
Medan, Sumatera Utara
Sejak kepergian Iman ke Brastagi saat itu, Iman mulai memikirkan keadaan Qonita. Ia tak mau istrinya itu menanggung resiko atas kehidupan lain dirinya yang tersembunyi itu. Jangan sampai Qonita menanggung akibat dari kesalahannya.
Setelah Iman berkonsultasi dengan Jamal perihal telatnya halangan Qonita, dan akhirnya Qonita berhalangan setelah Iman keluar kota, mereka sibuk mencari jawaban melalui internet. Selain itu, Jamal juga bertanya pada Ria, istrinya.
"Kalau pola halangan Kak Qonita biasa rutin gak pernah telat, bisa jadi itu tanda-tanda memang hamil, Bang. Namun keburu jatuh, banyak faktor penyebabnya. Bisa jadi karena lagi banyak fikiran atau kelelahan. Stress salah satu yang harus dihindari," ucap Ria pada suaminya saat sepulang kerja Jamal bertanya padanya.
Perkataan Ria tentu saja disampaikan Jamal pada bos sekaligus sahabatnya. Kening Iman berkerut mendengarnya.
"Mulai sekarang, segala urusan keluar kota, Kamu yang urus," ucap Iman pada Jamal saat mereka ada di mobil, baru selesai rapat bersama perusahaan lain.
"Ha? Ya gak bisa full gak pergi sama sekali donk, Bos. Untuk proyek baru, mana bisa langsung digantikan yang lain, Bos ya harus ikut, lah. Apalagi yang dengan perusahaan TDM, masih masa penjajakan," gerutu Jamal.
"Argh." Iman mengacak rambutnya. "Qonita masih dihantui oleh masa lalunya. Aku yakin, dia kefikiran pas Aku keluar kota. Pulang-pulang matanya berlinang gitu."
"Ya frekuensinya dikurangi, Bos. Aku atur nanti jaraknya. Seenggaknya sebulan sekali, lah. Kemaren kan udah Ku bilang jaraknya terlalu dekat. Gak percaya, kan?" sungut Jamal.
"Huft. Ntar Gue ke Binjai juga gak bakalan nginap. Bahaya, insting Qonita kuat kayaknya. Gue bakal sering pulang hari ke Binjai. Seenggaknya dengan gitu, Yuna gak akan nanyain kapan Gue nginap disana."
"Trus kalo Bos sering-sering kesana, yang ngerjain tugas numpuk di kantor, siapa?"
"Ya Lo, lah. Sebenarnya yang diluar kota juga Lo udah bisa handle kog, semuanya," ucap Iman tanpa beban.
"Busy3t emang. Benar-benar penjajah. Kalau Gue yang ngurus semua, mending buka perusahaan sendiri, aja. Kelar udah."
"Jangan jadi kacang yang lupa ama kulitnya," sahut Iman.
"Sori, no debat. Lo, Gue, end," ucap Jamal tegas.
"Hahaha... Lo gak akan bisa berpaling dari Gue."
"PD amat. Siapa Lo?" umpat Jamal.
"Kita itu satu jiwa yang menghuni dua tubuh. Gak akan bisa dipisah." Iman menyeringai.
"Idih, najis."
"Lo harusnya bersimpati ke Gue."
__ADS_1
"Udah Gue ingatin sejak dulu kala," ucap Jamal. Ya, dia sudah memperingatkan sahabatnya itu ketika masih melanjutkan hubungan dengan Mayang, dulu.
"Ck. Kalau Lo jadi Gue juga bakalan berat."
"Harusnya berat di awal, doank. Kalau udah gini, malah berat dari awal hingga akhir," ejek Jamal.
"Dimana hati Lo, mencampakkan orang yang Lo sayang, tanpa siapapun disisinya."
"Keluarganya cuma pindah, bukan menghilang. Lagian harusnya Lo cukup kasih tempat tinggal dan uang doank. Bukan malah nikahin dia."
"Dulu itu, Gue cinta ama dia. Gue udah cocok ama dia," ungkap Iman.
"Dulu? Berarti sekarang nggak?" cibir Jamal.
"Ya sekarang juga."
"Bener? Apa Lo, yakin?" seringai Jamal.
"Gila Lo, kami udah punya Yuna."
"Kalau seandainya gada Yuna?"
"Ck. Bahas apa, seh!"
Iman tak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya.
❤️❤️❤️
Pernikahan Qonita dan Iman sudah berlalu 6 bulan. Selama ini Iman hanya pergi keluar kota sebulan sekali. Ada beberapa kali ia lembur, sehingga ia pulang ke rumah pada malam hari. Qonita tidak mempermasalahkan, ia lebih suka seperti ini. Dari pada suaminya harus sering-sering keluar kota.
Sementara Iman tak pernah lagi menginap di rumah Mayang. Ia datang kesana pada saat Yuna pulang TK, agar bisa berjumpa dengan putrinya. Siang atau sore baru ia pulang.
Iman selalu mengusahakan berkunjung ke Binjai dua kali dalam seminggu. Disitu ia sempatkan memberi nafkah batin pada istri sirinya itu.
❤️❤️❤️
"Sayang, sini. Aku kasih tahu harta Aku." Iman menarik tangan Qonita menuju salah satu lemari di kamar mereka.
Iman membuka lemari. Terdapat sebuah brankas disana. Qonita sudah sering melihatnya, tetapi selalu ia abaikan. Iman memberi tahu kode brankas yang ada di dalam lemari. Iman membuka brankas itu. Memperlihatkan isinya.
__ADS_1
"Ini sertifikat rumah dan tanah. Rumah ini udah Aku pindah namakan atas nama Jihan, ketika dia masih ada. Perhiasan ini semua juga milik Jihan. Maaf Sayang, semua milik Jihan nanti akan Aku serahkan ke Ichy. Gapapa, kan?" Iman mengelus pipi istrinya.
Qonita tersenyum. "Ya gapapa, Bang. Memang haknya Ichy."
"Ini sertifikat rumah yang atas nama Aku. Ada yang nyewa disana. Dan yang ini sertifikat tanah. Ada 3 tanah kosong. Semua atas nama Aku. Buku hitam kendaraan juga Aku letak disini semua."
"Kalau Kamu mau letak barang-barang penting Kamu, boleh disini, Sayang. Maaf Aku lupa kasih tahu, Kamu. Aku baru ingat waktu ambil berkas disini tadi pagi," ungkap Iman.
"Gapapa, Bang. Mahar yang Abang kasih, Qonita simpan di bank biar lebih aman. Yang lain ada di laci lemari. Gapapa, aman kog, kan ada kuncinya."
"Pindahin ke sini aja, Sayang. Biar lebih aman," pinta Iman.
"Iya, Bang. Nanti Qonita pindahin."
"Sama Aku mau kasih Kamu rumah, Sayang. Maaf, kemaren tabunganku belum memungkinkan untuk beliin Kamu rumah. Sekarang udah ada. Kamu yang pilih ya. Jamal udah cari, ada beberapa pilihan.
"Untuk apa lagi, Bang? Qonita juga udah punya rumah, kan. Apa kita mau pindah?"
"Nggak, Sayang. Kita tetap tinggal disini. Aku harus adil kan sama istriku. Kan, Kamu belum Aku kasih rumah, Sayang."
"Adil?" tanya Qonita heran.
"Maksudku dulu Aku kasih Jihan rumah. Ya rumah ini. Sekarang, Aku juga harus kasih rumah ke Kamu, Sayang. Biar adil."
"Tapi Bang, Abang udah kasih mahar yang besar untuk Qonita."
"Itu kan beda, Sayang. Kalau mahar, Aku gak mau bandingin kalian. Itu memang hak kalian untuk memintanya. Pokoknya nanti Kamu harus pilih salah satu rumah, titik," ucap Iman.
Qonita hanya mengangguk.
"Oh iya, SIM A kamu udah keluar, kan? Mau beli mobil sekarang gak, Sayang?" tanya Iman.
"Nanti aja, ya Bang. Belum perlu, kayaknya. Sama Qonita mau mahirin lagi. Nanti kalau bener-bener udah bisa, baru Qonita lapor ke Abang."
Iman tersenyum mendengarnya. "Terserah Kamu, Sayang. Ini, Kamu lihat. Semua data dan foto rumahnya lengkap. Nanti kalau mau cek langsung juga bisa, Sayang. Biar Kamu bisa lihat rumahnya, jadi tahu mana yang paling bagus. Kapan pun mau kesana, Aku siap nemanin Kamu." Iman mengerling pada istrinya.
"Iya, Bang. Perhiasan punya Ichy Qonita satuin yang Bang, biar gak nyatu ama punya Qonita," ucap Qonita. Brankas tersebut memiliki empat tingkat. Qonita hendak menggabungkan milik Ichy di satu tingkat yang sama.
"Iya, Sayang. Kamu atur, aja."
__ADS_1
Qonita pun menyusun ulang isi brankas. Berkas milik Iman ia letak di laci paling atas. Punya Ichy ia letak di laci nomor dua. Ada beberapa set perhiasan yang sangat cantik. Ada 1 buah kalung dengan permata indah bertuliskan 'My Honey'. Qonita lama melihatnya.
"My Honey?" tanya Qonita pada hatinya.