
...Bab 12. Ajak Kencan Anak-anak...
Semalam Fiqri dihubungi oleh bujingnya. Hari ini, dia sengaja berkunjung ke rumah adeknya, Qonita.
"Beberapa hari yang lalu, ada laki-laki yang datang ke rumah Abang, Dek." Fiqri menatap adeknya lembut.
Qonita diam sambil memikirkan siapakah gerangan yang dimaksud abangnya.
"Sulaiman, katanya berniat serius sama Kamu," lanjut Fiqri.
Qonita terkejut, tak menyangka Iman mendatangi abangnya. Banyak hal yang berkecamuk dalam fikiran Qonita.
Apa laki-laki itu benar-benar serius, apa ini karna permintaan orang tuanya, atau ahh... Qonita tak tau harus mengatakan apa pada abangnya.
"Bagaimana dengan Kamu, Dek? Keputusan ada di Kamu, Abang hanya bisa mendukung yang terbaik untuk Kamu." Fiqri diam sejenak menunggu kalimat apa yang akan diucapkan adek satu-satunya itu.
"Kami hanya... mm... maksudnya belum..." Qonita tak mampu melanjutkan kalimatnya, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Gapapa, saran Abang, istikharah, Dek. Tanyakan pada Dia Yang Maha Mengetahui."
"Tapi Qonita nggak berniat menikah lagi, Bang," ucap Qonita lirih.
Fiqri tersenyum. "Kamu bisa pertimbangkan anak-anak, Dek. Semoga dia bisa jadi ayah yang baik bagi anak-anak Kamu."
"Bahkan dia gada interaksi ke anak-anak, Bang," ucap Qonita.
"Mungkin belum, Dek. Sepertinya dia sungguh-sungguh. Bujing dan Yahya juga menyukainya."
"Haa?" Qonita terkejut mendengar pernyataan abangnya. "Bujing? Kog bisa?"
"Kata bujing, besok mau singgah kemari." Qonita terdiam mendengarkan penuturan abangnya.
Malamnya Qonita kembali tak bisa tidur. Memikirkan perihal yang disampaikan abangnya.
❤️❤️❤️
Keesokan harinya...
Bujing Jelia datang ke rumah Qonita. Tentu saja Qonita sudah mengetahui maksud kedatangan adik dari mamanya.
Setelah sedikit berbincang perihal kedatangan Oma Herni dan Bu Yana, serta kedatangan Iman ke rumahnya, Bujing Jelia menyatakan pendapatnya pada Qonita.
"Kenal dulu, jangan terburu-buru dan jangan menolak. Kita gak tau kedepan akan seperti apa. Pelajari karakternya. Karna dia bukan hanya akan jadi suami Kamu, tapi juga ayah dari anak-anak Kamu," ucap bujing Jelia.
"Dan perbedaan kalian agak sedikit jauh, dia berasal dari keluarga berada. Hal yang selama ini kamu hindari. Jangan menutup diri. Namun jangan juga sampai merasa terbebani. Jalani dengan santai, bukankah semua akan terlewati," tutur bujing Jelia.
"Bukan cuma kaya, Jing, wajahnya juga ganteng banget." Qonita menggerutu pelan, ternyata dapat didengar oleh bujingnya.
"Hahaha... Kalau ganteng harusnya suka donk." Bujing Jelia mengerling padanya.
Qonita mencebikkan bibirnya. "Nggak jing, Qonita gak suka yang terlalu ganteng."
"Kalau dia ajak ketemuan mau aja. Biar bisa menilai perangainya. Yang penting pandai-pandai jaga diri. Kamu bisa ajak anak-anak atau Vivi. Atau mau ketemuan di rumah Bujing juga boleh."
Qonita ingin menyanggah. Namun bujing Jelia keburu melanjutkan perkatannya.
"Jangan sampai membuang hadiah ke tong sampah, tanpa melihatnya terlebih dahulu. Bisa jadi isi didalamnya sesuatu yang bermanfaat untuk kita." Qonita diam mencerna kalimat bujingnya.
❤️❤️❤️
2 hari kemudian...
Qonita melihat HPnya. Tertulis nama Iman disana. Laki-laki yang belakangan mengusik hati dan fikirannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Qonita.
"Wa'alaikum salam, Qonita. Apa kabar?" jawab Iman.
"Alhamdulillah sehat."
Hening beberapa detik.
"Gak ditanyak balik neh?" Goda Iman.
"Hmm, sepertinya sehat. Makanya gak ditanyak."
"Hahahha... siapa bilang. Gak boleh sok tau gitu. Ditanyak donk."
"Ichy apa kabar?"
"Hahahha... yang nelpon papinya, kog yang ditanyak anaknya seh? Gak adil banget. Sengaja bikin cemburu, ya?"
"Ck."
"Minggu Aku jemput, ya. Bawa anak-anak jalan. Ke mall aja gimana?"
"Haa? Jangan. Gak usah."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Gak enak."
"Gak enak kenapa?"
"Gak enak aja. Mau ngapain?"
"Cuma bawa main anak-anak aja. Mau, ya."
"Gak mau."
"Kenapa gak mau?"
"Hmm... kan bisa bawa sendiri."
"Bawa sama-sama aja, biar lebih ringan."
"Haa?"
"Hahaha..."
"Ck. Aneh banget."
"Kamu yang aneh, Sayang."
Deg
Deg
Hening
"Mau, ya? Kan rame gak berduaan aja. Jangan takut. Aku jinak kog."
Hening. Qonita tak menjawab.
"Qonita, Sayang."
"Jangan panggil seperti itu."
"Jadi mau dipanggil apa?"
"Panggil nama aja."
"Lho, kan udah dari tadi."
"Jadi maunya pake apa? Cinta?"
"Ck."
"Hahha. Iya iya. Makanya nurut. Cuma diajakin jalan juga. Payah banget nurutnya. Jam 11 Aku jemput, ok?"
"Jumpa disana aja. Gak usah dijemput."
"Huffft... ok. Nyerah."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam, say-, Eh... Qonita. Hahha..."
Qonita mendesah panjang mendengar tawa Iman.
❤️❤️❤️
Di kantor Iman
"Jadi minggu ini, Bos mau jumpa sama Qonita dan anak-anaknya?" tanya Jamal.
"Ya," jawab Iman.
"Wah, persiapan harus matang, Bos. Ambil hati anaknya dulu baru bundanya."
Iman hanya melirik.
"Butuh bantuan apa, Bos?”
"Gada."
"Haa?"
"Ck. Biasa aja kali."
"Kog tumben, Bos?"
"Ke anak-anak itu harus ngalir apa adanya. Mereka masih polos. Gak perlu dibuat-buat. Cukup dari sini aja." Iman menunjuk dadanya.
"Bener juga ya, Bos. Ichy ke Qonita juga gitu ya, Bos, cukup dari hati."
__ADS_1
"Hmm."
"Persiapan untuk bundanya, ada gak, Bos."
"Gada."
"Ohh, dari hati juga ya, Bos?"
Dan pulpen pun terlempar ke arah Jamal.
❤️❤️❤️
Di salah satu Mall yang ada di Medan
Qonita membuka HPnya. Mengirim pesan pada Iman.
"Kami udah sampai." (Send)
"Ok. Aku lagi beli kartu." (pesan masuk)
Tak sampai 1 menit, Iman sudah bertemu dengan Qonita.
"Assalamu'alaikum." Iman tersenyum pada Qonita dan anak-anaknya.
“Wa'alaikum salam," jawab Qonita, Fuad, Nabil dan Vivi bersamaan.
"Hai, Jagoan, apa kabar?" sapa Iman pada Fuad dan Nabil. Fuad dan Nabil pun menyalam Iman.
"Sehat, Om," jawab Fuad dan Nabil.
"Ichy nya mana?" tanya Qonita.
Iman tersenyum. "Ichy di rumah omanya."
Qonita terkejut. "Gak ikut?"
"Nggak. Jangan bilang-bilang. Dia gak tau kita kesini." Iman mengerling padanya.
"Mau main yang mana dulu neh? Main sama Om, ya," ucap Iman pada anak-anak.
"Iya, Om," jawab Fuad. Nabil hanya berlompat kegirangan.
Iman memegang Fuad di tangan kanannya dan Nabil di tangan kirinya. Qonita dan Vivi mengikut dibelakangnya.
Banyak permainan yang dimainkan Fuad dan Nabil yang didampingi oleh Iman. Vivi juga diberikan kartu oleh Iman. Hanya Qonita yang menatap mereka penuh arti.
"Adek-adek senang ya, Bu," ucap Vivi.
Qonita tersenyum. "Iya, Vi."
"Bisa langsung dekat ya, Bu. Sama kayak Ichy ke Ibu."
"Hmm."
Tak lama Iman dan anak-anak mendekat ke arah Qonita dan Vivi.
"Kita sholat dulu, ya. Makan baru main lagi," ucap Iman.
Qonita mengangguk.
❤️❤️❤️
Sesampai di Musholla
"Fuad sama Aku aja," ucap Iman.
"Gapapa, sama kami aja. Bisa gantian sama Vivi jaganya," jawab Qonita.
"Fuad sholat bareng Om, ya. Biar adek sama bunda," ucap Iman pada Fuad.
"Iya, Om," jawab Fuad. Qonita menarik nafas panjang, melihat Iman tak ingin dibantah.
“Ok, kami sholat dulu, nanti kesitu aja kalau udah siap." Iman menunjuk ke arah bangku yang ada di samping Musholla.
❤️❤️❤️
Selesai sholat mereka jalan sambil mencari tempat makan yang tepat. Iman menggendong Nabil ditangan kirinya. Dan memegang tangan Fuad dengan tangan kanannya.
"Mau makan dimana?"
"Disitu, Om." Tunjuk Fuad.
"Ok. Kita makan disitu."
Setelah memesan makanan. Mereka makan bersama. Fuad duduk disebelah Iman. Qonita, Nabil dan Vivi di depan Fuad dan Iman. Fuad terlihat akrab bersama Iman.
Qonita menyadari Iman sering menatap padanya. Ketika tak sengaja ia bertatap mata dengan Iman, Iman malah bermain mata padanya, sambil tersenyum manis. Qonita pun segera mengalihkan pandangannya.
__ADS_1