
Minggu siang di rumah mama Qonita, telah berkumpul saudara Qonita dari pihak mama dan almarhum papanya.
Hari ini adalah hari penting baginya. Langkah awal untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, bersama laki-laki yang bernama Sulaiman.
Dari dalam terdengar beberapa suara mobil yang berhenti di depan rumah mamanya.
"Assalamualaikum," ucap segerombolan tamu dari luar.
"Waalaikum salam," jawab beberapa orang dari dalam.
"Silahkan masuk," sambut uwak dan bujingnya Qonita.
Setelah semua barang-barang hantaran disusun ditengah, dan semua yang hadir telah duduk, pembicaraan pun dimulai.
"Assalamualaikum Wr.Wb. Selamat datang kami ucapkan pada keluarga besar Bapak Pras di rumah yang sederhana ini, tapi mudah-mudahan berkah bagi kita semua. Aamiin."
"Pertama-tama, kami ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Iful, uwak dari Qonita. Disebelah kanan saya Fikri, abangnya Qonita. Disampingnya Zardi, udaknya Qonita, adik dari Almarhum papanya, selanjutnya Ramadhan, tulang Qonita, yang didepan nya uwak, bujing serta sepupu-sepupu Qonita."
Uwak Iful memperkenalkan satu-persatu saudara Qonita yang duduk disana.
"Yang kedua, Saya ingin mempertanyakan maksud dan tujuan kedatangan Keluarga Bapak dirumah ini," ucap Uwak Iful mewakili keluarga dari pihak Qonita.
Opa Pras yang mewakili keluarga, mengambil alih pembicaraan, guna menjawab pertanyaan tuan rumah.
“Waalaikum Salam Wr. Wb. Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih terlebih dahulu, atas sambutan hangatnya pada keluarga kami."
"Izinkan Saya memperkenalkan kerabat kami yang hadir disini. Disini, Saya membawa istri Saya Herni, anak sulung Saya Sulaiman dan anaknya yang tak lain adalah cucu Saya Ichy, anak bungsu Saya Nana beserta suaminya Gagah, adik kandung Saya serta kakak dan adik dari pihak istri Saya."
Opa Pras memperkenalkan satu persatu keluarganya yang hadir disana.
“Adapun maksud dan tujuan kami datang hari ini adalah untuk menyampaikan keinginan dari Putra pertama kami, ananda Sulaiman, yang biasa dipanggil Iman, untuk melamar putri dari keluarga disini yang bernama Qonita Yasmin Siregar."
Opa Pras selesai memberitahukan maksud dan tujuan kedatangan mereka. Pembicaraan dikembalikan ke pihak tuan rumah.
"Sebelum menjawab niat dari keluarga Bapak Pras, terlebih dahulu Saya pertanyakan, apakah yang hendak dilamar oleh ananda Sulaiman adalah Qonita yang disini. Entahnya nanti nama sama tetapi ternyata orangnya berbeda," seloroh Uwak Iful.
"Coba dipanggil Qonitanya."
Qonita pun keluar dan duduk diantara keluarganya.
__ADS_1
Namun secara spontan Ichy berteriak. "Bunda." Lalu iya berjalan mendekati Qonita dan langsung duduk dipangkuannya.
Qonita tersenyum mendapati sikap menggemaskan dan polos Ichy.
"Wah, hahaha... Sepertinya cucu kita Ichy, sudah langsung pindah KK ini, Pak Pras," ucap uwak Jamal bercanda.
"Sepertinya begitu Pak Iful, makanya papinya Ichy juga sudah tidak sabar ikutan masuk ke dalam KK tersebut." Dibalas seloroh oleh opa Pras.
Yang lain hanya senyam senyum mendengarnya, terutama Qonita.
"Baik, Ananda Sulaiman, coba di dilihat terlebih dahulu, apakah Qonita yang dimaksud adalah Qonita yang ini?" ujar Opa Pras.
"Assalamualaikum Wr. Wb. Saya Sulaiman. Saya memiliki seorang putri cantik bernama Ichy dan berusia 6 tahun, yang saat ini berada dalam pangkuan seorang bidadari tanpa sayap."
"Ibunya, istri saya meninggal 2 tahun yang lalu. Saya datang kesini karena berniat menikahi Qonita Yasmin Siregar, perempuan hebat dan InsyaAllah sholehah, yang memiliki 2 putra yang ganteng," sambung Iman.
"Perempuan tersebut benar adalah Qonita yang disini, yang memakai gaun pink pastel yang sangat cantik, tapi jauh lebih cantik perempuan yang mengenakannya," ucap iman lembut namun penuh ketegasan.
"Ehm, ehm..."
"Cuit, cuit..."
"Tadi kita sudah mendengar pernyataan dari ananda Sulaiman, sekarang giliran ananda Qonita, apakah bersedia menerima lamaran dari ananda Sulaiman?" tanya uwak Iful.
"Assalamualaikum Wr.Wb. Dengan mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim, Saya bersedia," ucap Qonita dengan wajah tegak namun pandangannya menatap ke bawah.
"Alhamdulillah..." ucap hampir seluruh keluarga yang hadir.
"Alhamdulillah, lamaran diterima. Qonita, mahar apa yang Kamu minta? Apakah sebelumnya sudah disampaikan pada ananda Sulaiman?" lanjut Uwak Iful.
"Sudah Wak, Qonita meminta emas," jawab Qonita.
"Jumlahnya harus jelas Dek, biar Abang tau nanti pas ijab qabul," ucap Fikri karena ia nanti yang akan menjadi wali nikah adiknya.
Qonita terdiam lalu melirik pada Iman. Iman melirik pada papanya.
"Maaf Pak Iful, Iman sudah menyediakan mahar untuk Qonita," sela Opa Pras sopan.
"Emas berbentuk hati, ada 3 buah, masing-masing seberat 1 kg. Jadi mahar yang disediakan Iman, 3 kg emas. Semoga bisa diterima," ucap Opa Pras.
__ADS_1
"Ssssssssssss." Keluarga Qonita mendesis mendengarnya.
Qonita langsung melirik pada Iman, Iman melempar senyum manis padanya.
Qonita masih tak bisa merubah ekspresi wajahnya.
Ia kembali menatap pada Iman. Iman pun mengedipkan matanya sambil tersenyum lalu mengangguk kecil, seolah mengatakan itu untuk kamu sayang, ayo senyum.
Akhirnya Qonita menarik kecil sudut bibirnya berusaha untuk tersenyum walau berat.
"Biasanya kalau jumlahnya lebih banyak InsyaAllah akan diterima dengan senang hati, Pak Pras," seloroh Uwak Iful.
"Bukan begitu, Qonita? Hahha... Sepertinya Qonita sama seperti yang lain ini, masih terkejut dengan 3 kg yang tadi disebutkan," lanjut uwak Iful.
"Kebetulan ada makna kenapa Iman memilih 3, Pak Iful. Katanya karena ia mendapat 3 anugerah sekaligus. Qonita, ditambah 2 anaknya," lanjut Opa Pras.
Akhirnya acara yang tadinya formal berubah menjadi santai.
"Dan untuk uang kasih sayangnya, Iman juga sudah mentransfer ke rekening mamanya Qonita serta Qonita sendiri," ujar opa Pras.
"Sudah dicek, Qonita? Wah, jangan-jangan ini juga Qonita baru mengetahuinya, sama seperti tentang mahar tadi?" imbuh Uwak Iful.
Qonita hanya menunduk. Tak lama HPnya bergetar. Ada 2 pesan masuk berupa foto dari Iman. Ternyata itu adalah bukti transferan dari Iman.
Qonita kembali terkejut. Dalam dua foto itu bertuliskan jumlah besaran yang sama baik ke nomor rekening mamanya maupun ke rekeningnya sendiri. Rp. 500.000.000;. Artinya Iman memberikan uang kasih sayang sebesar 1 M.
"Lanjut ke penyerahan barang hantaran aja, Bang," ucap Bujing Jelia.
"Baiklah, kalau begitu kita masuk penyerahan isi hantaran secara simbolik," ucap Uwak Iful.
Oma Herni maju mewakili Sulaiman. Mengambil sebuah cincin dari kotak perhiasan. Lalu menyematkannya di jari manis Qonita.
Qonita pun tunduk menyalam Oma Herni. Lalu Oma Herni menarik Qonita dalam pelukannya. "Trima kasih sudah menerima Iman, Nak," bisik oma Herni.
Qonita tersenyum. "Sama-sama, Bu."
Lalu Oma Herni menyerahkan salah satu kotak cantik barang seserahan sebagai simbol kepada Qonita.
Qonita menerimanya dengan senyum bahagia. "Makasih, Bu."
__ADS_1