
Medan, Sumatera Utara
Kantor Iman
"Bos, ada yang mau ketemu, namanya Lutfi," ucap Jamal pada Iman, yang baru saja memasuki ruangan tersebut.
"Mau apa lagi dia," keluh Iman.
"Siapa Bos?" Jamal mengernyitkan dahinya.
"Mantan suami Qonita. Suruh dia masuk." Iman berucap datar.
"Oh, yang ini manusianya." Jamal menyeringai.
Jamal menuju pintu, lalu masuk bersama ayah Lutfi.
"Maaf ganggu kerjanya, Bos," sapa ayah Lutfi.
"Ada keperluan apa?" tanya Iman langsung.
"Saya gak akan ganggu kerjaan Bos lagi, asalkan Bos bisa keluarkan jatah Saya. Saya gak minta setengahnya, gak sampe sepertiganya malah. 100 juta aja," ungkap ayah Lutfi blak-blakan.
Iman tersenyum mengejek. "Aku fikir Kamu sudah buat laporan. Aku udah nunggu-nunggu datangnya surat panggilan, tapi sampai sekarang nggak ada. Ternyata Kamu gak jadi melapor?"
"Lebih baik kita selesaikan secara kekeluagaan saja. Saya butuh uang. Setelah itu Saya gak akan ganggu Qonita lagi."
"Yang lalu juga Kamu bilang seperti itu. Kamu bilang gak akan ganggu Qonita setelah Aku beri uang yang kemaren. Tapi ternyata apa, omongan Kamu gak bisa dipegang." Iman tersenyum sinis.
"Ini beda cerita, Bos. Saya gak bermaksud ganggu Qonita. Saya hanya meminta jatah Saya aja. Seandainya aja Saya gak butuh uang, Saya juga gak akan meminta rumah itu dijual, rumah itu biarlah untuk kedua anak Saya," kilah ayah Lutfi.
__ADS_1
"Kalau niat Kamu memang seperti itu, kenapa gak Kamu jual aja jatah harta warisan Kamu. Aku dengar kalian udah bagi harta warisan, dan jatah Kamu jika dibandingkan jauh lebih besar nilainya dari rumahnya Qonita," seru Iman.
Deg
Ayah Lutfi tertegun mendengarnya.
"Saya gak bisa menjual rumah itu. Itu harta warisan, gak boleh dijual."
"Kenapa Kamu gak bisa jual? Sementara adik Kamu bahkan sudah menjualnya rumah jatah warisan miliknya 3 bulan yang lalu," sahut Iman.
Deg
Ayah Lutfi terkejut, bagaimana Iman sampai tahu berita itu.
"Bagi Saya harta warisan itu harus tetap dipertahankan. Saya gak akan menjual rumah itu."
"Baguslah kalau Kamu memang orang yang berprinsip. Oleh karena itu harusnya Kamu juga bisa mengerti, bukan hanya Kamu yang yang mempunyai prinsip dalam hidup," seru Iman.
"Kamu kan bisa gadaikan rumah Kamu," ucap Iman menyeringai.
"Saya takut gak bisa bayar cicilannya," ungkap ayah Lutfi.
"Kalau begitu cukup sampai disini pembicaraan kita. Gak akan ada kata sepakat karena kita berseberangan pendapat," ucap Iman.
"Uang segitu gak ada artinya bagi Anda, Bos."
Iman terkekeh mendengarnya. "Jelas karena Aku masih butuh uang makanya Aku bekerja."
Ayah Lutfi merasa tersindir akan ucapan Iman.
__ADS_1
"Saya akan terus menjumpai Qonita, atau jika perlu Saya akan berbicara pada atasannya," ancam ayah Lutfi.
"Silahkan saja. Aku gak bisa melarang Anda. Anda bukan anak kecil yang tidak tahu konsekuensi atas setiap tindakan yang Anda ambil. Tapi 1 hal yang perlu Anda tahu, bahwa Aku akan melakukan segala cara untuk melindungi keluargaku." Iman menatap tajam pada ayah Lutfi.
Ayah Lutfi terdiam mendengarnya. Sepertinya sudah tidak ada lagi cara agar dia mendapatkan jatah dari rumah Qonita. Mengambil jalan hukum jelas tidak menguntungkan baginya.
"Maaf, jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, Anda boleh keluar. Ada beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan," ungkap Iman.
Ayah Lutfi menghela nafas panjang. "Permisi." Dengan berat hati dia meninggalkan ruangan Iman.
❤️❤️❤️
Jakarta
Agil dan Mayang berangkat ke kantor Agil. Agil menanyakan pada Mayang apakah dia serius dengan ucapannya tadi pada Poppy, ataukah hanya sekedar alasan saja.
Dan ternyata Mayang malah berkata dia siap menikah dengan Agil. Pertanyaan dan pernyataan Poppy tadi membuat Mayang berfikir memang tidak baik dia terlalu dekat dengan Agil, sementara mereka bukanlah suami istri.
Status j4n d@ dan du d@ diantara mereka membuat Mayang khawatir akan pemikiran orang tentang kedekatan mereka. Ditambah lagi sudah beberapa kali Agil menc1umnya serta bermesra-mesraan dengannya.
Bahkan mereka sudah pernah tidur di 1 kamar yang sama dalam keadaan pintu yang terkunci. Walau hanya tidur benaran tanpa melakukan yang macam-macam, tetapi tetap saja orang pasti akan menilai buruk andai mengetahui itu semua.
Oleh karena itulah Mayang menyatakan bersedia menikah dengan Agil. Agil tentu saja sangat senang mendengarnya. Ternyata di balik kata-kata tajam Poppy, tersimpan kebaikan dibelakangnya.
❤️❤️❤️
Sementara itu, Poppy dan kedua orang tuanya terpaksa pulang ke Bali. Kata-kata tajam Agil membuat mereka mau tidak mau harus pulang.
Tante Sarah memarahi Poppy karena tidak bisa bermain cantik. Akibat perkataan Poppy pada Mayang lah sehingga mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk merebut hati Agil. Pupus sudah semua harapan mereka.
__ADS_1
❤️❤️❤️