PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 137 Pulang


__ADS_3

Medan, Sumatera Utara


Iman dan Qonita sudah kembali ke Medan. Anak-anak sangat antusias menyambut kepulangan kedua orangtuanya. Baru kali ini mereka ditinggal sama 3 hari oleh papi dan bundanya.


Iman dan Qonita tentu saja sudah menyiapkan oleh-oleh yang banyak untuk anak-anaknya. Mulai dari pakaian, mainan, dan makanan.


"Papi... Bunda..." seru Ichy, Fuad dan Nabil. Mereka dititipkan di rumah Nana.


Iman tidak mau anak-anak dititip di rumah opa Pras, karena khawatir papanya akan marah karena tujuan mereka ke Jakarta adalah untuk merayakan ultah Yuna, cucu yang masih tidak diakui oleh opa Pras. Dan tentu saja mereka juga sudah menyiapkan oleh-oleh untuk anak-anak Nana.


Iman dan Qonita pun memeluk dan menc1 um ketiga anaknya.


"Nanti Papi dan Bunda gak boleh pergi-pergi lagi. Kalau mau pergi biar Papi aja. Bunda gak usah ikut," celetuk Ichy.


Qonita yang mengetahui putrinya itu sedang merajuk karena lama ditinggal pun menarik Ichy agar duduk disebelahnya.


"Bunda rindu banget lho sama Kakak, Fuad dan Nabil," ujar Qonita merangkul putrinya.


"Kakak juga rindu, Bunda lama seh." Ichy memanyunkan bibirnya.


"Maaf ya, Sayang. Yang penting kan Bunda dan Papi udah pulang dengan selamat, Sayang. Alhamdulillah," ujar Qonita.


Ichy mengangguk. "Alhamdulillah..."


Qonita tersenyum melihat putrinya.

__ADS_1


"Bunda..." Nabil menggelayut di paha Qonita. Wajahnya menyentuh perut Qonita. "Perut Bunda udah besar."


"Iya, kan adeknya ada dua di dalam perut Bunda," imbuh Fuad.


"Nanti kalau adeknya udah lahir, kita yang jaga ya dek.." ucap Ichy pada Fuad dan Nabil.


"Iya, Kak," jawab Fuad dan Nabil.


"Adeknya laki-laki apa perempuan, Bunda?" tanya Fuad.


"Belum tahu, Sayang. Doain biar adeknya sehat, ya," sahut Qonita.


"Iya, Bunda," seru ketiga anaknya.


"Alhamdulillah, Dek," jawab Qonita tersenyum tipis.


"Perempuan itu buat ulah?" tanya Nana lagi.


"Dia sengaja c1 um Abang. Ya gitu lah." Qonita sebenarnya tidak ingin mengungkapkannya, pada orang lain, tetapi dia juga tidak ingin memendamnya sendiri. Kalau boleh jujur, sebenarnya hal itu sangat mengusik hatinya.


"S14 lan tuh perempuan," umpat Nana.


"Astagfirullah, Dek. Ngomongnya yang bagus ih..." ujar Qonita.


"Eh, maaf Kak." Nana cengengesan. "Trus Abang gimana, Kak?"

__ADS_1


"Abang gak sempat ngehindar, Dek."


"Ada Kakak aja dia berani kayak gitu. Gimana kalau Kakak gak ikut?" Wajah Nana terlihat marah.


"Sepertinya dia memang sengaja melakukannya karena melihat Kakak sedang, Dek."


"Ha?" Nana terkejut. "Ya udah, Kak. Gak usah Kakak fikirin, mungkin tujuan dia memang mau nyerang Kakak. Abaikan aja, Nanti Nana biar ngomong sama Bang Iman."


"Eh, gak usah, Dek. Kakak ngasih tahu Nana biar gak terpendam di hati Kak. Kadang kalau kita udah curhat, hati bisa sedikit kega, kan," ungkap Qonita.


"Iya, Kak. Kakak dan calon ponaan Nana sehat-sehat, ya."


"Aamiin Dek."


❤️❤️❤️


Jakarta


Mayang merenung di dalam kamarnya. Kepulangan Agil malam itu membuatnya merasa bersedih dan bersalah. Agil bahkan mengatakan tidak akan menemuinya lagi.


Ada perasaan kehilangan yang dia rasakan. Tiba-tiba dia rindu saat-saat Agil mendekati dirinya. Rindu dicintai oleh seorang laki-laki dewasa.


Apakah ini yang dikatakan orang kalau sudah tiada baru terasa?


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2