Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 36


__ADS_3

Dengkuran demi dengkuran semakin lama semakin keras membuat siapapun yang mendengarkan akan menjadi bingung. Itu suara dengkuran kucing atau harimau?


Minami dan Leave terbangun dari tidurnya dan langsung mengeluarkan senjata andalan mereka dan mengarahkannya kearah suara dengkuran tadi, tapi apa yang mereka lihat hanyalah seorang anak yang manja dengan dengkuran khas miliknya sendiri.


Muka yang belumnya waspada kini menjadi kaku lantaran terkejut dengan apa yang ada dihadapan mereka. Kemesraan saudara yang terlihat kental dan romantis, salah satu tidur dipangkuan sedangkan yang lain mendapat belaian dirambutnya dengan gemas.


"Huuuhhh.... Mengejutkan saja, aku kira ada bahaya. Eh, ternyata hanya suara tuan Shiro." Keluhan keluar dari mulut manis Minami dan memasukkan belatinya kedalam sarungnya.


"Benar sekali. Membuat jantungku mau lepas dari tempatnya." Timpa Leave sambil mengelus dadanya yang lumayan besar.


Kemudian mereka berdua mulai melakukan kegiatan masing-masing, seperti membuat sarapan atau membereskan alat tidur yang mereka gunakan. Api yang sebelumnya padam kini menjadi membara kembali dan membumbung kan asap keudara dan menyatu dengan embun kabut pagi yang dingin.


Kabut dipermukaan danau menghilang dan digantikan cahaya matahari yang memantulkan sinarnya dipermukaan danau, tanah yang berlubang terlihat jelas dengan noda hitam disekitarnya yang menandakan kalau terdapat percikan api.


Shiro yang telah puas pun menyandarkan kepalanya ke pundak Aquila dan memejamkan matanya, Aquila hanya bisa pasrah saja dengan kelakuan adiknya yang manja setelah menyelamatkan saudaranya yang belum sadarkan diri.


"Nona, sarapannya telah disiapkan." Ucap Leave sambil membawa nampan yang berisi semagkuk bubur dan roti yang dipanggang dengan sempurna dengan telur setengah matang sebagai menu pelengkap. Minami juga membawa nampan yang berisi air putih dengan roti isi sayuran dan ikan panggang.


Shiro yang awalnya memejamkan mata kini terbangun akibat bau harum dari makanan yang mereka bawa. Leave dan Minami duduk dihadapan Aquila dan meletakkan nampan yang mereka bawa dihadapan Aquila.


Shiro langsung mengambil ikan yang dipanggang tanpa memerhatikan sekitarnya, Aquila mendengus tidak suka dengan kelakuan adiknya yang tidak ada sopannya itu.


"Kenapa kamu suka sekali makan dahulu Shiro." Tegur Aquila.


"Aku sangat lapar kak, sedari tadi malam aku belum makan."Jawab Shiro sambil mengunyah dan membuat makanan yang ada didalam mulutnya sedikit terlontar keluar.

__ADS_1


"Setidaknya telan dulu makananmu," Ucap Aquila dengan nada yang jijik.


"Maaf kak." Shiro mengucapkan dengan wajah tak berdosanya.


Leave dan Minami memakan sarapan mereka dengan hening dan tidak menghiraukan perdebatan saudara yang ada dihadapan mereka yang rutin terjadi.


"Terserah kau saja Shiro, tapi lain kali kamu harus memperhatikannya. Kalau tidak kamu akan tau akibatnya." Ucap Aquila dengan wajah yang selalu tersenyum namun Shiro merasakan hal yang buruk akan terjadi bila dia mengabaikannya.


"Ba-baik kak." Kata Shiro dengan terbata. Seketika suasana menjadi hening kecuali suara kicauan burung dan jangkrik ditepi danau yang keruh.


Setelah sarapan usai, Aquila mengambil selimut yang dikenakan oleh Rugiel dan melipatnya lalu meletakkannya sebagia bantal. Setelah itu Aquila melangkahkan kakinya kearah lubang yang lumayan besar dan berdiameter sekitar sepuluh meter dengan sisinya yang gersang. menandakan kalau tanah yang dia pijak mengalami kemerosotan unsur hara secara signifikan.


'Pantas saja, kalau banyak pohon yang mati dan berdaun hitam' Ucap Aquila lalu menggambar rune kuno sederhana.


Setelah selesai, Aquila menyalurkan mananya kerune yang telah ia buat, rune mengeluarkan cahaya kecoklatan seketika lubang yang menganga kembali kebentuk semula dengan rumput hijau tumbuh di permukaannya dan menyebar ke seluruh daratan itu tidak terkecuali dengan pohon yang mati atau daun menghitam kini menjadi hijau.


Magical beast yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam dan kagum dengan apa yang dilakukan oleh Messiah mereka.


Setelah sampai ditengah danau yang cukup jauh dari daratan, Aquila berjongkok dan menyentuhkan jari telunjuknya kepermukaan danau, rune kuno menyebar dipermukaan danau dan mengeluarkan cahaya biru, seketika air danau berubah menjadi jernih dan bunga teratai tumbuh ditepi danau dengan warna merah keunguan serta putih bersih.


Bunga lotus dan Bakung terlihat bersaing untuk menapilkan kecantikan mereka, capung dan kupu-kupu berterbangan dan hinggap didaun atau bunga. Katak keluar dari dalam air dan duduk didaun teratai yang lebar dan mengeluarkan suaranya yang khas untuk menarik perhatian kawanan yang lain untuk bergabung dengan dirinya yang menikmati cahaya pagi.


Suasana yang sebelumnya tenangkini berisik dengan suara katak yang terus menggema dengan kicaun burung yang entah dari mana. Para magical beast pergi ke tepi danau yang sebelumnya terlihat suram kini menjadi sangat indah.


Permukaan danau yang keruh kini menjadi cermin besar yang bisa memantulkan bayangan dari langit, awan dan matahari seakan memiliki saudara.

__ADS_1


Sebuah menara dengan dinding kuning emas kusam dan ornamen yang hampir mirip dengan menara yang ada di hutan Catarino dan mengeluarkan cahaya berwarna kuning mengarah ke langit yang biru.


Menara itu melayang dipermukaan danau yang tenang, Aquila merasa takjub dengan menara yang melayang diatasnya itu, tidak terkecuali mereka yang ada ditepi danau. Shiro melangkahkan kakinya dipermukaan untuk menyusul kakaknya yang menjadi patung hidup seperti sebelumnya pada saat pertama kali melihat menara yang sama.


"Kakak, sadarlah. Apa kamu akan kembali menjadi patung hidup?" Shiro sambil menggoyangkan bahu Aquila yang kaku.


"Apa kamu melihatnya Shiro, menara itu melayang!" Ucap Aquila dengan mata yang menuju menara diatas nya.


"Kakak, sudahlah. Jangan seperti orang bodoh."


"Apa kamu bilang? Bodoh!?" Aquila berteriak tidak terima dikatai bodoh.


Shiro seketika langsung diam merutuki perkataanya yang membuat kakaknya marah seperti biasanya.


"Kakak tidak bodoh, tapi kelakuan kakak seperti orang bodoh." Ucap Shiro sambil memalingkan muka.


"Sekali lagi kamu bilang bodoh. Lihat saja nanti." Kata Aquila dengan air ditelapak tangannya.


"Kakak seperti orang bod-"Sebuah bola air menampar muka Shiro sebelum menyelesaikan ucapannya. Rambutnya yang rapih kini menjadi basah dan tak lupa juga dengan baju yang dia kenakan ikut basah.


"Kakak, kenapa kamu tega sekali dengan adikmu yang imut dan tampan ini."


"Aku tidak perduli, dan juga kamu belum mandi kan?" Ucap Aquila dengan senyum sinis yang tergambar diwajahnya yang dingin.


Shiro menelan ludahnya secara kasar dan berjalan mundur untuk melarikan dirinya dari amukan kakaknya. Saat akan melarikan diri, sebuah gelombang air menghantam Shiro yang mematung.

__ADS_1


Alhasil Shiro terbawa gelombang itu dan kemudian muncul dipermukaan danau yang dingin dengan wajah yang akan menagis.


__ADS_2