
Setelah selesai berfoto, Iman dan Qonita berganti pakaian. Baju kedua menggunakan adat Mandailing.
Setelah selesai, Iman kembali bergabung bersama keluarganya, guna mengikuti tradisi buka palang pintu.
Pihak pengantin pria sudah berhadap-hadapan dengan pihak pengantin wanita di depan pintu. Rangkaian ceremonial pun dijalankan. Tak hanya ibu-ibu dan anak gadis yang ada disana, anak-anak pun ikut bergabung.
Keriuhan terjadi disana, kala tebalnya amplop yang disediakan pihak pengantin pria. Tentu saja pihak pengantin wanita sangat antusias menerima amplop tebal itu, yang mungkin isinya hampir satu blok sangkingkan tebalnya.
Kalau biasanya pihak pengantin pria yang tak sabar palang pintu segera dibuka, kali ini pihak pengantin wanita yang ingin segera diselesikan saja.
Harap maklum, siapa yang tak penasaran dengan jumlah uang yang ada didalam ampop itu.
Hingga akhirnya, pintu dibuka. Iman dan Qonita kini duduk di kursi pengantin.
"Cantik banget, Sayang," ucap Iman.
Qonita tersenyum. "Efek make up dan pakaian bagus, Bang," ujar Qonita.
"Nggak lah, Sayang. Kamu memang cantik. Bidadari syurgaku," ungkap Iman bersungguh-sungguh.
Karena malu dirayu terus oleh Iman, Qonita malah menjatuhkan badannya ke dalam pelukan Iman, untuk menghindari tatapan menggoda Iman.
"Wah, udah berani. Tapi jangan sekarang, Sayang. Kita masih nunggu banyak tamu ini." Iman semakin menggoda Qonita.
"Abaaaang," ucap Qonita manja.
"Hahaha, kenapa Sayang?"
Qonita hanya mencebikkan bibirnya, kemudian kedua tangannya memeluk tangan kiri Iman.
"Tuh kan, mau lengket terus. Tau gini, Aku nikahi dari dulu."
"Ketemunya aja baru, Bang," balas Qonita.
"Ya iya, dari pertama kali ketemu biar langsung dinikahi aja," jawab Iman.
Qonita menegakkan tubuhnya, lalu menatap Iman. "Abang lupa?" tanya Qonita.
Iman bingung. "Lupa apa, Sayang?"
"Lupa, pas pertama kita ketemu, Abang itu ngeselin banget, tau gak," ucap Qonita manyun.
"Hahaha, itu kan akting, Sayang," ujar Iman. Iman lalu mencubit pipi Qonita.
"Udah donk jangan manyun, Kamu tuh tambah gemesin. Ntar Aku gak tahan untuk gak cubit bibir Kamu, Sayang," ungkap Iman.
__ADS_1
“Abang gak takut dikira KDRT?" ejek Qonita.
"Ya nggak lah, Sayang. Kan udah sah." Iman menyeringai.
Qonita mengerjap bingung.
"Kan cubit bibir Kamunya, pake bibir Aku, Sayang." Iman pun tertawa puas.
Qonita memutar bola matanya malas.
❤️❤️❤️
"Bunda," ucap Ichy, Fuad dan Nabil memang sesekali menghampiri ke pelaminan.
"Udah pada makan, Nak?" tanya Qonita.
"Udah, Bunda." Ketiganya menjawab kompak.
“Bunda, Bunda pakek apa? Kog kayak putri raja?" Ichy menunjuk ke arah hiasan kepala adat mandailing yang sedang dipakai Qonita.
Qonita tertawa mendengar disebut seperti putri raja.
"Oh, ini namanya bulang, Sayang."
Ichy sedari tadi mendengar banyak orang yang menyatakan padanya, bahwa bunda dan papinya menikah.
Iman melirik Qonita. "Tergantung, Sayang. Kenapa, Ichy pengen pakek bulang juga?"
"Iya, Pi. Biar kayak putri raja," ucap Ichy dengan polosnya.
"Hahaha, gak mau kayak princess Elsa?" tanya Iman?
"Gak, Pi. Mau pake mahkota yang besar," ucap Ichy manja.
"Tapi ini berat, Sayang," ujar Qonita. "Masangnya juga lama, terus kita gak bebas buat gerak," ujar Qonita yang terlihat hati-hati untuk bergerak, khawatir bulangnya terjatuh atau rusak.
"Oh iya, Bunda?" tanya Ichy.
"Iya, Sayang," jawab Qonita.
"Punya Papi juga pakeknya lama?" tanya Ichy menunjuk ampu, hiasan kepala laki-laki adat mandailing.
"Nggak Sayang, kalau punya Papi gampang pakeknya. Liat ni." Iman melepas dan memasang lagi ampu di kepalanya.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Pakaian ke 3 yang dipakai adalah pakaian jawa, sesuai dengan suku dari Iman. Mereka Cuma memakai 3 pakaian saja, mengingat acara mereka diadakan di gedung. Resepsi nya Cuma sampai jam 5 saja.
Pukul 4, keluarga dari kedua belah pihak sudah berkumpul, duduk di atas karpet. Mereka akan melakukan serah terima pengantin perempuan, karena sebentar lagi akan langsung dibawa ke rumah pengantin pria.
"Assalamualaikum Wr. WB. Saya Ramadhan, uwak dari Qonita. Alhamdulillah acara akad dan resepsi pernikahan, Ananda kita Sulaiman dan Qonita, berjalan dengan lancar."
"Qonita, saat ini Kamu sudah resmi menjadi seorang istri dari Ananda Sulaiman. Dan saat ini, anak Kamu sudah berjumlah 3 orang. Jadilah istri dan ibu yang baik. Sayangi Ichy, sebagaimana Kamu menyayangi Fuad dan Nabil."
"Pesan kami dari keluarga, turuti apa kata Suami. Perlakukan suami Kamu dan keluarganya dengan baik. Ingat, surga Kamu sekarang ada pada suami Kamu."
"Untuk Ananda Sulaiman, kami menitipkan Qonita dan anak-anaknya pada Kamu. Perlakukan pula dia dengan baik. Ingat, satu tetes saja air mata istri jatuh akibat ulah suaminya, maka surga haram bagimu."
"Anggaplah Fuad dan Nabil seperti anak kandung Kamu sendiri. Qonita sebagai manusia biasa, banyak kekurangannya. Tegurlah dengan baik-baik jika dia bersalah."
"Akhir kata, kami berdoa semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. Aamiin. Assalamualaikum. WR. WB."
Setelah sambutan dari pihak wanita, sekarang giliran dari pihak pria yang berbicara. Diwakilkan oleh om Ferdi.
"Assalamualaikum Wr. Wb. Saya Ferdi, om dari Sulaiman, mewakili keluarga menyambut baik masuknya Qonita dan anak-anaknya dalam keluarga besar kami."
"Qonita, Iman ini juga banyak kurangnya. Mungkin, pemahaman agamanya lebih sedikit dibanding Kamu. Mungkin, dia kurang sabar dibanding Kamu. Atau masih banyak lagi kekurangannya disana sini. Untuk itu, Om sampaikan agar saling melengkapilah diantara kalian."
"Dalam berumah tangga, ada lika-likunya. Jika yang satu jadi api, yang 1 harus jadi air. Jangan dua-dua jadi api. Bisa habis terbakar. Saling mengerti, saling menerima dan saling bekerja sama lah dalam berumah tangga."
"Anak kami, Sulaiman. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab. Kamu adalah imam di keluargamu. Berikan contoh yang baik."
"Sayangi Qonita dan anak-anaknya. Ingat, sebelum dia menjadi istri kamu, ada banyak orang yang menyayanginya. Ada ibunya, abangnya, uwaknya, bujingnya, udak dan nangudanya, para sepupunya."
“Karena Kamu telah mengambil Qonita menjadi istri Kamu, sekarang Kamu lah yang harus menyayanginya. Kamu lah yang berkewajiban membahagiakannya."
"Akhir kata, semoga pernikahan kalian diRidhoi Allah, langgeng hingga akhir hayat. Aamiin. Assalamualaikum WR. Wb."
Tibalah waktunya Qonita, Fuad, Nabil, Vivi dan keluarga dari pihak pria keluar dari gedung, menuju rumah Iman. Tangisan dari keluarga mengiringi kepergian beberapa mobil itu.
Terutama dari mama Qonita. "Semoga adek bahagia," ucap mama Qonita dalam hati.
Fiqri yang berada disebelah mamanya, merangkul erat mamanya. Memberi kekuatan pada mamanya.
Ia mengerti apa yang ada difikiran mamanya itu. Kegagalan rumah tangga Qonita yang pertama, sungguh berbekas di hati mamanya. Memberi luka cukup lebar bagi keluarga mereka.
"InsyaAllah mereka akan mampu menjalaninya dengan baik, Ma," ucap Fiqri.
"Aamiin," ucap mama Qonita.
❤️❤️❤️
__ADS_1