
Matahari dengan warna yang anggun memanjakan mata menghiasi langit senja yang mulai menghitam disisi lain, burung yang pergi jauh meninggalkan sarang kini kembali untuk menghabiskan malam yang sebentar lagi menjelang.
Tanah vulkanik semakin tidak terlihat namun nyalanya lahar menerangi meski dengan cahayanya yang redup, namun memberikan warna pada batuan hitam pekat.
Nyala bunga api semakin terlihat elok dengan latar langit hitam bertabur bintang yang tidak terhitung jumlahnya membentuk sebuah bayangan dengan imajinasi pada setiap orang yang memandangnya.
Semilir angin malam membelai lembut hewan yang beristirahat dimalam hari, dan juga mengantarkan seseorang kembali ke asalnya dengan tenang.
"Aku akan sangat merindukanmu kak Rin, suatu saat nanti kita akan berkunjung ke sana." Kata Shiro dengan memandang seseorang yang ada dihadapannya itu.
"Akan ku tunggu kunjungan kalian semua dikediaman Dita, meski kita tidak banyak menghabiskan waktu bersama, namun kalian adalah adik dari sahabatku yang berarti kalian adalah adikku juga." Kata Rin yang dapat memperlihatkan senyumannya lagi.
"Tentu. Aku akan ke sana segera mungkin." Kata Adrian semangat.
"Aku sangat penasaran seperti apa tempat tinggal kak Dita didunia itu." Kata Nix.
"Pasti disana sangat nyaman, rasanya aku ingin ikut kesana." Kata Soleil.
"Tidak boleh, Leil harus tetap disini bersama Giel, bila Leil pergi maka Giel juga akan ikut pergi." Ucap Rugiel dengan memegang tangan Soleil erat.
"Apa suatu saat nanti aku boleh berkunjung juga?" Tanya Ignatius ragu.
"Tentu saja, aku tidak akan melarang." Kata Rin.
Minami hanya berdiam diri di belakang para pilar dengan memandang seseorang yang sudah Minami anggap sebagai saudaranya sendiri, yang tidak lain Leave yang akan kembali dimana dia berasal.
"Aku akan sangat merindukanmu Minami, jaga diri mu baik-baik." Kata Leave yang berada di samping Rin dan Coco.
"Aku akan menanti kedatangan mu nona." Kata Minami dengan senyum keengganan.
"Apa kalian sudah selesai? Aku akan membuka portal sekarang." Kata Sebasta kepada Rin dan Leave.
__ADS_1
"Lakukan lah." Kata Leave serius, begitu juga Rin yang terlihat tidak sabar untuk kembali.
Selang beberapa saat kemudian, sebuah lingkaran berwarna biru muda dengan bagian tengah berwarna biru gelap mencerminkan jalan yang panjang yang akan mereka lalui. Rin dan Leave pun melangkah kan kaki mereka bersamaan, sedangkan Coco berada dalam pelukan Rin dengan tubuh mungil layaknya bayi serigala berwarna putih.
"Selamat tinggal, dan sampai jumpa lagi." Kata Leave kepada Minami yang memandang kepergiannya dengan mata berkaca-kaca.
"Kami akan mengunjungi mu kak, Sampai jumpa." Ucap Shiro bersamaan dengan saudara nya yang lain dengan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
Tidak lama kemudian, tubuh Rin dan Leave menghilang bersama dengan hilangnya portal yang dibuat oleh Sebasta.
Dibawah pohon yang rindang tepat dihalaman rumah yang dahulu Dita tinggali muncul sebuah lingkaran biru dan kemudian dua sosok muncul dari dalamnya. Dan saat mereka berdua membuka mata, yang pertama mereka lihat sebuah rumah yang sangat asri dengan berbagai tumbuhan yang memperlihatkan kecantikan mereka.
Derak suara gesekan ranting pohon terdengar bersama dengan kicauan burung yang menyambut datangnya pagi yang cerah, tupai melompat dari pohon ke pohon yang lain untuk mencari makanan yang berupa biji-bijian.
"Ah...... Akhirnya aku kembali.... Aku kembali lagi sahabatku..." Ucap Rin dengan kerinduan yang mendalam.
Sedangkan Leave hanya bisa menahan haru dan kesedihan melihat tempat yang penuh akan kenangan dengan sang majikan yang sangat Leave sayangi layaknya adiknya sendiri.
"Aku pulang... Hiks... " Isak Leave yang sudah tidak dapat menahan tangisnya.
"Hei.... Rin...!!! Sedang apa kau di sana....?! Ini masih terlalu pagi untuk berangkat bekerja....!!!!" Teriak seseorang yang tengah memegang sapu lantai.
Rin terdiam dengan wajah terkejut dan tidak percaya dengan penglihatan matanya, dan dengan kasar menggosok kedua matanya agar menghilangkan ilusi yang tengah ada dihadapannya.
Namun, rasa sakit yang ada dimatanya dan sosok ilusi itu masih ada dan memandang nya dengan bingung. Rin pun langsung berlari dengan sekuat tenaga dan menubruk tubuh sosok yang berada di depan pintu dan memeluknya dengan erat yang memberitahukan kalau itu adalah sahabatnya sendiri, yaitu Dita.
"Aku.... Aku kira kamu akan pergi meninggalkan aku sendiri.... Aku berulang kali melihat mu pergi jauh dan tidak kembali lagi..." Ucap Rin dengan air mata yang tidak terbendung lagi, dan Leave pun ikut memeluk mereka bersamaan dengan berlinang air mata.
"Hei.. Apa yang kamu bicarakan Rin?! Apa kamu sedang bermimpi buruk?" Tanya Dita dengan wajah terheran.
"Ya.. Aku termakan mimpi buruk berulang kali hingga aku ingin mati juga, Kau tau...." Jawab Rin dengan sesenggukan.
__ADS_1
"Ugh... Setidaknya lepaskan pelukanmu ini. Kamu ingin aku mati kehabisan nafas apa?" Kata Dita dengan berusaha melepaskan pelukan dari Rin.
"Tidak, aku ingin begini untuk sementara." Kata Rin menolak.
"Hah... Sudahlah... Mungkin dengan begini kamu akan sedikit tenang. Itu hanya mimpi buruk, tidak usah kamu pikirkan, dan lihatlah semuanya baik-baik saja bukan?" Kata Dita menyerah, dan sedikit menghibur sahabatnya yang menangis layaknya anak kecil.
Setelah puas memeluk Dita, Rin pun melepaskan pelukannya dan memandang Dita dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Rin, duduklah dulu, aku akan membuatkan teh untuk mengatakan tubuhmu yang dingin itu." Ucap Dita dengan memaksakan tubuh Rin agar duduk dan tidak terus berdiri layaknya patung.
"Nona, apa nonaku tidak mengingat tentang kejadian yang pernah nonaku alami?" Tanya Leave kepada Rin yang juga tengah memikirkan hal yang sama dengan apa yang dipikirkan oleh Leave.
"Aku tidak tau, tapi yang terpenting Dita tidak benar-benar menghilang." Kata Rin dengan cepat menanggapi pertanyaan Leave.
"Siapa yang menghilang? Huh... Aku masih hidup tau..." Kata Dita dari dalam dan membawa dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap.
"Ah... Terimakasih." Kata Rin dengan mengambil gelas cangkir berwarna pink dan meminumnya tanpa memperdulikan teh yang panas.
"Kau sedang gila Rin? Itu masih panas?!" Tanya Dita dengan wajah terkejut.
"Hehe... Aku sedang haus.." Kata Rin dengan senyum konyolnya.
"Sejak kapan kamu memelihara anak anjing Rin? dan siapa kakak di samping mu?" Tanya Dita penasaran.
"Apa nona tidak mengenaliku?" Tanya Leave sedih.
"Maaf, aku tidak mengenalmu. Namun, sepertinya aku pernah melihatmu... Tapi dimana ya....?" Ucap Dita dengan mengerutkan kening tanda sedang berpikir keras.
"Ah... sudah lah... Aku tidak ingat. Kakak minumlah teh itu, aku membuatkan untukmu bukan untuk pajangan. Rin, kau istirahat dulu, dan sepertinya hari ini tidak usah membuka toko." Kata Dita dengan cepat dan berbalik masuk kedalam rumah.
"Nona sepertinya tidak mengingat apapun tentang diriku." Kata Leave dengan menyentuh cangkir berwarna hijau dengan motif rusa.
__ADS_1
"Tidak apa kak Leave, kakak bisa memulai dari awal dan tidak perlu membahas apa yang telah terjadi. Meski, itu menyakitkan." Kata Rin dengan meminum sisa teh hingga tandas.
"Apa yang nona katakan itu benar." Kata Leave dengan meminum teh hangat yang diberikan padanya.