
..."Tersenyum adalah salah satu cara menyembunyikan luka di hati dan mencoba bertahan untuk menjadi kuat."...
Medan, Sumatera Utara
Seluruh keluarga sudah berkumpul. Qonita merasa sangat bahagia. Dia memegang perutnya. "Itu papi Kamu, Nak," ucapnya dalam hati.
Hatinya bahagia membucah kala Iman memeluk dan mengecup puncak kepalanya. Dekapan hangat suaminya adalah salah satu tempat ternyaman baginya.
Kepergian suaminya keluar kota membuatnya terpaksa menutupi kehamilannya untuk sementara. Apa jadinya jika dia mengabari kehamilannya?
Bisa jadi suaminya itu langsung pulang. Meninggalkan pekerjaannya atau jangan-jangan keluarga yang suaminya sembunyikan. Karena Qonita tidak tahu, suaminya keluar kota memang untuk bekerja atau untuk mengunjungi istrinya.
Qonita tidak mau egois. Biarlah dia menahan diri beberapa hari ini. Lagi pula memberi tahu kabar bahagia ini dihadapan keluarga besar tidak kalah mengasyikkan. Memberi surprise untuk seluruh keluarga.
Qonita sudah menunggu selama dua hari agar suaminya bisa mengelus perutnya. Keinginan seorang istri di kala hamil. Mengelus perut yang masih rata itu merupakan perhatian dan kasih sayang suami pada istri dan calon anaknya.
"Abang mau makan, dulu?" tanya Qonita pada suaminya."
"Ntar aja, Sayang. Aku masih kenyang," ucap Iman lembut.
"Mana kado untuk Papa?" tanya opa Pras pada anak sulungnya itu.
"Mana kado dari kita, Sayang? Udah Kamu kasih, kan?" Iman bertanya pada istrinya.
"Ck. Itu dari mantu kesayangan Papa. Dari Kamu mana? Udah telat, dari luar kota lagi, masa' gak ada yang dibawa?" sindir opa Pras.
__ADS_1
"Kami kan sepaket, Pa. Jadi kadonya ya dari bersama," sanggah Iman.
"Abang punya hadiah kog untuk Papa. Sebenarnya seh, bukan untuk Papa aja. Untuk semua yang senang menerimanya." Qonita tersenyum sambil memegang perutnya.
Orang dewasa yang mendengar pada mengernyit. Bertanya-tanya hadiah apa yang dimaksud istri Iman tersebut.
"Iman..." Terdengar seseorang memanggil nama suaminya.
Semua menoleh. Iman terkejut. Begitu juga dengan opa Pras dan oma Herni. Qonita tidak tahu siapa Ibu tersebut. Sampai akhirnya dia mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut perempuan paruh baya itu.
"Dimana Mayang? Kenapa Kamu tidak bersamanya?"
Deg
Raut wajah Qonita yang semula penuh senyum berubah menjadi datar.
"Cucu-cucu Oma, main dulu ya, Sayang. Vivi, tolong temani adek-adek main, ya." Ucapan Oma Herni memecah kesunyian, sementara Iman menelan ludahnya, ekspresi wajahnya datar.
"Kami main disana ya, Oma." Ichy menunjuk ke sebuah arah, disana ada beberapa permainan untuk anak. Dindingnya juga di desain full warna. Sepertinya memang sengaja dibuat untuk tempat bermain bagi pengunjung anak-anak.
"Iya, Sayang," ucap oma Herni.
Vivi dan Ria pergi bersama anak-anak. Tinggallah orang dewasa disitu.
"Mana Mayang, Man? Kamu menikah dengannya, kan? Siapa perempuan ini? Kenapa tadi Kamu menc!umnya?" tanya Bu Irma bertubi, tangannya menunjuk ke arah Qonita.
__ADS_1
Tatapan opa Pras tajam menghunus pada putranya. Wajahnya murka, tangannya mengepal.
"Maaf, Bu Irma. Qonita ini istrinya Iman, bukan Mayang." Oma Herni memecah kecanggungan. Oma Herni memang mengetahui Bu Irma adalah Ibu dari Mayang.
"Nggak. Gak mungkin. Mayang menulis surat pada Kami bahwa dia akan menikah dengan Iman. Dimana Mayang, Man?" desak Bu Irma.
"Dia di Binjai. Jl. xxx." Iman memberitahu alamat lengkap Mayang.
Deg
Nana sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tanda betapa dia terkejut bahwa abangnya mengetahui dimana Mayang berada, yang dia ketahui sebagai mantan pacar abangnya.
"Trima kasih. Saya permisi." Bu Irma memutuskan pergi. Dari tatapan dan diamnya Iman, dia tahu bahwa ada sesuatu yang mengganjal. Lebih baik dia langsung menemui anaknya. Wiwied ikut pergi bersama Bu Irma.
"Jelaskan!" ucap opa Pras marah.
"Aku menikah siri dengannya." Iman tak bisa mengelak lagi.
Plak
Sebuah tamparan keras diberikan opa Pras pada putranya.
Iman pasrah dalam diam. Qonita, oma Herni dan Nana memekik.
"Beraninya Kamu." Mata opa Pras memicing penuh amarah pada anak laki-laki satu-satunya itu.
__ADS_1
"Pulang. Jelaskan di rumah Papa," perintah opa Pras pada anaknya.
❤️❤️❤️