut karena salah satu pilar dunia berada di genggaman jendral. Hewan itu berupa elang dengan tubuh singa yang dikenal sebagai Rugiel sang pembawa petir. Itulah yang membuat kaisar tidak berani memperingati jenderalnya itu.


Namun, kaisar merasa bersyukur karena ada seseorang yang berani memperingati kelakuan bejat dari tuan muda jenderalnya itu dan membuatnya cacat seumur hidupnya.


Pagi hari menjelang, Aquila yang masih tertidur di kasur penginapan dan ditemani oleh hewan yang selalu mengikutinya, sedangkan Minami sudah terbangun dan duduk didepan jendela yang mengarah langsung kearah hutan yang dulunya adalah kekuasaan milik bangsa elf.


Perasaan sedih dan kerinduan dalam hatinya kini meluap dalam bentuk aliran air dari matanya yang indah. Aquila bangun dari tidur nyenyak nya dan melihat Minami yang tengah menangis dalam diam.

__ADS_1


Aquila turun dari tempat tidurnya dan langsung memeluk Minami yang tengah menagis dalam diam. Kehangatan pelukan Aquila membuat Minami menjadi tenang dan menghapus air matanya dengan lengan baju yang hitam.


"Kakak jangan bersedih, aku Kak Leave dan Shiro akan selau disamping kakak." Ucap Aquila menegakan.


Minami menghapus air mata yang tersisa di pipinya dan menepuk kepala Aquila dengan lembut.


"Maafkan kakak nona, kakak hanya terbawa arus kesedihan akan tempat tinggal bangsaku yang dulu." Sambil melihat hutan yang hijau nan asri yang tidak jauh dari penginapan yang mereka singgahi.


"Bagaimana kalau kita berkeliling hutan siang ini?" Tanya Aquila dengan semangat.


"Tentu saja, di manapun nona berada, saya akan selalu mengikuti nona."


"Kakak, sudah berulang kali aku ucapkan, jangan berbicara formal kepadaku." Aquila menggembungkan pipinya karena marah.


"Baiklah, Saatnya nona bersiap-siap. Aku akan membangunkan nona Leave dan tuan Shiro." Minami pun berdiri.


Saat keluar dari kamar mandi, Leave dan Shiro sudah dalam wujud manusia. Tampilan fisik mereka berdua sangatlah mencolok sehingga mereka hanya bisa keluar dalam wujud hewan nya saja. Bila diketahui manusia yang lain akan memicu pemburuan dan pembunuhan. Sebab magical beast sangat lah langka dalam bentuk manusia.


"Tumben sekali adik kecilku bangun dari tidurnya, aku kira kamu akan menjadi kucing tidur untuk selamanya." Aquila sambil mengejek Shiro yang setelah keluar dari hutan Catarino Shiro mengalami tidur panjang.


"Aku bukan kucing tidur kakak, aku hanya menyesuaikan kondisiku saja. Karena ini bukan wilayahku, tapi milik saudaraku Rugiel si petir yang tempramen." Jelas Shiro.


"Oh jadi sebab itu, kami jadi kucing tidur ya?" Kata Aquila sambil menggoda Shiro, sedangkan Minami dan Leave memakan sarapan mereka dengan tenang.


Keributan Aquila dan Shiro masih berlanjut hingga Minami dan Leave menyelesaikan sarapan mereka.

__ADS_1


"Nona, tuan apa kalian tidak sarapan? Makanannya sudah hampir dingin." Kata Leave memperingati mereka yang masih asik dengan perdebatan yang tidak berguna.


"Apa..?! roti bakar ku..." Aquila histeris melihat roti bakarnya yang sudah melunak.


Sedangkan Shiro santai saja, sebab ikan gorengnya masih hangat dan mengepulkan uap dari dalamnya.


"Shiro bagi aku ikanmu.!" Aquila sambil mengambil ikan yang ada di piring Shiro, Shiro pun langsung menjauhkan piringnya dari hadapan Aquila.


"Kakak sudah memiliki sarapan sendiri, kenapa harus meminta punyaku."


"Dasar pelit, awas saja nanti." Kata Aquila sambil mengembangkan pipinya yang cabi dan terlihat imut.


Minami dan Leave hanya bisa terdiam melihat kelakuan nona dan tuan mereka yang sangat imut itu. Setelah sarapan selesai, Minami langsung membereskan alat makan dan meletakan dalam wadah khusus sedangkan Leave kembali kewujud rusa kecil yang menggemaskan.


"Kak, aku akan berkeliling sebentar. jangan membuat keributan oke?" Shiro memperingati Aquila yang biasanya masalah selalu menghampirinya kapanpun itu.


Seperti dihutan Catarino dulu, saat Aquila dan Shiro jalan-jalan para magical beast langsung mengerubungi Aquila dan membuat Shiro kesusahan membubarkan nya dan akhirnya mereka pulang larut malam dan saat pulang ditatap tajam oleh Minami dan Leave.


"Aku mengerti, aku juga ingin pergi jalan-jalan dipinggiran hutan." Kata Aquila sambil membenarkan tatanan rambutnya yang panjang.


"Hemmm. Baiklah, sampai jumpa." Ucap Shiro sambil meloncat dari jendela yang berada dilantai tiga.


"Dasar kucing, langsung pergi saja. huh.!" Aquila sambil mendengus tak suka.


"Daripada memikirkan kucing itu, lebih baik kita juga pergi. Ayo kak." Kata Aquila sambil membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Baik nona." Ucap Minami sambil mengikuti langkah kaki Aquila yang telah mendahuluinya.


__ADS_2