
Medan, Sumatera Utara
Qonita harus bolak-balik ke rumah sakit. Sudah 4 hari di rawat pasca melahirkan, dia sudah diperbolehkan pulang. Namun kedua anaknya yg kembar itu masih harus dirawat di ruang NICU.
Senang, saat dia bertemu dengan ketiga anaknya. Ichy, Fuad dan Nabil menyambutnya dengan suka cita.
"Alhamdulillah, Bunda sudah pulang. Sehat-sehat ya, Bunda," ucap Ichy setelah menyalam dan memeluk pelan Qonita seadanya.
"Semoga perut Bunda cepat sembuh, ya." Fuad ikut melakukan hal yang sama seperti kakaknya.
"Adek rindu. Mau peluk tapi gak dibolehin," ucap Nabil cemberut.
Qonita kini menyadari, suaminya pasti sudah mengingatkan anak-anaknya agar berhati-hati ketika bersamanya, pasalnya dia baru saja menjalani operasi.
Mungkin Ichy dan Fuad sudah mengerti karena mereka sudah lebih besar. Namun tidak dengan Nabil.
"Bukan gak boleh, Sayang. Tapi harus pelan-pelan," ujar Qonita pada Nabil.
"Jadi boleh ya, Bun?" tanya Nabil memastikan.
"Boleh, Sayang." Qonita merentangkan kedua tangannya.
Nabil yang senang mendengarnya, langsung menubruk tubuh bundanya.
"Aaa..." Terdengar teriakan dari Qonita.
"Pelan-pelan, Dek." Ichy dan Fuad yang kaget pun bersuara.
"Sakit, Sayang?" tanya Iman yang baru saja tiba sambil membawa barang-barang Qonita yang ada di mobil, yang dibawa dari rumah sakit.
"Gak apa, Bang. Qonita cuma kaget aja."
"Bunda baru aja operasi, Dek. Perut Bunda masih sakit," ujar Ichy pada Nabil.
"Perut Bunda sakit. Disuntik ya, Bunda?" tanya Nabil dengan polosnya. "Adek nya masih di rumah sakit ya, Bunda?"
"Iya, Sayang. Kita do'a kan biar Adek Yamin dan Adek Yumna cepat sembuh ya, Sayang."
"Iya, Bunda."
❤️❤️❤️
Kondisi yang baru saja melahirkan membuat Qonita lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar untuk beristirahat.
Sedih, itu yang dia rasakan saat mengingat kedua anaknya masih dirawat di rumah sakit. Dia ambil pompa asi, dia hendak memompa asinya, untuk dibawa ke rumah sakit besok.
"Alhamdulillah. Dapat 300 ml." Qonita merasa senang.
❤️❤️❤️
Keesokan harinya Qonita bersama suaminya mengunjungi anak mereka. Ada perasaan sedih saat Qonita melihat anak perempuannya menangis di dalam inkubator.
"Yumna pasti kepanasan ya, Bang?" Qonita bertanya pada suaminya.
"Memang seperti itu perawatannya, Sayang. Itu semua untuk kesehatan anak kita. Yang penting dia banyak minum asinya," sahut Iman.
"Gimana anak-anak saya, Sus? Yamin dan Yumna mau minum asinya?" tanya Qonita pada perawat yang baru saja datang sambil membawa botol susu.
__ADS_1
"Mau bu, Yamin lagi minumnya banyak. Yumna juga, ini bentar aja habis, Bu." Perawat menunjukkan botol susu yang dipegangnya, lalu memberikan nya pada Yumna.
Qonita dan Iman tersenyum puas melihat Yumna dengan semangat meminum asi dari botol.
"Ini Saya bawakan asi lagi, Sus." Qonita menyerahkan plastik yang berisi beberapa kantung plastik asi.
"Wah, banyak ya Bu asinya," ujar perawat.
"Alhamdulillah, Sus. Saya pompa setiap 2 jam sekali."
"Setiap pompa dapat berapa banyak, Bu?" tanya perawat lagi.
"Paling sedikit 300 ml. Paling banyak 580 ml, Sus."
"Banyaklah itu, Bu. Berarti cukup untuk mereka berdua. Ini sudah ditulis nama kan, Bu?" Perawat menanyakan apakah dikantung asi yang dibawa Qonita sudah ditulis nama anaknya.
"Sudah, Sus."
Setelah beberapa lama melihat kedua anaknya, Iman mengajak Qonita pulang.
"Kita pulang ya, Sayang. Kamu juga butuh istirahatkan. 2 hari lagi Kamu boleh kesini."
Qonita terkejut mendengar perkataan suaminya.
"Lho, kenapa 2 hari lagi, Bang?" tanya Qonita heran.
"Biar Aku aja yang setiap hari kesini. Kamu 2 hari sekali Aku izinkan kesini. Maaf Sayang, tapi Kamu juga masih dalam proses pemulihan. Aku mau Kamu istirahat, agar ketika Yamin dan Yumna dibawa pulang, Kamu udah benar-benar sehat," imbuh Iman.
"Ya udah, Bang," ucap Qonita lirih.
Setelah itu dia menuju inkubator Yamin.
❤️❤️❤️
2 minggu sudah berlalu. Kegiatan rutin yang dilakukan Qonita hanyalah memompa asinya.
Semalam dia sudah menjenguk anak kembarnya. Namun rasa rindu selalu menerpanya. Sore ini suaminya belum juga pulang. Sudah pukul 6, tumben sekali suaminya belum pulang.
Saat Qonita hendak menghubungi suaminya, terdengar ucapan salam dari luar rumah. Cukup ramai, sepertinya ada beberapa orang yg datang.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam."
"Oma, Opa." Qonita menuju ruang tamu saat mendengar suara anak-anaknya memanggil kedua mertuanya.
"Ini Adek ya, Oma?" tanya Ichy pada omanya.
"Iya, Sayang," jawab oma Herni.
"MasyaAllah." Qonita sedikit berteriak, saat melihat mama mertuanya menggendong anak bayi. Serta Nurul, baby sitter anaknya yang juga mengendong anak bayi.
Iman langsung memeluk istrinya yang menangis senggugukan. "Kenapa, Sayang?"
"Kenapa Abang gak bilang kalau anak kita udah boleh dibawa pulang?"
"Biar surprise untuk Kamu, Sayang. Tuh, sampai nangis begini." Iman menoel pipi istrinya.
__ADS_1
"Kenapa nangis, Qonita? Nangis bahagia, ya?" tanya oma Herni.
"Iya, Ma. Qonita rindu Yamin dan Yumna." Qonita langsung mengambil Yamin saat mama mertuanya itu menyodorkan Yamin padanya. Lalu menyalam oma Herni.
Qonita mencium haru anaknya. Air matanya jatuh kembali, namun bibirnya melengkung tersenyum.
"Udah donk. Papa kan juga mau gendong cucu Papa." Terdengar suara opa Pras.
Qonita yang memahami opa Pras memang sangat senang akan kehadiran Yamin, memberikan Yamin pada papa mertuanya. Tak lupa dia menyalam opa Pras.
"Ichy, Fuad, Nabil, sini main sama adek Yamin," ajak opa Pras pada cucu-cucunya.
"Nurul, sini. Biar Yumna sama Saya." Qonita ingin memeluk anak perempuannya itu.
"Benar yang dibilang opa mereka, Sayang. Liat neh badan mereka mantap begini, minumnya kencang," ujar oma Herni pada Qonita.
"Alhamdulillah Ma, minumnya banyak. Kalau asi kan, kita gak khawatir berlebihan."
"Iya, Sayang."
❤️❤️❤️
Tiga hari setelah anak-anaknya pulang, Qonita mendapat telpon dari Mayang.
"Assalamu'alaikum, Mba," sapa Qonita.
"Wa'alaikum salam, apa kabar Qonita?"
"Alhamdulillah sehat, Mba dan keluarga apa kabar?"
"Alhamdulillah Aku sehat. Yuna dan Mas Agil juga sehat. Eh, itu kayak suara nangis anak bayi. Anak kamu udah pulang?" tanya Mayang saat tiba-tiba mendengar suara tangisan bayi.
"Alhamdulillah sudah, Mba. Sudah 3 hari," ungkap Qonita.
"Selamat ya Qonita. Akhirnya bisa kumpul bersama dirumah."
"Alhamdulillah, makasih Mba."
"Qonita, sebenarnya ada yang ingin Aku bilang. Aku lagi hamil. Aku mau minta maaf dan minta doa ke Kamu. Maaf, jika masih ada kesalahan Aku yang mengganjal dihati Kamu. Dan mohon doanya agar kehamilan Aku ini sehat selalu, dan Yuna bisa punya adik."
"Alhamdulillah, selamat Ya Mba. Semoga Mba dan calon anak Mba sehat selalu. Semuanya berjalan dengan lancar sesuai harapan Mba dan keluarga. InsyaAllah Qonita sudah melupakan masalah yang lalu, Mba. Qonita juga sudah menganggap Mba seperti saudara Qonita sendiri."
"Aamiin. Makasih banyak ya Qonita. Anak Kamu udah nungguin tuh. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, Mba."
Tamat
❤️❤️❤️
Trima kasih untuk dukungannya selama ini ya Kakak-Kakak 🙏
Maaf untuk up yang bolong-bolong. Untuk silent reader, trima kasih sudah mengikuti Perjalanan Cinta Qonita.
Untuk pembaca yang senantiasa memberikan like, komen, dan gift, trima kasih untuk segala bentuk dukungannya.
Salam sehat untuk kita semua. 😘😍🥰
__ADS_1