
"Aku tidak tau sama sekali ibu, tapi aku sangat senang bisa bertemu dengan kalian." Sambil menggelengkan kepala.
"Mengapa kalian berada disini?" Imbuh Aquila penasaran.
"Ayah juga tidak tau sayang. Tapi ada yang harus ayah sampaikan kepadamu." dengan muka yang serius.
Banyak pertanyaaan yang Aquila ingin sampaikan, tetapi melihat raut wajah ayahnya yang serius Aquila lebih memilih memendam pertanyaannya dalam kepalanya itu.
Ayah Aquila mengambil nafas yang dalam dan menghembuskan secara perlahan. "Sebenarnya, dirimu bukan lah anak kandung kami. Seseorang memberikan mu kepada kami. Ayah tidak mengenalnya, tetapi dia bilang kepada kami untuk merawat mu dengan sepenuh hati. Karena saat itu istriku sudah tidak dapat hamil lagi, kami dengan senang hati menerimamu. Setelah itu dia memberikan kalung ini dan memberikan kepada mu saat umurmu yang kelima belas tahun lalu."
Ayah Aquila sambil memegang tangan Aquila, ia merasa badannya tertimpa ribuan ton batu karena menerima kenyataan yang sangat mengguncang jiwanya.
"Maafkan ibumu ya sayang, karena ibu dan ayah menyembunyikan hal yang sangat penting darimu selama ini." Kata sang ibu dengan derai air mata yang mengalir di pipinya.
"Ayah dan ibu, tidak perlu meminta maaf kepada ku. Aku sangat senang karena kalian sangat menyayangi ku selama ini. Meski pun kalian bukan lah orang tua kandungku, tapi didalam hatiku kalian adalah orang yang sangat terpenting dalam hatiku. Jadi kalian tidak perlu merasa bersalah." Kata Aquila sambil menggenggam erat tangan ayah dan ibunya.
Disaat mereka tengah haru membiru mengeluarkan air mata. Datanglah seorang wanita yang sangat cantik, dengan gaun berwarna seputih susu, rambut keperakan yang dihiasi mahkota bunga Peony putih. Dia menunggangi seekor naga yang berwarna hijau zamrud yang sangat kontras dengan pakaiannya, tetapi menampilkan keselarasan yang indah.
Wanita itu turun dari naga yang dia tumpangi, saat kakinya menyentuh tanah bunga yang ada di rerumputan langsung bermekaran dengan kupu-kupu yang mengelilinginya. Ayah dan ibu Aquila langsung melepaskan pelukan mereka dan membungkuk kearah sang wanita itu.
"Jangan terlalu sopan kepada ku, tuan dan nyonya." Dengan senyuman yang sangat tulus, lalu dia melangkahkan kakinya kearah Aquila yang sedang waspada yang dihadapannya itu.
"Kamu siapa?" Kata Aquila dengan nada yang dingin.
"Maafkan aku, aku adalah Dewi Callista. Senang bisa bertemu denganmu lagi Messiah." Katanya dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.
"Dewi Callista? Setau ku dunia ini adalah Callista." Tanya Aquila penasaran namun masih dengan nada dinginnya.
__ADS_1
"Dasar putriku, masih tetap sama dari dulu sampai sekarang." Kata ibu Aquila sambil mengacak acak rambut hitam malamnya.
Dewi Callista hanya menanggapi sikap Aquila dengan senyuman, lalu dia menghampiri Aquila yang masih berdiri di samping ayah dan ibu angkatnya.
Kemudian Dewi Callista mensejajarkan tinggi badannya dengan Aquila dan memegang kedua tangan Aquila. Aquila membekalkan matanya dengan perlakuan sang Dewi Callista.
"Messiah, aku sangat senang. Akhirnya kamu datang kembali ke duniaku dan menjadi teman salah satu pilar ku. Dengan begini pilar yang lain bisa tertolong." Kata Dewi Callista dengan nada yang lembut namun penuh harap.
"Maaf, bisakah anda berdiri. Itu tidak membuatku nyaman Dewi."
"Dan juga namaku bukanlah Messiah, Dewi." Kata Aquila.
"Memang benar, namamu bukanlah Messiah. itu adalah gelar yang aku berikan kepadamu melalui Catarino." Dewi Callista berdiri dan kemudian memanggil naga zamrud.
"Wister, kemarilah." katanya sambil menatap naga zamrud yang tengah tertidur didekat pohon Willow yang besar.
"Messiah, maukah kamu membantuku untuk mendamaikan kembali dunia Callista yang diambang kehancuran ini?" Tanya sang Dewi Callista dengan penuh harap kearah Aquila.
Aquila bingung, namun ia telah berjanji kepada Shiro untuk membantunya menyelamatkan saudaranya. Dan dia juga merasa sangat benci dengan pengerusakan alam dan pertumpahan darah akibat perang.
"Aku bersedia membantu mu, tetapi aku tidak memiliki kekuatan ataupun sihir. Aku hanyalah manusia biasa."
"Kamu bukan manusia biasa sayang, dirimu adalah sangat sepesial bagi kami dan orang-orang yang menyayangimu." Kata ibu Aquila sambil mengelus kepalanya.
"Itu memang benar Messiah, dirimu memang sangatlah sepesial. Kamu memiliki semangat dan keberanian yang sangat membuatku memberikanmu gelar Messiah."
"Apa itu Messiah? Aku tidak mengerti sama sekali?" Aquila sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia juga penasaran dengan arti dari Messiah.
__ADS_1
"Suatu saat nanti kamu akan mengerti Messiah, sekarang belum waktunya dirimu untuk mengetahui arti dari gelar itu. Dan aku memberikan naga tunggangan ku Wister kepadamu, terimalah." Perintah Dewi Callista.
Wister menuju kearah Aquila yang masih berdiri, lalu Wister menggulung badan Aquila dengan tubuhnya yang panjang nan dingin itu. Setelah itu, badan Aquila yang dililit naga zamrud mengeluarkan cahaya yang sangat silau yang membuat Aquila menutup matanya untuk menghalau cahaya itu.
Setelah cahaya itu menghilang, Aquila membuka matanya dan terkejut melihat tampilan yang sekarang, dengan zirah yang ringan berwarna hijau zamrud kehitaman sampai kepahanya yang dilluarnya terbalut kain sifon yang sangat ringan berwarna merah jambu pudar dengan renda dileher sampai ke penutup kepalanya. Di bagian bahu kanan dan kirinya terdapat kain yang menjuntai, serta sarung tangan berwarna senada dengan zirah nya dengan bagian siku menjuntai kain yang indah. Di rambutnya terpasang sepasang lonceng berwarna emas disetiap sisinya yang sangat serasi dengan rambut malamnya yang pekat. Tak lupa juga dengan sepatu yang pas dengan kakinya yang mungil.
Tampilan Aquila saat ini sangatlah berbeda dengan sebelumya, tampilan sekarang sangat menonjolkan kecantikan namun dingin.
"Ayah, lihatlah anak kita, dia terlihat sangat dewasa." Puji ibu Aquila.
"Tentu saja, dia kan anak kesayangan kita." Kata ayah Aquila dengan bangga.
"kemarilah Messiah." kata Dewi Callista dengan lembut, Aquila pun mendekati Dewi Callista dan langsung memberi hormat.
"Dengan ini aku angkat engkau sebagai Messiah, selamatkan semua pilarku dan lindungilah yang lemah serta musnahkan kerakusan dan kekejaman manusia yang ingin menguasai dunia dan pilarku." Dewi Callista sambil memegang sebuah pedang yang entah berasal dari mana.
"Dan aku mempercayaimu untuk melakukannya sang Messiah." Dewi Callista sambil mengulurkan tangannya kearah kepala Aquila, lalu dari tangan Dewi Callista keluar seberkas cahaya berwarna warni. Dan cahaya itu masuk perlahan ke tubuh Aquila secara perlahan.
Aquila merasakan tubuhnya sangat sakit, namun ia tetap menahan rasa sakitnya tanpa mengeluarkan suara meskipun suara yang sangat kecil. Melihat ketangguhan Aquila, Dewi Callista tersenyum bangga dan dan takjub.
Setelah semuanya usai, Aquila merasakan tubuhnya menjadi ringan namun sangat bertenaga. Aquila memandang ayah dan ibu nya dengan senyum bahagia. Melihat pandangan bahagia anaknya, sepasang suami istri itu melangkahkan kakinya ketempat Aquila berada.
"Aku rasa waktu kita sudah usai sayang, saatnya ayah dan ibumu kembali." Kata sang ayah sambil memeluk putri dan istrinya dengan erat.
"Aku akan merindukan ayah dan ibu." Kata Aquila dengan tegar namun air matanya tetap mengalir meski ia berusaha menahan agar tidak keluar.
Setelah mengatakan kalimat perpisahan, ayah dan ibu Aquila menghilang secara perlahan dengan hembusan angin yang sejuk.
__ADS_1