PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 138 Kehilangan


__ADS_3

Jakarta


Sudah 2 minggu Mayang tidak mendapat kabar tentang Agil. Agil sudah tidak pernah datang dan mengirim pesan padanya.


Mayang merasa sangat bersalah pada Agil. Agil sedari awal sudah dapat menerima kondisi Mayang, serta senantiasa berusaha untuk membuat hari-harinya serta Yuna menjadi bahagia.


Rasa bersalah itu juga tertuju pada putrinya. Selama di Jakarta, Rangga dan Agil lah yang menjadi teman Yuna tertawa ceria. Bukan hanya Mayang yang merasa kehilangan, Yuna pun merasa demikian.


"Mi, kog om Agil dan adek Rangga gak pernah datang lagi, seh?" tanya Yuna pada maminya, Mayang.


Mayang menatap lama pada Yuna. Dia bingung harus mengatakan apa. Tidak mungkin menceritakan keadaan yang sebenarnya.


Seharusnya, jika dia bisa berfikir lebih positif, Agil merupakan sosok yang paling tepat untuk menggantikan posisi Iman.


Sama-sama berwajah tampan dan mapan. Bahkan kelebihan Agil adalah seluruh keluarga Mayang menyukainya. Sudah dipastikan restu dari keluarga besarnya akan dia dapatkan jika pada akhirnya nanti dia akan menikah dengan Agil.


"Mungkin Om lagi sibuk, Sayang," ujar Mayang pada putrinya.


"Gimana kalau kita telpon aja, Mi?" imbuh Yuna.


"Gak usah ya, Sayang. Kalau om Agil lagi gak sibuk pasti kesini," seru Mayang.


"Sepi, Mi. Kalau ada Adek Rangga dan om Agil kan jadi rame." Yuna memasang wajah cemberut.


Yuna pun akhirnya mengambil buku ensiklopedi pemberian Qonita. Beberapa hari setelah mereka kembali dari puncak, ada paket yang datang yang ditujukan buat Yuna. Paket itu pemberian dari Qonita. Lanjutan seri dari kado ulang tahunnya.


Sementara Mayang kembali mengingat perkataan adiknya. Sesaat setelah Agil pulang dari puncak malam itu.


"Kenapa Mas Agil pulang duluan, Kak?" tanya adik Mayang.


Mayang hanya diam. Tidak berani mengatakan yang sejujurnya.


"Kakak cemburu pada istri dari mantan suami Kakak itu?"


Mayang hanya menunduk sedih.


"Sangat mudah untuk jatuh cinta padanya. Dia baik dan gak neko-neko. Dari cara dia memperlakukan Yuna saja sudah dapat ditebak kenapa mantan suami Kakak lebih memilih dia. Saranku Kakak memperbaiki diri Kakak. Laki-laki baik pasti menginginkan perempuan yang baik pula," ungkap adik Mayang.

__ADS_1


❤️❤️❤️


Sementara sejak Agil pulang malam itu dan tidak pernah datang lagi ke rumah papanya, abang Mayang beberapa kali menemui Agil, menanyakan alasan kenapa tiba-tiba saja Agil menjauh seperti itu.


Namun Agil tidak mau menjelaskan sama sekali. Dia hanya mengatakan kalau jodoh pasti ada jalannya.


Abang Mayang juga melaporkan bahwa Mayang belakangan ini hanya berdiam diri dengan raut wajah sedih. Kedua orang tua mereka meyakini ada sesuatu yang terjadi, tapi baik Mayang maupun Agil tidak mau menjelaskan sama sekali.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara


Malam hari Iman, Qonita dan ketiga anaknya sedang berada di ruang keluarga. Hp Iman berdering. Dia terkejut melihat nomor yang sedang menghubunginya. Nomor Mayang tertera disana.


Iman mengajak Qonita ke kamar. Iman dan Qonita pamit pada anak-anaknya.


Setelah di kamar HP Iman berhenti berdering.


"Tadi nomor Mayang nelpon Aku, Sayang. Aku gak mau Kamu salah paham dan anak-anak tahu, makanya Aku ajak Kamu kesini," ujar Iman pada istrinya.


Iman pun menghuhungi nomor Mayang. Tadi adalah sebuah video call, tetapi Iman hanya menghubungi panggilan suara saja. Suaranya dia loud speaker kan agar Qonita dapat mendengar pembicaraan mereka.


"Assalamu'alaikum, Papi." Ternyata Yuna yang mengangkat.


"Wa'alaikum salam, Sayang. Apa kabar Cantik?" sahut Iman.


"Lagi sedih, Pi."


Iman dan Qonita saling melirik. Iman langsung merubah ke video call. "Sedih kenapa, Sayang?"


"Sepi, Pi. Om Agil dan Adek Rangga udah gak pernah datang lagi. Gak pernah nelpon juga, Pi," ungkap Yuna.


"Mungkin om Agil lagi banyak kerjaan, Sayang. Papi kan juga gitu, kalau lagi kerja gak bisa hubungin Kamu, Sayang."


"Mami juga sedih, Pi. Mami di rumah cuma diam aja."


"Ya Kamu donk Sayang yang menghibur Mami. Ajak Mami main."

__ADS_1


"Tapi Maminya males, Pi. Gak semangat. Makan aja melamun, Pi."


"Ya udah, doain aja biar kerjaan om Agil cepat selesai ya, Sayang. Jadi bisa datang dan main sama Kamu lagi," ujar Iman.


"Iya, Pi. Papi juga harus sering-sering datang dan huhungi Yuna ya, Pi."


"InsyaAllah, Sayang."


"Tante Qonita mana, Pi?"


"Ini Sayang, sebentar ya." Iman pun menyerahkan HP pada istrinya.


"Assalamu'alaikum, Sayang?" seru Qonita tersenyum pada Yuna.


"Wa'alaikum salam, Tante." Yuna pun balas tersenyum begitu melihat Qonita.


"Gimana sekolah nya, Sayang?" tanya Qonita.


"Enak, Tante. Banyak temannya. Belajarnya juga asyik."


"Alhamdulillah, belajar yang bagus ya, Nak. Biar papi, mami, opa dan oma jadi senang. Bangga sama Yuna."


"Iya, Tante."


"Ya udah ini HP nya Tante kasihnke Papi, ya."


"Iya Tante."


"Baik-baik disana ya, Sayang. Jangan sedih, harus semangat, oke?" imbuh Iman.


"Iya, Pi."


" Ya udah tidur yang nyenyak ya, Sayang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, Pi."


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2