Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
Bab 153


__ADS_3

Air mata dari sang Mega berjatuhan di atas negeri Dahana yang bersimbah darah manusia dan hewan yang mati dalam peperangan. Sang Surya dengan sangat enggan menapakkan kilau cahayanya yang menghangatkan bumi Callista.


Air yang berjatuhan langsung menguap ketika bersentuhan dengan lava pijar yang memancarkan cahaya jingga nan panas. Hiruk pikuk orang-orang berlalu lalang mengambil mayat-mayat yang tidak bernyawa untuk di keremasikan, sebab peperangan telah usai saat sang kaisar Samudra ditahan oleh Maharani kekaisaran Dahana.


Sedangkan para raja atau kaisar dari wilayah lain langsung pulang ke wilayah yang mereka kuasai, kecuali kaisar selatan dan Zemelya yang sedang di jamu oleh Maharani kekaisaran Dahana atas bantuan mereka yang membela kekaisaran Dahana.


Air mata Mega masih terus tercurahkan seakan ikut menangisi sang Messiah yang sudah berpulang meninggalkan segalanya yang dia miliki di dunia. Sang pilar dunia Callista merasa sangat terpukul dengan kepergian sang kakak yang sangat tidak terduga.


Sedangkan kedua kakak sang Messiah dan seorang saint yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri tengah menahan tangis mereka agar tidak keluar dari pelupuk mata mereka. Erlando yang berada dari kejauhan hanya bisa terduduk lemah melihat jazad adiknya yang sudah pucat.


Air matanya mengalir dengan sangat deras, seakan tidak menyangka kalau adiknya sudah meninggalkan nya untuk selamanya.


"Kenapa? Kenapa kamu meninggalkan kakak Aquila? Apa kakakmu ini tidak pantas untuk membuatmu bahagia sehingga kamu tega meninggalkan kakak disini?" Tanya Erlando bertubi-tubi sambil memukul tanah melampiaskan kesedihannya yang sudah memuncak.


"Aku tidak meninggalkan kakak sendiri, tapi aku hidup didalam hati kakak untuk selamanya. Jadi kakak sedih atas kepergian ku." Ucap sosok gadis yang sangat mirip dengan Aquila. Senyum manis terpatri dengan indah diwajahnya yang ayu, dan kemudian sosok itu langsung memeluk Erlando dan menghilang.


"Hiks.... Te-tentu saja, kamu akan terus hidup dalam hati ku, adik tercintaku Aquila." Ucap Erlando sambil membalas pelukan sosok itu.


"Jadi, aku harap kakak terus menjaga senyuman kakak, aku tidak ingin kakak merasa sedih. Aku ingin kakak bahagia, jaga diri kakak dan selamat tinggal." Ucap sosok itu dan kemudian menghilang dan menyisakan aroma bunga wisteria yang semerbak.


Sementara itu, tubuh Aquila yang sudah tidak bernyawa masih dikelilingi oleh Minami, Leave, Rin dan para pilar dunia Callista dan hanya menyisakan kesedihan yang mendalam.


"Hiks... kak Aquila, kenapa kakak tega sekali meninggal Giel, Giel ingin ikut dengan kakak..." kata Rugiel dengan putus asa.

__ADS_1


"Kalau tidak ada kak Aquila, aku merasa ditelan kembali oleh malam yang pekat tanpa cahaya. Kak Aquila, aku mohon, buka matamu untuk kami." Kata Adrian yang berada didekat telinga Aquila.


"Kak Dita, bangunlah untuk aku dan para saudaraku, kakak harus bangun untuk membawa Ignatius kembali berkumpul bersama kami." Kata Nix berusaha menguatkan hatinya yang teriris oleh duka.


"Hua......!!! kakak..... aku akan bersikap baik dimasa depan, aku mohon buka matamu.... " Teriak Vent Leger yang tidak sanggup Lagi menahan sikap acuh tidak perduli.


"Bodoh... Hiks... Jangan membuatku semakin sedih..." Kata Helios sambil mematuk kepala serigala putih yang dia hinggapi.


"Apa kak Aquila tidak bisa diselamatkan lagi Rino?" Tanya Soleil kepada Shiro dengan mengusap kasar air matanya.


Sedangkan Shiro hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah tidak berdaya, tentu saja Shiro lah yang paling terluka dengan kepergian Aquila.


"Dita... kau bodoh...!!! Bercanda mu sudah keterlaluan, bangun.....!!!! Jangan membuatku semakin tersiksa bodoh....!!!!" Kata Rin sambil menggoyangkan tubuh dingin sahabatnya itu.


Minami juga hanya membeku tidak percaya tentang semua yang dia alami, Kepergian orang yang sangat dia hormati dan sayangi sangat membuatnya tepukul dan membekas di jiwanya.


"Apa aku ikut saja denganmu nona? aku sudah lelah, biarkan aku saja yang menggantikan mu." Kata Minami putus asa.


"Apa yang kamu katakan kak Nami, aku mati karena sudah takdirku. Kak Nami harus hidup apa pun yang terjadi. Aku titipkan adik-adik ku pada mu. Kak Nami, aku menyayangimu Hiduplah dengan bangga meski itu menyakitkan, banyak orang yang berjuang untuk hidup. Aku harap kak Nami bisa hidup dengan penuh kebahagian. Jangan membuatku sedih di kehidupan ku selanjutnya." Kata Aquila yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka semua.


"Kakak.....!!" Teriak Vent Leger sambil melompat untuk memeluk Aquila, namun dia hanya menembus tubuh transparan Aquila yang melayang dihadapan mereka.


"Kenapa?" Tanya Vent Leger tidak percaya.

__ADS_1


Aquila hanya tersenyum dan menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Vent Leger. "Maafkan aku Eger, aku akan memelukmu nanti, jadi jangan bersedih. Aku tidak mau melihat air mata dari adik-adik ku." Kata Aquila sambil memandang Vent Leger penuh kasih.


"Shiro, datanglah ke istana kekaisaran Dahana, temui lah Maharani, jemput lah saudaramu di sana, dia sedang menunggumu." Kata Aquila kepada sekor kucing besar yang tengah menyangga tubuh fisiknya yang tidak bernyawa.


"Bagaimana? Aku tidak mau meninggalkan tubuh kakak meski hanya selangkah." Tolak Shiro dengan tegas.


"Ternyata adik kecilku mulai egois ya. Aku ingin kalian berkumpul dengan lengkap meski masih ada yang belum bangun. Ha ha ha..." Kata Aquila menanggapi keengganan Shiro yang tidak ingin berpisah dengan jazadnya itu.


"Tapi....."


"Shiro... jemputlah dia." Potong Aquila dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Baiklah...." Kata Shiro yang terlihat sangat enggan dan lunglai untuk sekedar melangkahkan kaki besarnya.


Aquila yang harusnya sudah tidak ada di dunia Callista, namun kebaikan Dewi Callista memberikan kesempatan kedua bagi Aquila yang tidak lain Dita untuk bertemu dengan sahabatnya Rin, ketiga kakaknya Erlando, Leave dan Minami serta para pilar dunia Callista yang Dita anggap sebagai adiknya sendiri.


"Nona, apa aku tidak salah melihat kan? Atau pikiranku sedang kacau karena tidak bisa menghadapi kenyataan ini?" Kata Minami yang terus menggosok kedua matanya yang kabur karena air mata.


Leave yang masih menundukkan kepalanya langsung mengangkat kepalanya yang lunglai, sebab perkataan Minami yang terdengar meragukan penglihatannya sendiri. Leave membekalkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia lihat sama dengan apa yang dirasakan Minami.


"Nona.....!!!" Teriak Leave putus asa sambil berlari untuk memeluk tubuh transparan Aquila.


Namun, apa yang Leave lakukan menjadikan percuma, sebab tubuh Leave langsung menembus tubuh Aquila seperti desiran angin yang berhembus kencang di rambut perak milik Leave.

__ADS_1


Aquila hanya bisa tersenyum kecewa karena tidak bisa memeluk Leave yang sangat putus asa itu, air mata Leave tidak bisa terbendung lagi dan langsung berderai layaknya air terjun yang jatuh dari tebing.


__ADS_2