
Matahari telah sepenuhnya tenggelam dan hanya menyisakan semburat merah diujung barat. Bintang-bintang bersinar dengan lembut menghiasi gelapnya langit dan menunggu sang rembulan yang akan muncul dipertiga awal malam yang indah.
Jalan utama ditengah kota, lampu telah menyala dengan api jingga yang lembut dan lapisan emas memantulkan cahaya itu dengan sombong. Seakan berbicara kalau dirinya adalah kemuliaan dari sang pelita kecil yang hanya menyala dimalam hari saja.
Orang-orang berlalu lalang, baik pemuda atau pemudi, baik anak-anak atau orang tua yang menikmati malam yang indah. Diantara orang-orang itu, berjalan lah tiga pemuda dan dua orang gadis yang membawa empat magical beast dan seekor kucing putih yang manis.
Semua mata tertuju pada seekor magical beast rusa yang cantik, yang berjalan disamping seorang gadis yang cantik dengan jubah putih yang menutupi tubuhnya dan berkibar dengan seiring dengan langkah kakinya.
Rambut hitam yang kelam berkibar dengan hembusan angin malam sangat kontras dengan jubah putihnya. Suara lonceng kecil yang terpasang dirambut sang gadis mengalun lembut bersama angin malam, seperti simfoni kedamaian.
Sangat serasi, sangat indah, seperti Dewi yang turun dari khayangan yang menyilaukan melebihi emas yang dulu sombong kini berkecil hati untuk menyaingi gadis kecil dengan rusa putih yang berjalan berdampingan.
Namun sayangnya, tidak ada senyum atau keceriaan yang menghiasi wajahnya yang ayu, melainkan darat dan dingin penuh intimidasi. Sedangkan orang yang memberi petunjuk jalan tidak bisa berkutik selain terus melangkahkan kakinya yang lemas.
Kini mereka telah tiba disebuah bangunan yang besar dengan bangunan yang unik namun penuh karismatik dan keagungan yang terpancar. Terdapat sebuah pintu yang terukir simbol rumah lelang Amoon yang terbuat dari emas murni dan dijaga oleh dua penjaga yang garang dan sangar.
Namun dalam sekejap, wajah garang itu menunjukan keterkejutan dan rasa tidak percaya dengan seorang pemuda yang berdiri dihadapan mereka meski dengan pakaian compang camping namun karismatik nya terlihat jelas.
Dia adalah Sehertpa Lufni yang menghilang selama beberapa hari, mereka langsung memberikan salam dengan penuh hormat sebagai tanda keloyalan mereka terhadap sang tuan muda.
"Tuan muda, syukurlah anda baik-baik saja." kata salah satu penjaga dengan rasa haru yang terdengar samar.
"Aku baik-baik saja, katakanlah kepada ayahanda ku kalau aku sudah Kemabli." Ucapnya dengan penuh wibawa.
"Saya akan laksanakan tuan muda, dan silahkan masuk dan beristirahat sejenak disini taun muda." Kata prajurit lalu pergi untuk menyampaikan kabar yang menggembirakan bagi seluruh anggota lelang Amoon terutama sang tuan rumah, Ayah Sehetpra Lufni.
Sesaat kemudian, seorang lelaki paruh baya keluar dengan tergopoh-gopoh menuju seorang pemuda yang tengah berdiri dengan punggung yang menghadap lelaki paruh baya itu.
__ADS_1
"Anakku..... apakah itu kamu?" Tanyanya dengan penuh rasa bahagia dan tidak percayaan, sebab dia telah mencari anaknya diseluruh kerajaan Zuwei namun dengan hasil yang nihil.
Punggung yang tegap dan tinggi dengan warna kulit seperti gandum yang sangat sehat, tubuh yang ideal namun sayang sebuah kutukan tertanam ditubuh yang ringkih.
Pemuda yang tidak lain adalah Sehetpra Lufni langsung berbalik badan untuk melihat orang yang sangat ia sayangi dan melindunginya sejak kecil setelah kematian sang bunda.
"Ayahanda...." Ucapnya dengan raut wajah yang bahagia serta setitik air mata jatuh dari matanya yang murni.
Pertemuan antara anak dan ayah begitu mengharukan dan menyayat hati bagi Aquila, mengingat jiwa tubuh asli yang dia tempati tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah atau ibunya meski hanya secuil remah roti. Hanya tatapan kebencian dan hinaan yang terlihat dimata mereka.
Setelah puas berpelukan, kedua orang itu langsung melepaskan pelukannya dan lelaki paruh baya itu melihat dua orang gadis dengan jubah putih membungkus tubuh mereka. Dan kedua gadis itu mengeluarkan aura yang agung dan mengesankan, tetapi terdapat intimidasi nan dingin yang berasal dari seorang gadis yang membawa dua magical beast dan seekor kucing putih yang tidak lain adalah Aquila.
"Anakku, siapa kedua gadis ini?" Tanyanya dengan penasaran.
"Mereka berdua adalah dermawan ku ayahanda, mereka menyelamatkan dari para perampok gurun yang menculik ku dan ketiga penjagaku. Kalau begitu aku permisi, rasanya tidak sopan dengan pakaianku saat ini" Ucapnya dengan rasa malu kemudian Lufni pergi meninggalkan mereka bertiga didalam ruang tamu.
"Tidak perlu sopan tuan, saya hanya melakukan perbuatan kecil untuk menolong putramu." Kata Minami dengan senyum sopan.
"Kalau boleh tau, siapa nama kedua Darmawan putraku ini?" Tanyanya sopan namun dengan rasa ingin tahu.
"Kami hanya orang kecil yang tidak pantas menyebutkan nama tuan." Jawab Minami yang menolak memberitahukan nama mereka.
"Tidak perlu sungkan nona, rasanya sangat aneh bila tidak mengetahui nama orang yang menyelamatkan putraku." Ucapnya dengan sopan namun terselip sebuah paksaan.
"Aquila, Aquila Aisar." Ucap Aquila dengan nada yang datar namun sopan.
"Nama saya Minami Tsurugi tuan." Ucap Minami.
__ADS_1
"Aisar? Apa anda berasal dari kekaisaran Teranivis nona?" Tanyanya memastikan.
"Benar, aku berasal dari kekaisaran Teranivis, tapi aku sudah tidak tinggal disana." Ucap Aquila dengan wajah datar, seakan dia bukan bagian dari kekaisaran Teranivis.
"Ah, jadi begitu. Nona, apa nona berkenan untuk menginap dirumah kecil saya, tentu saja untuk membalas kebaikan nona telah menolong putraku." Ucapnya dengan senyum tulus.
"Kalau begitu, kami berdua akan merepotkan tuan kedepannya." Kata Minami menerima tawaran dari ayah Sehertpra Lufni.
"Kalian berdua, siapkan dua kamar untuk tamu terhormat ku." Ucapnya memerintah kedua pelayan wanita yang memakai pakaian yang kurang bahan.
"Tuan bolehkah saya bertanya?" Tanya Minami yang sudah melirik Aquila yang terlihat muak dengan kedua pelayan itu yang memakai pakaian minim.
"Silahkan nona, tanyakan saja." Ucapnya dengan antusias.
"Tuan, kelana pelayan anda memaki baju yang sangat minim?" Pertanyaan Minami membuat lelaki paruh paya itu tersentak dengan pertanyaan Minami yang diluar pikirannya.
"Nona, apa ada masalah?"
"Maaf atas pertanyaan saya yang lancang tuan, tapi jujur saja nona saya tidak nyaman dengan mereka." Kata Minami dengan jujur.
"Maafkan atas ketidak tahuan saya nona. Saya akan meminta mereka untuk Menganti pakaian mereka sesegera mungkin. Sebenarnya, pakaian yang mereka sangat umum dinegerikan ini." Ucapnya dengan canggung.
Setelah itu, kedua pelayan yang sebelumnya mempersiapkan kamar telah kembali dan meminta Aquila dan Minami untuk mengikuti mereka menuju ruang peristirahatan. Lalu mereka pergi karena telah menyelesaikan tugasnya. Kemudian seorang prajurit menghampiri mereka untuk memberitahukan bahwa mereka berdua dipanggil menghadap tuan besar.
*Hai Minna-san! Maaf kan author yang upnya gak menentu. Jujur saja ditempat author jaringan nya sedang dalam masalah. Dan tentu saja membuat up chapternya terlambat .
Sampai jumpa dihari esok, jangan lupa saran, komen dan like ya. Author tunggu partisipasi dari kalian semua*.
__ADS_1