PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 116 Benarkah Pergi Ke Binjai?


__ADS_3

"Istrinya? Apa maksud Kamu?" tanya Desy tidak mengerti.


"Ya, Saya adalah istrinya," ujar Mayang sengaja.


Desy dan opa Zul saling melirik.


"Istrinya Iman adalah Qonita. Kenapa Kamu mengaku sebagai istrinya Iman, Nak?" tanya opa Zul heran.


Mayang tersenyum sinis. "Qonita itu istri barunya. Saya sudah lama menikah dengan Iman. Sudah 8 tahun," imbuh Mayang.


Deg


Desy dan papanya sama-sama terkejut.


"Kamu jangan berbohong. Istrinya Iman itu dulu adik Saya, bukan Kamu." Desy tidak senang karena Mayang mengaku-ngaku. Walau Jihan sudah tiada tapi nengetahui posisi adiknya diakui oleh perempuan lain membuat Desy marah, apalagi perempuan itu adalah mantan pacar adik iparnya.


Mayang tersenyum menyeringai. "Untuk apa Saya berbohong? Nyatanya Saya memang istrinya dan kami sudah memiliki seorang anak yang cantik. Usianya sama dengan keponakan Kamu, Ichy."


Deg


Opa Zul dan Desy bertambah terkejut.


"Bohong. Dimana Kamu selama ini, kenapa baru kelihatan?" tanya Desy emosional.


"Tentu saja Saya harus disembunyikan, namanya nikah siri, jadi ya diam-diam biar gak ada yang tahu. Selama ini Saya ada kog, gak jauh dari sini. Saya tinggal di Binjai."

__ADS_1


Deg


Desy seketika menangis. "Nggak, ini gak mungkin."


"Desy, kenapa Nak?" tanya opa Zul heran karena anaknya tiba-tiba lemas dan menangis.


"Dia, Pa. Dia penyebab Jihan meninggal."


Deg


Mayang dan opa Zul terkejut akan pernyataan Desy.


"Gara-gara dia dan Iman, anak Papa meninggal. Jihan kecelakaan karena pergi ke Binjai, Pa." Desy menjerit histeris.


Deg


"Apa maksud Kamu, Nak?" tanya opa Zul tidak mengerti. Karena yang mereka ketahui adalah Jihan meninggal dalam sebuah kecelakaan, mobil Jihan menabrak mobil yang didepannya. Penduduk di sekitar menyatakan jika mobil Jihan melaju dengan kencang.


Jihan meninggal dalam kecelakaan di Jl. Gatot Subroto. Tidak ada yang tahu saat itu Jihan dari mana. Gatot Subroto adalah sebuah nama Jalan di Medan. Jika jalan terus dan lurus saja memang ujungnya akan sampai di Kota Binjai.


Bisa jadi Mayang baru saja pergi kesana dan mengetahui bahwa suaminya sedang bersama Mayang. Pada saat kecelakaan itu, mobil yang dikendarai Jihan memang berarah dari Binjai menuju Medan, bukan sebaliknya.


Artinya, kejadian itu bisa saja terjadi setelah Jihan melihat Mayang dan Iman bersama. Lalu dia pulang dengan kondisi menyedihkan dan mengendarai mobil seorang diri. Entahlah, tidak ada yang bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Sementara di dalam ruangan Iman


"Kamu gak mengejarnya?" tanya Jamal pada sahabatnya setelah tadi Mayang keluar ruangan dalam keadaan sambil menangis.


"Percuma. Yang ada malah tambah buat geger kantor," ujar Iman menghela nafas berat.


Ya, dengan kondisi Mayang yang seperti itu, jika Iman mengejarnya maka akan menjadi tontonan para pegawainya saja.


"Kalian udah gak sehat untuk terus bersama," ungkap Jamal.


"Entahlah." Iman memijit dahinya karena merasa pusing.


"Suara ribut apa itu diluar?" tanya Jamal karena mendengar keributan dari luar.


Jamal pergi melihat. Saat dia membuka pintu, ada 3 orang yang dia kenal. Pak Zul, Desy, dan Mayang.


"Sebelumnya Jihan meminta Desy menemaninya ke Binjai, Pa. Tapi saat itu Desy lagi sibuk, gak bisa nemani Jihan kesana." Desy menangis senggugukan, merasa bersalah pada adiknya yang telah meninggal.


Mendengar itu Jamal menemui Iman ke dalam dan menyuruhnya untuk keluar ruangan.


"Gara-gara mereka, Pa." Desy menunjuk Mayang dan Iman. "Gara-gara mereka Jihan meninggal." Desy menangis terisak.


Deg


Opa Pras yang ternyata baru tiba di tempat itu terkejut mendengar penuturan Desy.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2