PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 148 Ke Rumah Agil


__ADS_3

Jakarta


Karena Agil meminta Mayang dan Yuna datang ke rumahnya besok, Mayang jadi memikirkan di rumah Agil ada siapa saja. Apakah orang tuanya Agil masih ada dan tinggal bersamanya atau tidak. Ah, Mayang selama ini tidak tahu banyak tentang Agil.


Mayang menemui papanya. Dia ingin bertanya tentang Agil.


"Pa, mas Agil tinggal bersama siapa saja di rumahnya?" tanya Mayang pada papanya.


"Setau Papa cuma bersama ART nya aja," ungkap Pak Erlangga.


"Oh. Orang tuanya mas Agil masih ada?" tanya Mayang.


"Masih, keduanya masih ada."


"Mas Agil anak ke berapa dari berapa bersaudara, Pa?"


"Papa gak tau. Besok Kamu tanyak sendiri. Besok kan Kamu ke rumahnya," sahut Pak Erlangga.


"Ya udah deh," imbuh Mayang.


❤️❤️❤️


Medan, Sumatera Utara


Iman dan Qonita sudah berada di kamar mereka, anak-anak sudah tidur. Iman penasaran bagaimana Qonita bisa sampai menikah dengan mantan suaminya itu.


"Sayang," panggil Iman pada istrinya.


"Ya, Bang?" Qonita yang tadinya sedang membaca pesan masuk di dalam grup guru di sekolahnya pun meletakkan HP nya, lalu mendekati suaminya yang sudah tiduran di tempat tidur.


"Kalian dulu dijodohkan?" tanya Iman.


"Nggak, Bang. Gak sengaja ketemu di Mesjid. Qonita dan Kak Zuraidah begitu siap sholat langsung jumpai Bang Fiqri. Dia lagi ngomong sama Bang Fiqri. Bang Fiqri baru kenalan saat itu," ujar Qonita.

__ADS_1


Iman manggut mendengarnya. Pantas saja. Rasanya tidak mungkin jika mereka sebelumnya sudah mengenal sejak lama.


"Dari awal pernikahan sikapnya udah langsung berubah, Sayang?" tanya Iman penasaran.


"Nggak, Bang. Awalnya bagus, bertahan sampai dua tahun. Setelah itu masalah gak ada habisnya," tutur Qonita.


"Tapi Kamu tetap bertahan saat itu?"


"Iya, Bang. Sampai dia ketauan selingkuh untuk yang kedua kalinya," ungkap Qonita.


Iman pun mengangguk. Ia elus rambut istrinya itu.


"Dia mudah terpengaruh Bang. Saat itu dia sering gabung sama salah satu saudaranya. Qonita gak suka sama saudaranya itu. Selingkuh, Hamilin anak gadis orang sama makek juga. Qonita udah larang agar gak usah bareng saudaranya itu. Tapi dia marah. Alasannya itu kan saudaranya." Qonita menjelaskan.


"Jadi dia sempat konsumsi barang haram itu juga?" tanya Iman.


"Dulu seh nggak, Bang. Sekarang gak tau. Cuma dia tertular sama penyakit main perempuannya. Kemaren aja pas ketemu beli p3ng4 man, Bang. Ya meski gak tau itu untuk siapa," ujar Qonita.


"Iya, Bang. Habis Qonita gak sengaja baca pesan dari selingkuhannya, akhirnya dia bilang mau nikah lagi."


"Kamu gak ngadu ke keluarganya, Sayang?"


"Ya ngadu, Bang. Kami bahkan sampai sidang keluarga besar. Ya tapi gimana lagi, Bang. Dari saudaranya ada beberapa yang nikah lagi diam-diam. Dia gak sampai nikah, tapi ya terus lanjut sama perempuan itu," terang Qonita.


"Selingkuh yang kedua kali sama perempuan yang sama, Sayang?"


"Nggak, Bang. Beda lagi."


Iman pun mengangguk.


'Semoga Aku gak akan pernah lagi menorehkan luka untukmu, Sayang,' ucap Iman dalam hati.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Jakarta


Mayang dan Yuna mendatangi rumah Agil. Mayang sudah membawa beberapa cemilan yang dia bawa dari rumahnya dan dibeli di toko roti.


"Assalamu'alaikum, Om," ucap Yuna saat Agil menyambut kedatangan mereka.


"Wa'alaikum salam, Sayang." Agil tersenyum lebar. "Masuk, Cantik." Dia merangkul Yuna, tetapi matanya menatap Mayang. Lalu Agil mengedipkan sebelah matanya. Mayang tersenyum melihat tingkah Agil.


Mayang pun membawa buah tangan yang dia bawa ke belakang. Lalu meletakkannya ke dalam piring untuk dibawa ke depan, tempat dimana Agil, Rangga dan Yuna berada. Tetapi belum siap dia melakukannya, Agil sudah menyusul ke meja makan.


"Kog repot-repot seh, kan Aku udah nyiapin juga buat nyambut kedatangan kalian," ujar Agil pada Mayang.


"Gak apa, Mas. Masa' datang pakek tangan kosong, seh. Mas aja kalau datang selalu bawa sesuatu," sahut Mayang.


"Gak apa datang pakai tangan kosong, yang penting Kamu bawa cinta untukku." Agil mulai merayu Mayang.


Mayang terkekeh mendengar rayuan Agil. "Pande banget seh, ngerayu."


"Aku rindu, Kamu." Agil berbisik di telinga Mayang. Dia berdiri di belakang Mayang yang masih menyalin kue ke piring. Kedua tangannya memegang meja, mengungkung tubuh Mayang.


Karena Mayang takut ART di rumah Agil yang sedang membuat minuman di dapur melihat mereka, dia membalikkan badannya menghadap Agil.


"Mas." Tangan Mayang menolak dada Agil agar Agil mundur.


Tetapi tentu saja itu tidak berpengaruh pada Agil. Agil menaikkan dagu Mayang. Lalu dia menunduk dan mulai menc1 um bibir Mayang. Dia lum at singkat bibir berlipstik pink itu. Ketika hendak dia ulangi, Mayang kembali mendorong tubuh Agil.


"Nanti ada yang lihat, Mas," ujar Mayang.


"Ya udah, nanti kita lanjut," seringai Agil.


Mereka pun membawa kue dan roti ke depan.


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2