
..."Menyedihkan mengetahui bahwa saya sudah selesai. Tapi, melihat ke belakang, saya punya banyak kenangan indah."...
...-Bonnie Blair....
Kantor Iman
"Ceraikan Mayang, Bro. Kalian udah gak bisa bersama. Ingat Qonita lagi hamil. Jangan sampai Kamu menyesal lagi." Jamal mengingatkan sahabatnya.
Iman hanya mengangguk. "Aku izin dulu sama Qonita untuk ke Jakarta."
"Minum dulu, Bro." Jamal memberi segelas air pada bosnya itu. Iman pun menegak habis air tersebut.
"Gara-gara Kamu adikku meninggal." Ucapan Desy terngiang-ngiang di telinga Iman.
Kepalanya terasa sangat pusing. Iman merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Dia pejamkan matanya, mencoba menghilangkan rasa pusing yang kini menggerogotinya.
'Kamu pembunuh. Pembunuh.'
"Argh." Iman berteriak kala suara-suara teriakan menggema dalam fikirannya. Dia meremas kuat rambutnya.
"Kenapa, Bos?" tanya Jamal melihat wajah kusut dan suntuk bosnya itu.
__ADS_1
"Aku yang udah membunuh Jihan. Gara-gara keegoisanku dia meninggal. Aku yang menyebabkan Ichy kehilangan maminya." Iman terlihat sangat kacau.
❤️❤️❤️
Binjai, Sumatera Utara
Mayang pulang ke rumahnya. Bik Yati dan Mai ada di ruang tengah, sedang menonton TV.
Mayang duduk menangis sambil memeluk bantal. Bik Yati dan Mai saling melirik, bingung kenapa majikannya pulang dalam kondisi menangis.
"Aku udah kehilangannya, Bik. Kami gak bisa terus bersama. Dia pasti akan menceraikan Aku." Mayang menangis pada Bik Yati, perempuan yang menjadi tempat berkeluh kesah Mayang selama 8 tahun terakhir ini.
"Baik keluargaku dan keluarganya gak ada yang merestui kami, Bik. Padahal kami udah memiliki Yuna. Bahkan istrinya juga belum hamil, tetap aja mereka menolakku." Air mata Mayang terus mengalir.
"Dia bahkan gak memilihku, Bik. Dia tinggal enak bisa melanjutkan pernikahannya dengan istrinya itu. Lalu bagaimana dengan Aku, Bik?"
"Lakukan hal yang sama, Bu," ucap Bik Yati. Mayang mengernyit mendengarnya. Airmatanya berhenti menetes.
"Lanjutkan hidup Ibu. Cari kebahagiaan Ibu sendiri. Nikmati hidup bersama keluarga besar Ibu. Mereka gak akan pernah meninggalkan Ibu lagi." Bik Yati memberi saran pada Mayang.
"Apa Aku bisa, Bik? Aku masih sangat mencintainya," ungkap Mayang.
__ADS_1
"Jangan dipaksakan, Bu. Jalani aja sewajarnya. Kalau ada yang bener-bener bisa nerima Ibu dan Yuna nanti, cobalah terima Bu. Tapi pesan Bibik, kedua keluarga besar harus setuju ya, Bu. Bibik mendoakan yang terbaik untuk Ibu dan Yuna."
"Ibu dan Yuna akan tinggal di Jakarta?" tanya Mai sedih.
"Sepertinya begitu Mai. Untuk apa kami terus disini?" Mayang tersenyum miris.
"Yah, sepi donk rumah ini Bu. Jangan lupakan kami ya, Bu," ucap Mai lirih.
"Kalian nanti ikut Aku aja ke Jakarta, ya. Aku udah anggap kalian kayak keluargaku. Mau ya ke Jakarta?" pinta Mayang.
Bik Yati dan Mai saling melirik.
"Kalau ke Jakarta Mai gak mau, Bu. Ih, ngeri, mana gak ada siapa-siapa lagi disana." Mai bergidik.
"Iya, Bu. Bibik juga kalau kesana berat, Bu. Keluarga besar Bibik pada disini semua," seru Bik Yati.
"Ya udah gak apa. Bibik, Mai dan Mang Didi tetap jaga rumah ini, ya. Rumah ini atas nama Aku. Ini bakal jadi hak nya Yuna nanti. Kalau ada apa-apa kabari Aku ya, Bik."
"Iya, Bu."
❤️❤️❤️
__ADS_1
..."Tidak ada yang lebih buruk daripada ketika seseorang yang seharusnya mencintaimu, pergi begitu saja."...
...-Ava Dellaira....