
Angin hangat berhembus di antara lereng gunung yang terus memuntahkan lahar merah yang berpijar, kepulan awan kelabu memenuhi langit yang biru menjadi suram karena terhalang oleh sang abu vulkanik.
Guncangan lemah terus mengguncang sang bumi yang sudah lelah akan usia yang sudah menua dan menjadi saksi bisu yang telah terjadi pada peradaban manusia. Tanah hitam yang berupa batuan yang telah mendingin yang telah keluar dari perut bumi yang menjadi amarah dalam diam.
Burung-burung berwarna merah dan jingga menjadi penghias di langit kelabu yang suram, namun terlihat terdapat sebuah istana yang megah dengan kengerian dari alam yang berpijar membentuk air terjun lahar merah membara.
"Musim semi serasa menjadi musim panas disini. Dan semua yang masuk dalam mataku hanyalah warna hitam, merah dan jingga. Apa aku sedang memasuki gerbang neraka?" Gumam Aquila dengan memandangi sekitarnya.
"Ini sangat wajar kak. Lagi pula Ignatius kan sang pilar api." Kata Shiro yang berada di bahu Aquila.
"Ya, itu benar. Kulitku terasa menjadi kering. Ah.... aku ingin mandi." Keluh Adrian yang melilit lengan Aquila.
"Apa bagusnya, air membuat buluku menjadi lepek. Aku sangat membenci itu." Kata Vent Leger yang terdengar jelas kalau dia sangat membenci air.
"Bukankah air adalah hal utama yang kita butuhkan? Tanpa air kita tidak bisa hidup." Kata Leave yang ikut memasuki pembicaraan itu, sebab bagi Leave alam adalah hidupnya. Tanpa air berarti adalah kematian.
"Memang. Tapi air juga membuat kita menjadi sengsara bila sang pilar diluar kendali. Kau tau kak, air bah bahkan melanda dimana-mana, bahkan air dari samudra memaksa untuk naik ke daratan untuk menenggelamkan sang bumi." Kata Helios yang bertengger ditanduk Leave.
"Kau tau kak Dita, aku merasa seluruh tubuhku menjadi sangat dingin setiap harinya meski diriku berada ditempat yang hangat seperti hari ini. Aku merasa akan ditelan oleh air dalam waktu dekat bila saudaraku sang penguasa samudra belum sadar." Kata Soleil sedih.
"Bersabarlah, aku akan melakukan apa yang aku bisa setelah mengambil apa yang seharusnya aku ambil. Aku tidak perduli bila aku akan dimusuhi oleh seluruh orang-orang yang ada di dunia Callista ini." Kara Aquila dengan penuh tekat.
"Aku akan mendukung nona apa pun yang terjadi, aku akan mengerahkan seluruh tenagaku untuk membantumu nona." Ucap Minami keteguhan yang tidak tergoyahkan dalam ucapannya.
"Aku pun akan membantu mu nona, lagi pula aku adalah hewan penjaga mu. Mati pun aku rela nona." Ucap Leave dengan rasa percaya diri dan tekat yang terpancar dari mata nya yang berwarna hijau zamrud.
"Terimakasih kak, tapi aku tidak akan memaafkan mu bila kakak mati mendahuluiku." Kata Aquila yang masih menatap jalan yang dilalui mereka yang penuh dengan batu hitam.
"Maaf nona." Kata Leave dengan suara kecil.
__ADS_1
"Untuk apa, kak Leave tidak melakukan kesalahan sedikit pun." Kata Aquila dengan wajah tidak perduli.
"Nona, kita sudah sampai." Kata Minami.
"Cepat sekali. Aku sudah tidak sabar untuk makan-makanan dari disini." Kata Adrian dengan mata berbinar.
"Apa? Ini masih pagi. Kenapa kamu bisa lapar secepat ini?" Tanya Helios terheran.
"Terserah aku, aku kan ingin makan kenapa Lio yang menjadi repot." Ucap Adrian dengan nada naik satu oktaf.
"Aku hanya bertanya, kenapa kamu menjadi marah." Tanya Helios dengan menatap saudaranya itu dengan sengit.
"Ah... Mereka mulai lagi." Kata Soleil yang berbaring santai dipunggung Vent Leger.
"Biarlah, nanti kalau mereka capek berdebat akan berhenti sendiri." Kata Vent Leger menanggapi perkataan Soleil yang sedari tadi asyik berbaring di punggungnya.
"Leil, lapar? Giel tadi menemukan buah ini." Kata Rugiel sambil menyerahkan buah dengan warna merah menyala.
"Aku memang sedikit lapar, tapi tidak selapar Adrian." Kata Soleil sambil mengambil buah yang ada di genggaman tangan Rugiel.
"Ya, kita memang kalah kalau menandingi perut Adrian yang lebar itu." Kata Nix yang juga ikut masuk pembicaraan itu.
"Perutku tidak lebar! Aku hanya lapar..! LAPAR....!!!" Teriak Adrian sambil menatap saudaranya itu yang membicarakan dirinya.
"Bukankah sama saja?" Kata Helios dengan nada yang mengejek.
"Tidak....!!"
"Berisik, bisakah kalian tenang!" Kata Shiro yang mendongakkan kepalanya dan menatap malas para saudaranya yang tengah berdebat tidak berguna itu.
__ADS_1
"Benar. Dan juga kita menjadi pusat perhatian manusia-manusia itu. Sangat tidak nyaman." Kata Vent Leger merinding.
Sontak saja ucapan Vent Leger membuat Helios dan Adrian langsung berhenti mengeluarkan seluruh kata ejekan dan menjadi tidak bersuara dan bahkan menciut menjadi ukuran lebih kecil. Sedangkan para pilar yang lain melakukan hal yang serupa, agar tidak merepotkan Aquila dan yang lainnya.
Baik para bangsawan atau rakyat biasa bahkan pelancong pun berhenti dan mengantri dipintu gerbang kekaisaran Dahana untuk diperiksa identitas mereka tidak terkecuali Aquila dan Minami.
"Nona, bisakah kalian berdua menunjukan identitas kalian kepada kami?" Tanya seorang prajurit dengan ramah.
"Tentu." Jawab Minami dengan sopan dan tidak lupa mengeluarkan kartu identitas mereka yang berasal dari kekaisaran Teranivis.
"Ternyata kedua nona ini dari benua tengah, lalu apa yang kalian cari di kekaisaran Dahana ini?" Tanya prajurit itu dengan senyum ramah.
"Hanya ingin berlibur saja dan ingin mencari resep baru untuk restoran yang akan kami buka nanti." Kata Minami dengan senyum tulus namun dengan sedikit kebohongan.
Sedangkan Aquila hanya duduk santai dipunggung Leave dan memperhatikan sekitarnya yang ramai sembari menunggu Minami yang sedang dilihat identitasnya.
"Maaf telah menunggu lama, silahkan masuk dan nikmati lah liburannya nona." Ucap prajurit itu dengan ramah, dan sedangkan temannya yang lain langsung membukakan gerbang yang menghalangi pandangan mereka tentang keindahan yang bersembunyi didalamnya.
Bangunan dengan gaya khas dari kekaisaran Dahana menjadi salah satu daya tarik tersendiri dengan batuan Rubi yang tersusun indah dengan pancaran warna merah terang. Aliran lava pijar mengalir di setiap sudut bangunan menambah kesan tersendiri bagi pelancong yang baru memijakkan kakinya di negeri sang penguasa api Ignatius.
"Sudah berapa lama kita tidak kemari, rasanya tetap sama meski dengan suasana yang berbeda." Bisik Helios yang sembari menikmati keindahan pusat kekaisaran Dahana itu.
"Disini rasanya tetap hangat tapi tidak sehangat dekapan kak Dita." Kata Soleil menyahuti ucapan Helios sebelumnya.
"Benar sekali...." Tambah Adrian yang masih bersembunyi dibalik jubah yang dikenakan Aquila.
"Aku harap dia baik-baik saja." Kata Shiro dengan harapan dan keyakinan.
"Giel ingin merasakan pelukan hangat Atia." Kata Rugiel dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1