PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 90 Menghubungi Mayang


__ADS_3

Jakarta


Sehabis mandi, Iman menyempatkan untuk menghubungi Mayang. Disini dia bisa bebas berkomunikasi dengan mereka. Sedikitnya waktu untuk mengunjungi Mayang dan Yuna, membuat Iman harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.


Iman menyadari ketidak adilannya pada Mayang. Dia juga dapat merasakan Mayang berubah menjadi lebih sensitif setelah dia menikah dengan Qonita.


Sejujurnya Iman sering bertanya pada hatinya, benarkah dia lebih mencintai Qonita saat ini? Awalnya dia tidak menyangka cintanya akan tumbuh sebesar ini pada Qonita. Ya, dia menyadari bahwa dia memang menyukai Qonita. Tetapi tidak terfikir cintanya pada Qonita akan melebihi cintanya pada Mayang.


Kalau boleh memilih, dia akan berfikir sama seperti Qonita dulu. Tidak ingin menikah lagi. Dia tidak ingin menyakiti hati perempuan lain lagi seperti dia menyakiti Jihan, dulu.


Tetapi melihat Ichy dan mamanya begitu menyukai Qonita, membuatnya berubah fikiran. Ichy juga harus mendapatkan kebahagiaan. Putrinya itu begitu antusias menceritakan perempuan yang bernama Qonita. Membuatnya tidak tega harus mengecewakan putrinya itu.


Sementara pada Mayang dan Yuna, Iman tidak bisa memberikan lebih. Sungguh sebenarnya dia baru menyadari kesalahannya dalam mengambil keputusan, dulu. Terlalu banyak yang harus menderita dari pernikahan sirinya itu, termasuk Mayang sendiri.


"Halo," ucap Mayang saat menerima video call dari nomor suaminya. Mayang memang mengetahui nomor HP Iman. Tetapi tidak pernah menghubungi ke nomor itu.


"Assalamu'alaikum, Yang," ucap Iman pada Mayang. Dia mulai merubah kebiasaan dalam mengucap salam.


"Wa'alaikum salam, Im. Kamu udah di Jakarta?" tanya Mayang pada suaminya.


"Iya, Kamu lagi apa?"


"Lagi mikirin, Kamu." Iman terkekeh kecil mendengarnya.


"Aku jangan difikirin kali, Yang. Sayang energi Kamu terbuang karena mikirin Aku. Mending fikirin Yuna aja."

__ADS_1


"Gimana Aku gak mikirin Kamu, Im. Yang Aku punya cuma Kamu dan Yuna. Yuna ada sama Aku. Sementara Kamu, jumpa nya aja bisa dihitung pakek jari. Gitu pun udah jumpanya sebentar, jatahku harus dibagi lagi karena Kamu harus hubungin istri Kamu itu." Mayang mengeluh.


"Maaf, Yang. Mungkin ini salah Aku. Gak mikir jauh efek dari pernikahan kita. Maaf udah buat Kamu harus menanggung beban yang terlalu berat ini." Iman menghela nafas panjang.


"Im..." ucap Mayang lirih.


"Aku gak bisa mengubah keadaan, Yang. Aku gak bisa kasih lebih buat Kamu dan Yuna. Maaf, harus meminta pengertian Kamu, lagi."


"Kamu menyesal menikahi Aku, Im?" tanya Mayang sendu.


"Aku menyesal karena terlalu banyak yang Aku sakitin. Ini salahku."


"Im, jangan ngomong gitu. Aku cinta Kamu."


"Aku juga, Yang. Dari awal hingga kini Aku mencintaimu." Iman tersenyum miris. "Yuna mana?"


Tidak lama terlihat Yuna di layar HP Iman.


"Assalamu'alaikum, Papi." Yuna tersenyum lebar.


"Wa'alaikum salam, Sayang. Lagi apa?"


"Lagi nonton, Pi. Papi gak kerja?"


"Lagi nggak, Sayang. Makanya Papi nelfon Kamu. Papi rindu sama putri Papi yang cantik ini."

__ADS_1


"Yuna juga rindu, Pi."


"Udah mandi, Sayang?"


"Udah, Pi."


"Jangan lupa belajar ngaji, ya."


"Iya, Pi."


"Belajar baik-baik ya, Sayang. Buat Papi dan Mami bangga sama Kamu."


"Iya, Pi."


"Jangan lupa sholat ya, Sayang. Coba Papi tanyak, sebentar lagi waktu sholat apa?"


"Em, Sholat apa ya, Pi?" Yuna terlihat berfikir.


"Sholat Magrib, Sayang."


"Oh iya, Sholat Magrib, Pi." Iman tersenyum melihat putrinya.


"Udah dulu ya, Sayang. Papi sayang Kamu. Assalamu'alaikum, Tuan Putri."


"Wa'alaikum salam, Papi."

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2