PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 143 Berbaikan Kembali


__ADS_3

Jakarta


Setelah beberapa menit di dalam kamarnya, Mayang akhirnya turun. Dia tidak langsung menuju ruang tengah, melainkan ke dapur. Dia ambil gelas lalu dia tuang air.


"Mayang, airnya udah penuh," ucap Agil sambil mengambil teko dari tangan Mayang. Sepertinya Agil baru saja tiba di dapur. Entah dia memang mengikuti Mayang atau memang mau ke dapur.


Mayang tersadar dari lamunannya. Gelas miliknya tenyata sudah terisi penuh.


"Kamu melamun?" tanya Agil dengan tatapan mata yang menyelidik.


"Aku..." Mayang tidak tahu harus menjawab apa. Dia menunduk.


"Duduk dulu." Agil mempersilahkan Mayang duduk. Lalu dia ikut duduk di kursi yang di sebelah Mayang.


"Minum." Agil mengarahkan gelas yang dipegang Mayang ke mulut Mayang. Tentu saja jemari mereka bersentuhan, karna Mayang pun sedang memegang gelas itu. Jemari Agil menekan jemari Mayang.


Deg


Ada gelenyar aneh yang dirasakan Mayang kala kulitnya dan kulit Agil bersentuhan. Belum lagi ditambah tubuh mereka yang berdekatan. Mayang semakin sulit mengendalikan dirinya.


"Mikirin apa?" tanya Agil lembut. Wajah Agil hanya berjarak 30 cm dari wajah Mayang.


Mayang menggeleng, dia hanya menunduk, tidak berani menatap Agil.


"Lihat Aku." Agil menaikkan dagu Mayang agar Mayang menatap ke arahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Agil lagi.


"Gak kenapa-kenapa, Mas."

__ADS_1


"Mayang... Aku rindu Kamu." Agil menatap lekat mata Mayang.


"Mas..." ucap Mayang lirih.


Agil mendekatkan wajahnya pada Mayang. Mayang menutup matanya kala Wajahnya semakin tak berjarak dengan Agil. Mayang merasakan bibirnya diapit oleh bibir Agil. Sebuah c1u man singkat tetapi terasa amat dalam.


Mayang membuka matanya kala bibir Agil sudah melepas tautannya dari bibir Mayang. Mata mereka bersitatap, menyelami satu sama lain.


"Jangan, Mas. Nanti ada yang datang." Mayang menahan dada Agil kala wajah Agil hendak kembali mendekati wajah Mayang.


"Aku masih rindu Kamu," ucap Agil parau. Agil melihat sekeliling dapur di rumah papa Mayang itu. Memang akan sangat bahaya jika ada yang datang dan melihat mereka sedang berc1 uman mesra seperti tadi.


Agil menarik tangan Mayang. Dia bawa Mayang ke arah pintu luar dapur, Mayang mau tidak mau mengikuti Agil. Dia tutup pintu itu, jika ada yang datang, tidak akan dapat melihat mereka.


Setelah aman, Agil kembali menautkan bibirnya pada bibir Mayang. Bukan hanya mel um4t dan menghisap bibir Mayang, lidah Agil pun bermain di dalam mulut Mayang.


Mayang melepaskan tautan bibir mereka kala tangan Agil merayap liar di sekujur tubuhnya. Mayang khawatir terlena hingga terlalu lama.


Agil mengangguk. "Dia kembali memberi c1 um4n singkat di bibir Mayang.


"Aku cinta Kamu," ujar Agil menatap dalam mata Mayang.


Tanpa menunggu jawaban Mayang, Agil menggenggam jemari Mayang. Dia bawa Mayang untuk kembali masuk ke dapur.


Deg


Ada Bu Irma yang terheran melihat Mayang dan Agil dari arah luar.


"Kalian dari mana?" tanya mama Mayang bingung.

__ADS_1


Mayang seketika langsung melepas genggaman tangan Agil.


"Tadi Mas Agil mau ngomong, biar gak diganggu ama Yuna makanya Mayang bawa ke belakang," ujar Mayang berbohong.


"Oh, pantesan tadi Mama lihat gak ada," ucap Bu Irma.


"Permisi, Saya ke depan dulu, Bu," ujar Agil pada Bu Irma.


"Silahkan," sahut Bu Irma.


Mayang mengikuti Agil untuk bergabung bersama Yuna dan Rangga.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara


Di dalam mobil Qonita memikirkan pertemuannya dengan mantan suaminya. Dia khawatir maksud kedatangan suaminya bukan hanya untuk melihat anak-anaknya, melainkan ada tujuan lain.


Tidak memberikan izin berjumpa dengan anak-anaknya rasanya tidak mungkin, ayah dari anak-anaknya itu punya hak untuk bertemu dengan anak kandungnya. Tapi memberi izin pun rasanya berat sekali.


Qonita tidak menuntut apapun dari mantan suaminya, termasuk mengenai nafkah untuk anak-anaknya. Lihat saja, bukannya laki-laki itu yang memberinya uang, tetapi dia yang meminta uang pada Qonita seperti saat mereka masih terikat hubungan suami istri.


Bahkan yang lebih menyakitkan lagi adalah saat suami Qonita dulu menggunakan uang Qonita untuk membayari selingkuhannya. Sejak saat itu Qonita membatasi pemberian uang pada suaminya. Hal itulah yang lama kelamaan menjadi sumber pertengkaran Qonita dan suaminya dulu.


Seperti kata orang, penyakit bermain perempuan adalah penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Beberapa saat akan sembuh lalu suatu saat akan kumat/kambuh lagi. Itulah yang terjadi pada suaminya dulu.


Mau meminta pembelaan atas tingkah suaminya pada keluarga pihak suaminya, tetapi keluarga dari pihak suaminya menyuruhnya bersabar. Ribut-ribut malu didengar tetangga.


Malah ada pihak dari suaminya dulu mengatakan jika laki-laki berhak berpoligami. Tentu saja Qonita mengetahuinya. Tetapi apakah keluarganya itu tidak mengetahui bahwa salah satu kewajiban suami adalah menafkahi istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


Jangankan menafkahi istri dan anak-anaknya, menafkahi diri sendiri saja tidak mampu. Laki-laki seperti itu mau berpoligami?


❤️❤️❤️


__ADS_2