Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 136


__ADS_3

Lingkaran es itu telah hancur dan hanya menyisakan serpihan es tajam, sedangkan dari balik lingkaran itu hanya terlihat kabut putih menghalangi pandangan mereka untuk melihat jauh didalamnya.


Rasa kebas ditangan Aquila kini semakin terasa hingga Aquila tidak bisa merasakan tangannya lagi akibat suhu yang sangat ekstrim itu, namun diabaikan sepenuhnya oleh Aquila yang sudah tidak sabar untuk menyelesaikan tugasnya. Rin hanya bisa mengamati dari kejauhan bersama dengan para pilar yang terlihat cemas dengan manusia yang mereka sayangi dan juga dengan saudara mereka yang dicintai.


CRING.....!!!!


Suara gemerincing rantai terdengar nyaring meski terhalang oleh kabut tebal dan menyembunyikan dibaliknya. Suara gemerincing rantai masih terus terdengar menandakan kalau ada mahluk hidup yang berusaha membebaskan dirinya dari pengekangan yang sudah dirasakan olehnya selama berpuluh-puluh tahun.


"Akhirnya kau datang juga manusia. Kau kemari pasti disuruh manusia jahanam itu kan? Tapi, jangan harap aku akan menurutimu, tidak Sudi aku kau jadikan alat penghancur dunia milik ibu ku." Ucap sesosok siluet tertutup kabut itu.


"Sayangnya...." Kata Aquila dengan mengangkat salah satu tangannya, dan kemudian sebuah rune melayang di tangan Aquila dan bercahaya abu-abu, dan seketika kabut yang menutupi tempat itu terhempas oleh angin yang cukup kencang.


"Aku bukan manusia yang ingin menjadikan mu sebuah senjata yang kau pikirkan." Ucap Aquila dengan wajah acuh.


"Kau pikir, aku akan percaya begitu saja dengan semua ucapan mu itu, jangan bermimpi..!!!" Katanya dengan penuh kebencian.


"Kau cerewet sekali. Lebih baik diam dan jangan menggangguku untuk membuka rantai ini." Kata Aquila yang tiba-tiba tepat dihadapan sosok tadi yang ternyata adalah seekor macan tutul salju.


"Apa yang kau lakukan manusia licik. Menjauhkan dari ku....!" Katanya dengan menatap Aquila jijik seakan dia hanyalah parasit yang akan membuatnya mati, dan juga dia mengerakkan tubuhnya agar tidak dapat disentuh oleh Aquila.


"Tidak hanya cerewet, kau cukup membuatku kewalahan. Diam lah, atau kau tidak akan bertemu dengan saudaramu yang lain." Kata Aquila dengan sedikit mengancam.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan dengan saudaraku...??!!!" Teriaknya nyaring menusuk telinga Aquila, bahkan para pilar yang berada diluar ruangan itu merasakan telinganya berdengung, sedangkan Rin terlihat biasa saja.


"Ternyata kau cukup menyusahkan. Diam. Jangan. Banyak. berbicara." Kata Aquila dengan menekan setiap kata penuh dengan penegasan.


Tubuh macan tutul salju yang sebelumnya memberontak, namun setelah diperingatkan oleh Aquila dengan wajah serius dengan ketegasan yang tidak dibantah olehnya. Namun mulutnya masih saja terus bergumam tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh sosok Aquila yang begitu mengerikan bagi dirinya.


Aquila pun mengamati bagaimana susunan dari rantai yang mengikat tubuh macan tutul salju itu, ternyata cukup rumit dan rantai itu juga dialiri oleh mana yang cukup kuat sehingga akan menyusahkan bila dilepaskan secara paksa.


"Air ya, pantas saja kau tidak bisa lepas dari sini, sebab element milikmu hanyalah es yang membekukan air." Gumam Aquila.


Setelah itu, Aquila pun langsung mengeluarkan uchikatana nya yang dialiri oleh mananya yang berelement api yang sudah mencapai warna biru yang cukup panas dibawah api hitam. Tentu saja tindakan Aquila langsung ditatap tajam oleh macan tutul salju itu dengan negri.


"Lebih baik diam, dan jangan bergerak." Kata Aquila dengan wajah datarnya yang sepenuhnya mengabaikan rasa takut macan tutul itu dan kemudian Aquila mulai mencoba memotong rantai yang diselimuti mana air.


CRAS.... CRAS....


Seperti halnya sebuah mentega bertemu dengan panci yang panas, rantai itu langsung meleleh berubah menjadi cairan pijar yang membara dan memberikan sedikit kehangatan ditempat dingin itu. Macan tutul salju itu menatap Aquila kagum sekaligus waspada, takut akan Aquila yang tiba-tiba menyerangnya seperti saat dia dimasukan dalam tanah sebab dia tidak mau dijadikan alat untuk pemusnah masal seperti saudaranya yang lain.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan manusia?" Tanyanya penuh selidik.


"Bukankah aku sudah mengatakan." Jawab Aquila dengan wajah yang tidak terlihat ekspresinya.

__ADS_1


"Benarkah? Biasanya manusia seperti mu hanya menginginkan kekuatan dan jabatan untuk ditakuti oleh bangsamu sendiri, huh. Aku tidak tau jalan pikiran kalian yang arogan itu." Ucapnya mencibir tidak senang.


"Terserah apa yang kau pikirkan. Lebih baik kau ikut aku keluar dari sini. Atau kau lebih suka terkurung dari pada menemui saudaramu yang lain. Maka dengan senang hati aku akan melakukan hal yang sama." Kata Aquila menatap penuh peringatan pada macan tutul salju itu yang menurut Aquila sangatlah berisik dengan terus mengeluh tidak jelas tentang dirinya yang disamakan dengan manusia penghuni dunia Callista itu.


"Cih, aku tidak Sudi dikurung lagi. Lebih baik aku keluar dan mencari saudaraku yang lain. Dan jangan harap aku akan berterimakasih karena kau membebaskan ku." Ucapnya sambil berjalan mendahului Aquila untuk keluar dari tempat yang sudah mengurungnya itu.


"Terserah apa yang kau bilang. Aku pun tidak perduli jika kau ditangkap lagi oleh mereka. Sebab tugasku hanya membebaskan kalian." Kata Aquila dengan wajah acuh dan datar tidak terlihat emosinya yang entah marah atau tidak suka dengan tingkah mahluk yang baru saja dia lepaskan. Yang notabennya adalah salah satu pilar sang pengendali musim Nix.


"Ya, sepertinya Dita sudah melepaskan mu. Kini saatnya kau ikut bersamaku." Kata Rin sambil menatap macan tutul salju itu dengan mengangkat senjatanya untuk mencegah macan tutul besar itu kabur


"Apa? Ternyata kalian menjebak ku...!!" Teriak Nix marah sebab dia merasa seperti dipermainkan.


"Rin. Berhenti menakut-nakutinya. Dimana mereka?" Kata Aquila memperingati sahabatnya yang terkadang bercanda berlebihan dan membuat orang lain marah atau mencacinya, dan hal itulah yang membaut Aquila terkadang merasa pusing dengan tingkah Rin.


"Oh mereka keluar karena tidak tahan dengan suhu ruangan ini. Dan terutama kucing kecil mu itu dan serigala mirip Coco yang terus-menerus mengeluh akan suhu disini." Jawab Rin dengan memasukan kembali sebilah pedangnya pada sarungnya yang tergantung di pinggangnya.


"Kakak....!!! Kak Aquila baik-baik saja kan? Nix tidak membuat kakak terlukakan?" Tanya Helios yang terbang menukik menghampiri Aquila yang berdiri disamping Rin dan dihadapannya berdiri seekor macan tutul salju yang berukuran besar itu.


"Lio? Kenapa kau ada disini? Disini bukan tempatmu berada?" Tanya Nix beruntun dengan nada suara yang terdengar mencemaskan saudaranya itu.


"Pertanyaan itu nanti saja aku jawab Nix, lebih baik kita keluar dari sini, Rino dan yang lainnya sudah menunggu kita diatas." Kata Helios yang hinggap dipundak Aquila.

__ADS_1


__ADS_2