PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 88 Tidak Semanis Dulu


__ADS_3

..."Kehangatan dalam keluarga tidak diukur dari ukuran luas rumahnya, tapi luasnya kebahagiaan yang menempati."...


Binjai, Sumatera Utara


Mayang POV


Teganya Iman meninggalkan Aku demi menghubungi istrinya itu. Kenapa Iman tidak bisa mengabaikan istrinya ketika bersamaku, seperti Iman mengabaikan Aku ketika sedang bersamanya.


Makin kesini Aku merasa semakin kehilangan sosok suamiku. Selain jarangnya waktu pertemuan dengannya, sepertinya Aku juga kehilangan cintanya. Cintanya yang dulu hanya untukku.


Jika dikatakan cinta datang karena telah terbiasa dan seringnya waktu bersama, tapi kenapa itu tidak berlaku pada Jihan, dulu. Sekarang, Iman begitu mengkhawatirkan istrinya yang bernama Qonita itu, Iman sangat memperdulikannya dan perhatian padanya.


Jika terus seperti ini, Aku harus bagaimana? Hanya materi yang layak yang tetap dia berikan pada kami. Siapa Qonita itu, kenapa Iman begitu takhluk padanya.


Aku gak bisa membiarkan istrinya itu hidup tenang dan bahagia, sementara Aku disini menderita menanggung beratnya rindu. Aku bukan pelakor. Aku dinikai sah secara agama. Dan Aku lah yang lebih dahulu menikah dengan Iman.


Qonita dan kedua anaknya itu menerima segala fasilitas mewah dari Iman. Menerima cinta, perhatian dan waktu dari suamiku. Cih, enak aja, dia juga harus merasakan hal yang sama sepertiku, mendapatkan rasa sakit yang sama.


Dulu Aku mampu bersabar, karena Aku tahu cinta Iman dulu hanya untukku. Jangan harap Aku dengan ikhlas hati diperlakukan seperti ini ketika cintanya telah terbagi. Bahkan cintanya lebih besar pada perempuan itu. Aku gak akan bisa bersikap manis lagi seperti yang selama ini Aku lakukan.


Aku gak akan mengungkap siapa Aku sebenarnya. Tapi Aku harus memberi hadiah kecil pada istri tersayang suamiku itu. Seenggaknya untuk saat ini Aku harus bermain aman. Iman gak boleh sampai mencurigaiku.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara

__ADS_1


Qonita POV


HP ku berdering. Tanpa melihatnya Aku sudah tahu siapa yang menghubungiku. Siapa lagi kalau bukan suamiku.


Aku melihat jam dinding, pukul 10 malam lewat, andai Aku tidak mengetahui suamiku punya istri lain, tentu Aku sangat kasihan pada suamiku karena harus bekerja hingga larut.


Aku tertawa miris, entah harus merasa sedih atau kasihan pada suamiku. Atau malah mengasihani diriku sendiri. Entahlah.


"Assalamu'alaikum, Pujaan Hati Qonita." Aku tersenyum manis pada suamiku.


"Wa'alaikum salam, Sayang. Maaf Aku baru bisa hubungi Kamu. Maaf Sayang, bener-bener maaf." Suamiku terlihat bersungguh-sungguh menyesal. Semoga saja memang demikian.


"Gak apa, Bang. Abang capek banget, ya. Jam segini baru ada waktu. Gimana kerjaannya lancar?"


"Alhamdulillah, Sayang. Sejauh ini masih lancar. Do'ain ya biar gak ada hambatan yang berarti." Aku melihat wajah lelah suamiku. Lelah habis bekerja apa? Astagfirullah, Aku nggak boleh berfikir terlalu jauh, gak baik untuk kesehatan jantungku.


"Iya, Sayang. Makasi. Kamu juga jaga kesehatan. Jangan memikirkan yang nggak perlu. Aku selalu mencintaimu. Aku rindu Kamu dan anak-anak."


"Seberapa besar rindunya?" Aku sengaja menggoda suamiku.


"Sangat besar Sayang, besar sekali," ucap suamiku dalam.


"Cuma sangat besar atau besar sekali, saja? Masih kalah sama rindunya Qonita. Qonita sangat rindu sekali banget pangkat tak terhingga pada Abang." Kami pun sama-sama tertawa.


"Sayang, Kamu tuh ya makin gemesin, aja. Sayang, Aku rindu apel fujiku. Minta c!um donk," ucap suamiku manja.

__ADS_1


"Mmuuuacch." Aku memejamkan mataku sambil membentuk bibirku seolah-olah sedang menc!um suamiku.


"Mmuuuacch." Suamiku membalas c!umanku.


"I love you, Sayang. Kamu istirahat, ya. Mimpi indah, mimpiin Aku."


"Abang juga semoga mimpi indah. Tapi jangan mimpiin Qonita."


"Lho, kenapa Sayang?" tanya suamiku heran.


"Takut nanti teman sekamar Abang marah."


"Lho, Aku tidur sendiri, Sayang. Jadi gak akan ada yang marah."


"Gak pergi bareng orang kantor?" tanyaku pura-pura.


"Nggak, Sayang. Makanya Aku capek banget."


"Ya udah, Abang istirahat, ya. Qonita minta maaf ya, Bang. Semoga Abang ridho pada Qonita."


"Sama-sama, Sayang. Aku juga minta maaf. Dan Aku meridhoimu 100%."


" Assalamu'alaikum, Imam Qonita."


"Wa'alaikum salam, bidadariku."

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2