Penyelamat Yang Dibenci

Penyelamat Yang Dibenci
BAB 91


__ADS_3

Bangku yang tertata rapih kini tengah penuh dengan Para bangsawan atau saudagar yang menantikan pelelangan dari rumah lelang Amoon yang selalu membuka pelelangan dalam setahun sekali sehabis festival doa.


Hiruk pikuk mulai terasa sebelum acara pelelangan dimulai, sangat ramai hingga orang berteriak pun tidak akan mendengar karena terlalu kerasnya suara yang mereka katakan.


Suara lonceng terdengar keras membuat para manusia yang sedang berbincang bincang dengan teman atau kerabatnya langsung terdiam dan hanya suara keras dentingan lonceng. Setelah itu, muncullah seorang perempuan dengan baju yang terbuka dengan warna yang mencolok, sehingga membuat para pria enggan untuk mengalihkan perhatiannya. Sedangkan para perempuan hanya mencibir tidak suka dan tatapan penuh hinaan.


"Terimakasih atas kehadiran para hadirin lelang Amoon pada tahun ini. Saya sebagai pembawa acara dan mewakili dari pemilik lelang Amoon mengucapkan, lelang tahun ini resmi dibuka." Ucap wanita itu dengan suara yang merdu dengan kemolekan tubuhnya, membuat para lelaki bersorak kegirangan.


Lelang pun resmi di mulai dengan barang yang dilelang mulai dari yang terendah sampai yang tinggi. Aquila dan yang lainnya tidak tertarik akan benda atau bahan yang dilelang, karena Aquila memiliki barang yang dilelang dengan kualitas yang lebih unggul.


Setelah bosan menunggu, akhirnya barang yang Aquila incar telah mulai dikeluarkan, yaitu bulu dari salah satu pilar Ignatius sang api yang terkenal akan keindahannya serta dapat memperkuat element api bagi yang menggunakan bulu itu.


Dan kebetulan Aquila hanya ingin memiliki saja dan tidak ingin menggunakannya, karena dia tidak rela bila yang menjadi milik adiknya jatuh ditangan orang lain.


"Ini adalah bulu ekor Phoenix, salah satu pilar yang menjaga keseimbangan dunia Callista. Dan kami mematok lima ratus koin emas setiap penawaran, silahkan dimulai!" Teriak pembawa acara itu.


Penawaran demi penawaran terus bersahut sahutan, persaingan yang sangat ketat hingga pada akhirnya penawar terakhir memberikan harga


dua puluh ribu koin emas dan tidak ada yang berani menawar. Saat akan diumumkan, Aquila langsung menawar.


"Tiga puluh ribu koin emas!" Teriak Aquila dengan suara yang dingin. Sontak saja penawar sebelumnya langsung mencibir tidak suka sebab barang yang hampir jatuh di tangannya diambil.


"Apa ada yang mau menawar lagi?" Namun hanya keheningan yang menjawabnya, lalu sang pembawa acara langsung mengumumkan.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya katakan bulu ekor burung Phoenix jatuh kepada ruang privasi nomer dua." kata sang pembawa acara.


"Barang lelang nomer delapan puluh satu, yaitu peta harta karun kerajaan elf yang telah runtuh, kami belum melakukan ekspedisi menemukan reruntuhan kerajaan elf itu, dan hanya menemukan banyak sekali bahaya. Sehingga kami tidak bisa menelusuri lebih jauh dari peta ini. Dan kami memberikan harga peta ini lima ratus koin emas di setiap kenaikan penawaran." Ucap sang pembawa acara, namun tidak ada yang menawar peta itu karena belum pernah ditelusuri dan bahaya yang selalu mengancam itu, sehingga mereka enggan untuk memiliki peta yang tidak dapat memberikan keuntungan dan hanya memberikan kebuntungan ekonomi saja.


"Seribu koin emas." Tawar Minami dengan suara yang sangat semangat.


Sedangkan orang yang duduk dibawah, mengatai orang yang berada didalam ruang privasi nomer dua adalah orang yang bodoh, namun Minami abaikan karena peta itu adalah hal yang sangat ia inginkan dari lelang yang diselenggarakan oleh bangsawan Sehetpra.


"Apa tidak ada yang mau menawar kembali? Seperti nya tidak ada. kalau begitu peta ini jauh pada ruang privasi nomer dua." Ucap sang pembawa acara.


Lelang terus berlanjut sampai bagian terakhir yang sangat ditunggu oleh para bangsawan, saudagar dan Aquila. Yaitu sebotol kecil racun dari salah satu pilar yang terkenal dengan element kegelapannya yaitu Adrian.


Hingga harga yang dipertaruhkan sangatlah besar, hingga membuat orang yang akan menawarnya berpikir kembali. Dan hal itu membuat Aquila sangat puas.


Para bangsawan dan saudagar kaya langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan puas setelah membayar barang yang mereka dapatkan, serta terdapat yang tidak puas karena barang yang mereka minati tidak bisa mereka miliki.


Begitu juga Aquila, dia juga merasa puas karena mendapatkan barang yang sangat dia inginkan. Lalu Aquila dan Minami pergi ketempat bendahara pembayaran barang lelang untuk membayar tiga barang yang mereka dapatkan dengan harga yang lumayan besar.


Setelah selesai mengurus pembayaran, mereka pergi ke rumah bangsawan sehetpra untuk berpamitan pergi melanjutkan perjalan mereka.


"Terimakasih nona telah bersedia untuk tinggal dirumah sederhana kami dan juga telah menyelamatkan putra ku ini. Aku sangat berhutang Budi kepadamu." Ucap ayah Lufni dengan sopan.


"Tidak perlu dipikirkan. Aku juga merasa senang telah diterima di keluargamu tuan." Kata Minami dengan sopan, sedangkan Aquila hanya terdiam dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Apa kita bisa berjumpa lagi non Minami?" Tanya Lufni dengan rasa was-was.


"Kalau kita berjodoh, pasti akan bertemu kembali tuan muda." Ucap Minami dengan wajah memerah.


"Aku juga mengharapkan itu nona, dan nona Aquila terimakasih telah membuatku pulih kembali. Dan aku akan menjaganya dengan baik." Ucap Lufni dengan memberikan penghormatan.


"Tidak perlu, aku harap kau menepati janjimu." Kata Aquila dengan acuh.


"kalau begitu kami permisi, maaf bila kami merepotkan tuan besar." Kata Minami, kemudian mereka mulai berjalan meninggalkan kediaman bangsawan Sehetpra.


Aquila dan Minami berjalan dijalan utama kerajaan dan tujuan mereka kali ini adalah membebaskan Helios sang matahari yang terpisah jauh dari wilayahnya, yang kini telah gersang dilanda musim kemarau berkepanjangan.


Jalan utama kerajaan Zuwei sangatlah ramai dengan pedagang kaki lima yang berjejer dipinggir jalan utama itu, anak-anak berlarian dengan riang bermain dengan teman sebayanya.


Para budak bekerja dengan sangat keras hingga keringat bercucuran ditubuhnya yang kurus kering terbalut kulit yang menghitam, dan juga dengan bekas luka lama yang melihatnya akan merasa pilu.


Anak-anak yang dulu diselamatkan oleh Aquila dan Minami mengerubungi mereka dan memberikan berbagai benda dan buah sebagai rasa terimakasih.


Tingkah laku anak-anak yang polos itu membuat Aquila mengembangkan senyumannya meski samar, namun dapat dirasakan oleh anak-anak itu. Dan para magical beast yang mengikuti mereka memberikan tanda hormat kepada Aquila dan para pilar yang berada di gendongan Aquila.


Setelah puas menemui sang penyelamat mereka, anak-anak itu langsung memberikan ucapan perpisahan dan Kemabli kekediaman mereka karena hari telah hampir gelap.


"Saatnya kita beraksi." Ucap Aquila dengan senyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2