
Saat merasakan kejadian yang menurutnya aneh itu, Dita menjadi sangat was-was akan sekitarnya. Karena dapat melihat kejanggalan yang ada di toko Rin. seperti cahaya bertebaran di sekitarnya, menampilkan warna yang sangat cantik.
"Ada apa dengan penglihatan ku ini?" Dita merasa aneh akan penglihatannya itu. kemudian semuanya menjadi buram dan gelap.
Rin merasa heran kepada Dita yang sedari tadi belum muncul. Rin memutuskan untuk menghampiri Dita yang berada ditempat minum yang sudah terlalu lama.
Betapa terkejutnya Rin melihat Dita yang tergeletak di dekat tempat minum.
"Dita, bangun! jangan membuatku takut!" Rin sambil memukul pelan pipi Dita agar tersadar dari pingsannya.
Rin yang melihat Dita tak kunjung sadar pingsannya, membuat Rin semakin panik.
"Apa yang aku harus lakukan, Dita bangun!" Rin merasa sedih dan berderai air mata melihat Dita yang tak kunjung sadar.
Dita mulai membuka matanya, dan melihat sekelilingnya. melihat Rin yang tengah menopang kepala Dita dan sambil menghilangkan air matanya yang terus mengalir .
" Kamu jangan membuatku takut " isak Rin dengan rasa takut.
"Memang apa yang terjadi?" tanya Dita dengan menampilkan wajah pucat nya.
"Kamu baru saja pingsan, lebih baik kamu ku antar ke rumah sakit ya." Bujuk Rin sambil mengangkat Dita.
"Tidak perlu repot Rin. Aku masih kuat kok." Dengan menampilkan senyuman yang lemah.
"Kamu jangan sok kuat kaya gitu, lihatlah wajahmu yang seperti mayat hidup itu." Rin yang merasa jengah dengan sikap keras kepala yang selalu melekat.
Melihat Rin yang sangat khawatir dengan nya, membuat hati Dita menjadi hangat.
"Aku antar kan kamu pulang saja ya?" Tawar Rin.
"Tidak perlu Rin, lalu siapa yang akan menjaga toko jika kamu mengantarku pulang?"
"Aku bisa menaiki taksi Rin untuk pulang." Imbuh Dita meyakinkan Rin yang tengah khawatir .
Rin menyerah karena keras kepala temanya sedari dulu. Dan mengantarkan Dita sampai didepan taksi, kemudian Dita membuka pintu taksi dan langsung masuk kedalamnya.
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi Dita melaju meninggalkan Rin yang berada dipinggir jalan. Dita terkejut melihat hewan yang aneh yang duduk dipundak sopir sambil menampilkan gigi taring dan meneteskan air liur.
Hal tersebut membuat Dita merasa merinding sekaligus jijik melihat hewan aneh tersebut. Sopir yang melihat Dita dari kaca yang terpasang didepan hanya merasa aneh saja melihat kelakuan Dita.
Sesampainya didepan gerbang rumahnya, Dita langsung turun dan membayar ongkos dan langsung masuk ke pekarangan rumah.
Dita yang memandang rumah sederhana dan dikelilingi berbagai macam bunga membuat Dita merasa tenang. Dita melihat kucing ya dia temukan kemarin duduk di atas meja yang berada di teras rumah seakan-akan menyambut Dita dengan suara meonganya itu.
Dita yang melihat kelakuan kucing putih itu hanya tersenyum dan langsung menghampiri kucing itu. Dita yang melihat tanda yang serupa di keningnya dengan kucing putih tersebut membuat Dita terheran.
"tanda itu? apa yang terjadi?" Dita yang merasa terkejut langsung terduduk kebingungan dan mencerna apa yang menimpanya.
Kucing putih tersebut menghampiri Dita dan menyentuh tangan Dita, seakan-akan menenangkan Dita yang terkejut. Kucing putih itu memandang Dita penuh harapan dengan mata berkaca-kaca.
Dita yang menyaksikan kelakuan kucing putih itu hanya merasa heran. Seakan mengerti yang Dita rasakan. Kemudian Dita membelai kucing putih untuk menenangkan nya.
"Hei kucing kecil, kenapa kamu menatapku seperti itu?" Dita yang terheran akan kelakuan kucing putih itu.
"Ngomong-ngomong kamu belum punya nama." Kucing itu hanya memandang Dita dengan sangat menggemaskan. Dita hanya terkekeh akan kelakuan kucing tersebut.
Setelah kucing putih itu diberi nama oleh Dita, asap putih menutupi Shiro membuat Dita terheran. Apa yang sebenarnya terjadi?
Setelah asap putih itu menghilang, Shiro menampilkan wujud yang begitu cantik dan gagah. badan Shiro memiliki warna putih bergradasi biru pucat keemasa dan memiliki 9 ekor yang sangat cantik, setiap ekor memiliki warna yang berbeda. seperti warna biru metalik, jingga, emas, ungu kehitaman, coklat kayu, kuning, hijau muda, putih keperakan, dan merah maroon.
Dita yang melihat hal tersebut hanya menampilkan wajah yang terkejut dan mulut sedikit terbuka.
"Apakah ini kucing kecilku Shiro?" Tanya Dita tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
" Tuan...."
"........." Dita terdiam ketika suara yang memasuki kepalanya, kemudian mencari sumber suara tersebut. merasa tidak ada yang memanggilnya Dita memalingkan ke arah kucing besar tadi.
"Tuan, apa yang anda cari?" Dita hanya memandang kucing itu dengan tidak percaya.
" A-apa kamu yang berbicara?" Tanya Dita dengan suara bergetar.
__ADS_1
" benar tuan."
"Lalu dimana kucingku, Shiro?" Sambil melihat sekeliling mencari dimana kucing nya.
"Tuan, hamba ada di depan anda." kata kucing berukuran besar itu.
" Shiro tidak mungkin sebesar itu." Dita merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tiba-tiba asap putih kembali menutupi tubuh kucing besar tadi yang mengaku Shiro. Tampil lah kucing kecil yang menggemaskan dan menghampiri Dita yang masih terkejut akibat kejadian yang baru terjadi.
"Tuan, apakah anda masih tidak percaya. bahwa hamba adalah Shiro?" Kata kucing tadi sambil menghampiri Dita yang masih belum sadar dengan yang terjadi.
"Tapi bagaimana bisa Shiro berubah menjadi sebesar itu?" Dita dengan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Tuan, karena anda memberikan hamba sebuah nama, itu sama saja memberikan sebuah kekuatan untuk menjadi wujud sempurna hamba. jika tuan tidak memberi hamba nama, maka selamanya hamba akan menjadi kucing kecil yang tidak bisa melindungi tuan." Jelas Shiro.
"Apa maksudmu dengan melindungi ku, dan jangan memanggilku tuan. itu tidak membuatku nyaman." Tutur Dita dengan penekanan. Shiro yang mendengarkan hal itu membuatnya sangat terharu. Di dunianya yang dulu, Shiro hanya dianggap sebagai budak oleh orang-orang yang dibutakan keserakahan meskipun dia salah satu yang terpenting. membuat Shiro bersumpah dalam benaknya untuk melindungi Dita sepenuh hati sampai mengorbankan jiwanya.
Dita yang melihat Shiro heran, sebab mata Shiro yang berkaca-kaca dan menampilkan penuh tekat.
"Ehem.." Shiro tersadar dari lamunannya akibat batuk kan Dita.
"Tuan...."
"Jangan panggil aku tuan, anggap aku sebagai kakakmu saja Shiro." Shiro yang mendengarkan apa yang dikatakan Dita sangat bahagia dan langsung meloncat kepangkuan Dita.
" Kakak, terima kasih." Dita yang menyaksikan perlakuan Shiro hanya membelai bulu Shiro dengan lembut.
"Jadi Shiro, apa yang kamu maksud dengan melindungi ku?" tanya Dita sambil mengalihkan perhatiannya.
"Apa kakak, tidak merasa kejadian aneh akhir-akhir ini? seperti melihat cahaya yang berterbangan, atau hewan yang aneh?" Tanya Shiro lugas.
Deg...
Apa yang dikatakan Shiro langsung membuat Dita membisu dengan kejadian yang barusan Dita alami.
__ADS_1