PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 45 Rumah Oma Wina


__ADS_3

"Jasamu langsung kelihatan, Nak. Harus menikahi guru dulu, baru Iman bisa datang kesini," sindir opa Zul.


"Maaf, Pa," sahut Iman menyesal.


"Pa," tegur oma Wina pada suaminya.


"Jasa kedua, ini." Opa Zul menunjuk ke arah Ichy. "Siapa yang bisa membuat Ichy jadi semanis ini, udah pasti karena cikgu yang satu ini. Ya kan, Ichy?" tanya opa Zul pada Ichy.


"Kenapa, Opa?" tanya Ichy tak mengerti.


"Siapa yang ngajarin Ichy jadi pintar gini, Sayang?" ucap oma Wina.


"Bunda, Oma," jawab Ichy dengan senyum mengembang.


"Kalau sekarang pertanyaan gini, siapa yang paling Ichy Sayang, Papi apa bunda?" tanya opa Zul menyeringai.


Ichy terlihat berfikir. "Kakak sayang mami Jihan, Papi, baru Bunda."


Oma dan Opa sama-sama menoleh.


"Bunda yang ngajarin, gitu?" tanya oma Wina.


"Iya, Oma. Kata Bunda, walaupun mami udah meninggal, tapi kasih sayang Mami gak akan tergantikan, karena mami adalah ibu kandung Kakak."


"Berarti Ichy gak sayang sama Bunda donk," tanya opa Zul.


"Sayang Opa, sayang sekali," protes Ichy dengan wajah manyun.


"Kalau sayang masa' Bunda disebut terakhir," goda opa Zul.


"Kata Bunda gitu Opa. Kalau doa, sebut nama mami dulu, Papi baru Bunda."


Opa Zul tersenyum masam. "Jaga dia baik-baik, Man. Kamu beruntung bisa menikahinya. Kenapa gak pergi bulan madu, malah kesini."


"Qonita gak mau, Pa," jawab Iman.

__ADS_1


"Kenapa, Nak?" tanya opa Zul pada Qonita.


"Biar membiasakan anak-anak dilingkungan baru, Pak. Bersama-sama agar terbiasa. Jadi jika nanti Qonita udah masuk kerja, mereka gak kaget pas Qonita tinggal," ucap Qonita.


Opa Zul dan oma Wina terlihat manggut-manggut.


"Oma, ini bunga untuk Oma. Tadi Kakak belajar buat ini di TK." Ichy menyerahkan bunga tersebut pada oma Wina.


"Makasih, Sayang. Cantik banget. Oma seneng banget dapat bunga dari cucu, buatan sendiri lagi. Bunganya nanti Oma simpan, ya."


"Iya, Oma."


"Wah, oma dikasih hadiah. Opa dikasih apa?" tanya opa Zul pada Ichy.


Ichy terlihat malu. "Bunganya cuma satu, Opa."


"Hahaha... Gapapa, Sayang. Opa minta hadiah kiss aja, deh." Opa Zul menunjuk pipinya sendiri, tanda meminta agar Ichy mencium pipinya.


Ichy turun dari pangkuan oma Wina, lalu berjalan ke arah opa Zul. Mencium pipi kanan dan kiri opa. Lalu opa mengelus kepala Ichy.


"Sama-sama, Opa."


"Sini, duduk sama Opa." Opa Zul mendudukkan Ichy dipangkuannya.


Iman melirik pada Qonita. Ia merasa putri kecilnya itu berubah sangat drastis, padahal ini baru hari ketiga mereka bersama.


Ada rasa haru yang luar biasa dirasakan Iman. Ia tersenyum pada istrinya. Qonita pun membalas tersenyum pada Iman.


Selang beberapa lama, Iman pamit undur diri. Sebenarnya oma Wina menyuruh mereka untuk tetap tinggal agar bisa makan malam bersama, tetapi Iman menolak, dengan alasan khawatir anak-anak kelelahan jika terlalu lama pulang.


"Titip Ichy ya, Qonita. Makasih udah jaga cucu oma dengan sangat baik," ujar oma Wina.


Qonita mengangguk. "Sama-sama, Bu."


"Sering kesini ya, Nak."

__ADS_1


"InsyaAllah, Bu."


"Asaalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


❤️❤️❤️


Sementara itu, setelah menikmati makan siangnya di kantor, Jamal terlihat sedang mengetik pesan di HP nya.


"Maaf, Bu. Pak Iman masih cuti. 2 minggu ini tidak bisa diganggu."


Lalu ia mengirim pesan tersebut.


Selang 3 menit kemudian, terdengar suara deringan HP. Tertulis nama 'Perusahaan Citra Mandiri' pada layar HP. Jamal menghela nafas.


"Halo," ucap Jamal.


"Halo, Pak. Maaf, apa Bapak sudah menyampaikan pesan saya pada Pak Iman?" tanya seseorang dari sambungan HP itu.


"Sudah, Bu. Saya sampaikan secara langsung. Tapi maaf, Pak Iman cuti selama 2 minggu. Mungkin Ibu, bisa menghubungi Bapak 3 minggu dari sekarang."


Jamal dapat mendengar helaan nafas panjang dari sana.


"Apa keberadaan kami gak ada artinya bagi Iman?"


"Bu," protes Jamal. "Jangan seperti ini, kalau Bapak tahu, bisa jadi Bapak akan murka."


"Sampaikan padanya, kami merindukannya."


Tuut


Jamal terlihat kesal. Baru kali ini ia melihat Mayang tidak bisa diajak bekerja sama. Ia menggelengkan kepalanya.


Bagaimana mungkin Mayang tidak dapat mengendalikan perasaannya. Baru 3 hari Iman menikah lagi. Padahal dulu, Mayang mampu menahan diri hampir 4 tahun pernikahan Iman dan Jihan.

__ADS_1


Entahlah...


__ADS_2