PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 23 Satu Aja Gak Habis-Habis


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Qonita, Iman merasa sangat mantap dengan keputusannya. Dia harus bergerak cepat. Lebih cepat lebih baik, seperti itulah fikirnya.


Janda dua anak itu kerap membuat Iman gelisah galau merana. Pasalnya semakin lama, Iman semakin tertarik pada cikgu yang satu itu.


Sementara sang pujaan hati masih berkutat dengan kekhawatirannya. Iman meyakini bahwa Qonita juga mencintainya.


Tapi masa lalu perempuan berhijab itu, membuatnya tampak ragu mengambil keputusan. Takut gagal lagi, mungkin seperti itu.


Kali ini, Iman mendatangi rumah orang tuanya. Ia hendak menjelaskan maksud dan keinginannya. Ternyata ada Nana, Galang dan kedua anaknya disitu.


"Kenapa lagi, Man?" tanya opa Pras, yang mengerti anak pertamanya itu pasti ada maunya.


Ya, belakangan ini Iman memang sering datang, hanya untuk membicarakan hubungannya dengan Qonita.


"Lamarin Qonita, Pa," ucap Iman dengan santainya.


"Sori, Papa gak minat nikah lagi," ujar Opa Pras sengaja menggoda anak sulungnya itu.


"Hahaha..." kekehan Nana menggelegar. "Ma, anak Mama ni, masa' Papa malah disuruh kawin lagi," ucap Nana pada oma Herni.


Oma Herni hanya tersenyum.


"Ck." Iman mendecak. "Serius, Pa."


"Lho, Papa juga serius, Man. Mama Kamu aja gak habis-habis, masa' mau kawin dua." Opa Pras makin senang menggoda Iman.


"Lamarin Qonita untuk Iman, Pa. BUKAN UNTUK PAPA," kesal Iman pada papanya.


"Makanya ngomong yang bener. Biar Papa gak salah paham." Opa Pras makin semangat melihat anaknya itu merasa kesal.


"Dulu aja sok nolak. Sekarang pengen cepat-cepat," ejek oma Herni.


"Udah kebelet, Ma. Harap maklum. Udah bosan men-DU-DA," ejek Nana pada satu-satunya saudara kandungnya itu.


“Minggu ini," ucap Iman tanpa ekspresi.


Hening


Tiga detik


Lima detik


Tujuh detik


"Ma, Pa," rengek Iman. Mama dan papanya saling melirik namun masih diam.


“Minggu ini kenapa, Bang?" kali ini Gagah yang bersuara.


"Hantarannya," jawab Iman dengan wajah tanpa dosa.


Haaa?


Apa?


Kog bisa?


Mama, papa dan Nana kompak terkejut. Gagah hanya tersenyum melihat ekspresi semuanya.

__ADS_1


"Makanya Iman kesini minta tolong sama Papa dan Mama. Biar minggu ini bisa terlaksana," ungkap Iman dengan polosnya.


"Kamu mau ngelamar kucing?" tanya oma Herni kesal. "Bisa-bisanya mau minggu ini. Memangnya gak perlu persiapan apa? Terus kog langsung hantaran aja? Harusnya kan meresek dulu!"


"Langsung hantaran aja, Ma. Biar cepat. Makanya butuh bantuan Mama ngomong ke Bujing Jelia." Iman menatap mamanya dengan wajah memelas.


"Hufft." Oma Herni mengeluh.


“Papa gada kenalan gitu Pa, yang bisa bantu?" tanya Iman pada opa Pras, yang sedari tadi sibuk menikmati minumannya.


"Ada," ucap Opa pras semangat. "Bisa."


Iman sudah tak sabar mendengar kabar gembira dari papanya.


"Tapi bisanya bantu Kamu dalam bisnis. Hahaha..." Opa Pras tertawa puas melihat keputus asaan papi Ichy itu.


"Hahaha..." Nana dan Gagah tertawa bersamaan.


"Buru-buru amat, Bang. Pelan-pelan aja, yang penting pasti," ujar Gagah.


"Iya, Man. Lagian langsung hantaran aja, emang Kamu yakin bakal diterima?" tanya oma Herni.


"Ya makanya Ma, biar gak ditolak langsung hantaran. Kalo kita dah bawa seserahan kan gak bakal ditolak," sahut Iman.


"Astagfirullah."


"Ya Allah."


"Bang?"


Ucap Papa, mama, dan Nana serentak.


"Sori ya Dek, gak perlu pake pemanis buatan buat menaklukkan Qonita. Cukup dengan apa yang ada dari diri Abang, udah buat dia gak bisa nolak Abang." Iman berucap dengan menegakkan badannya.


"Biar tau aja ya Dek, Qonita sampe nangis, cuma gara-gara tiga hari gak Abang kasih kabar," ucap Iman bangga.


"Nangis, Bang?" tanya Nana tak percaya.


Imam mengangguk penuh percaya diri. "Kalo gak percaya, tanyak Jamal. Jamal jadi saksi hidup, dia ada disana waktu kejadian itu."


“Wuiiidiihhh... Kalo yakin diterima kenapa sibuk minta-minta bantuan segala. Tadi juga ngomongnya langsung hantaran biar gak ditolak," cibir Nana.


"Biar efektif dan efisien Dek, kalo bisa satu kali pertemuan aja kenapa harus dua kali," ungkap Iman.


"Hallah, bilang aja dah kebelet mau ium-ium eluk-eluk?" ejek Nana. Nana memang terbiasa berucap ceplos.


"Sayang!" Gagah menggeleng, ia mengingatkan istrinya itu agar jangan berbicara asal, apalagi ada kedua orang tua mereka disana.


“Gagah, Kamu dulu nikahin Nana karna mau ium-ium eluk-eluk, ya? tanya Iman pada Gagah.


"Eh." Gagah terkejut. Pasalnya dulu dia memang menikahi Nana karna takut tak kuat menjaga iman.


"Udah... udah. Malah berantem," lerai oma Herni. "Qonita udah setuju minggu ini langsung hantaran?"


Akhirnya Iman menceritakan pembicaraannya dengan Qonita pada keluarganya. Dan oma herni mengatakan akan berusaha membantu agar semua dapat terlaksana sesuai kehendak Iman.


Karna oma Herni juga sangat senang jika Qonita menjadi menantunya.

__ADS_1


"Maharnya apa, Bang?" tanya Nana.


"Masalah mahar jadi urusan Abang."


"Kamu udah tanyak Qonita dia mau apa?" tanya oma Herni.


Iman mengangguk. "Aman, Ma."


"Nana harus komporin kak Qonita nih, biar minta yang banyak. Kalo bisa sampe Abang kesusahan. Hahaha.." Nana mengusili abangnya itu.


Iman mencebik mendengar ocehan adiknya. "Yang ada dia yang kesusahan nerima mahar yang Aku kasih."


Semua yang mendengar pada mengernyit.


"Kamu gak lupa kan, mahar itu haknya perempuan, Man. Upayakan permintaannya terpenuhi," ucap opa Pras.


"Iya Bang, bukan semau Abang kasih. Mentang-mentang kak Qonita gak minta ini itu, Abang jangan asal kasih," celetuk Nana tidak senang.


"Siapa bilang dia gak minta, dia minta kog. Dan Aku pasti penuhin." Iman tersenyum jahil.


Nana semakin penasaran. "Emang kak Qonita minta apa sih, Bang?"


"7 huruf, tengahnya A," ucap Iman menyeringai.


"Rahasia? Huffft... Aneh banget mahar aja pake ‘rahasia’-an, Bang," ujar Gagah.


"Kasih yang terbaik buat calon mantu Papa, Man," ucap opa Pras. "Kasih yang banyak."


"Pasti, Pa." Iman tersenyum lebar.


Papanya itu memang sangat pintar dan bijaksana. Tanpa dibilang sepertinya langsung mengetahui segalanya.


Sementara oma Herni, Nana dan Gagah masih bertanya-tanya dalam hati.


❤️❤️❤️


Rumah Bujing Jelia


Sore ini, oma Herni kembali berkunjung ke rumah bujing Jelia. Ditemani oleh opa Pras.


"Maaf, kami datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Bu," ucap oma Herni memulai pembicaraan.


"Tidak apa-apa, Bu Herni." Saya malah senang. Alhamdulillah Saya ada dirumah," ujar bujing Jelia.


"Jadi begini Bu Jelia, anak kami Iman sepertinya sangat serius ingin menikah dengan Qonita. Semalam dia berbicara pada kami," ucap opa Pras.


"Dia sudah berbicara dengan Qonita, dan mengatakan minggu ini akan datang untuk langsung hantaran. Untuk itu kami perlu mengetahui pendapat dari keluarga Qonita," sambung Opa Pras.


"Wah, kalau itu Saya perlu bicarakan dulu dengan keluarga besar, Pak. Dan kalau minggu ini sepertinya apakah tidak terlalu cepat, Pak?" jawab bujing Jelia.


"Kami juga berpendapat demikian, hanya saja Iman sepertinya sudah tidak sabar ingin menikah Qonita," ujar opa Pras.


"Haha.. padahal dulu dia selalu menolak untuk menikah lagi. Kami mendukung mana yang terbaik untuk anak-anak kita, Bu," lanjut opa Pras.


"Setidaknya, Saya harus bertanya dulu pada mama dan abangnya Qonita. Hasilnya nanti akan Saya kabari via telpon saja ya, Pak, Bu," ungkap bujing Jelia.


“Em, Iman juga mengatakan kalau diizinkan, pernikahannya juga disegerakan, Bu. Dia mengatakan kalau bisa, 2 minggu setelah hantaran," ucap Oma Herni.

__ADS_1


"Baik, akan Saya sampaikan pada keluarga, Bu," jawab Bujing Jelia.


__ADS_2