PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 110 Agil dan Rangga


__ADS_3

..."Ketika satu pintu menutup, maka pintu lain terbuka; tetapi kita begitu sering melihat begitu lama dan sangat menyesal pada pintu yang tertutup sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka untuk kita."...


...-Alexander Graham Bell....


Jakarta


Mayang dan Yuna kini berada di Jakarta. Dia sudah berjumpa dengan papa, abang dan adik laki-lakinya. Kedua orang tuanya selama ini tinggal bersama adiknya, sementara abangnya tinggal terpisah dari orang tuanya karena sudah menikah.


Papa, abang dan adik Mayang sependapat dengan Bu Irma, mereka tidak menyetujui Mayang melanjutkan hubungan dengan Iman.


Secara diam-diam, Pak Erlangga meminta Daffin, Abang Mayang agar menjumpai Agil, rekan bisnis mereka yang merupakan sahabat Daffin. Daffin adalah seorang duda beranak 1. Istrinya meninggal saat melahirkan putra pertamanya. Saat ini Rangga, putranya sudah berusia 10 bulan.


Dengan berterus terang, Daffin menceritakan tentang pernikahan rumit adiknya kepada Agil. Serta tujuan dia agar Agil bisa berkenalan dengan Mayang.


Agil yang disodorkan sebuah foto Mayang dan Yuna merasa terkesima dengan kecantikan Mayang. Persahabatannya dengan Daffin serta kedekatannya dengan Pak Erlangga membuat dirinya menerima sebuah undangan makan malam di rumah Pak Erlangga.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Rumah Pak Erlangga


Agil POV


Saat Daffin menceritakan tentang permasalahan adiknya padaku, dan mengetahui bahwa status adiknya yang masih merupakan istri dari laki-laki lain membuatkan malas berurusan dengannya. Tetapi entah kenapa, saat Daffin memperlihatkan foto adiknya, Aku merasa tertarik padanya, ada sesuatu yang berdetak di dalam hatiku.


Saat Mayang dan anaknya, tiba di meja makan, Aku dan keluarga Pak Erlangga yang lain sudah ada disana.


"Mayang, ini kenalkan Agil, rekan bisnis keluarga kita dan juga sahabat dari Abang Kamu." Pak Erlangga memperkenalkanku pada Mayang.


"Agil, ini Mayang dan Yuna, anak dan cucu Saya," ucap Pak Erlangga padaku.


Manis. Sebuah senyuman yang sangat manis.


Kami pun makan malam bersama.


Selesai makan malam, Aku, Daffin dan Pak Erlangga berbincang-bincang di ruang tamu. Sementara Lutfi, adik Daffin dan Mayang, sudah masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Bu Irma mengajak Mayang dan Yuna bermain bersama anakku, Rangga di ruang tengah. Karena ramai orang, Rangga masih belum merasa ngantuk.


Dapat kulihat Yuna senang bermain bersama rangga. Begitu juga dengan Mayang, pasti merasa gemas melihat tubuh mon tok putraku.


❤️❤️❤️


Author POV


Di ruang tamu, Mayang bertanya pada mamanya dimana ibu dari rangga. Bu Irma menceritakan bahwa mamanya rangga sudah meninggal saat melahirkannya. Dan papanya belum menikah lagi.


Mayang merasa sangat kasihan, karena Rangga tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Dia jadi teringat akan putrinya yang hanya sesekali berjumpa dengan papinya. Pasti Rangga jauh lebih sedih dibandingkan putrinya andai dia dapat mengatakannya.


Mayang juga bertanya pada mamanya kenapa Papanya Rangga baru memiliki Rangga yang usianya baru 10 bulan, sementara dia adalah sahabat dari Abangnya. Sedang Yuna saja saat ini sudah hampir berusia 7 tahun.


Bu Irma menceritakan bahwa Agil memang agak lama baru menikah. Kesibukannya membangun bisnis membuatnya terlena untuk terus bekerja. Sehingga di usianya yang kini 33 tahun baru memiliki seorang bayi.


Wajah tampan dan badan gempal Rangga membuat mereka senang bermain bersama Rangga. Rangga yang merangkak dengan badan ogel-ogel serta senyuman lebarnya yang mengeluarkan air ludahnya membuat mereka tersenyum dan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Pukul 9 malam, Agil permisi pamit pulang. Dia berterima kasih atas undangan dan hidangan makan malamnya.


❤️❤️❤️


__ADS_2