PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 136 Mayang Apa Yang Kamu Lakukan


__ADS_3

Sore hari mereka sudah kembali ke penginapan. Yuna sedang mandi. Mayang keluar dari kamarnya. Dia melihat mobil Agil keluar, entah mau kemana.


Mata Mayang melihat ke arah belakang. Ada Iman sedang berdiri membelakanginya. Sedang memandang-mandang ke arah taman.


Karna melihat Iman sedang seorang diri, Mayang mendatangi Iman.


"Im..." Mayang berdiri di samping Iman.


Iman terkejut. "Ada apa?"


Mayang tersenyum sinis. "Apa Aku udah gak boleh ngomong sama Kamu, Im?"


"Bukan gitu, Yang. Disini sepi. Kalau mau ngomong di tempat yang ramai aja. Atau sekalian pas ada istriku," ujar Iman.


Mayang malah terkekeh kecil. "Istrimu? Apa yang Kamu takutkan, Im. Dulu bahkan kita udah melakukan semuanya."


"Itu berbeda,Yang. Saat itu kita masih menjadi suami istri," ungkap Iman.


"Kalau begitu kita melakukan apa yang pernah kita lakukan sebelum kita menikah aja," ujar Mayang.


Dahi Iman mengernyit. Saat sedang masih berfikir, Iman merasa Mayang menariknya hingga Iman berhasil menghadap ke arah Mayang, kemudian dia dapat merasakan Mayang mulai m3l umat bibirnya.


Secara spontan Iman menolak tubuh Mayang.


"Apa yang Kamu lakukan, Yang?" bentak Iman.


Mata Mayang melirik ke arah kiri. Dia menaikkan sudut kanan bibirnya.


"Cuma melakukan apa yang pernah kita lakukan sebelum kita menikah," ujar Mayang santai.


"Kamu udah gila, Yang." Iman mengusap wajah kasar. Tanpa sengaja dia dapat melihat Agil menatap ke arah dia dan Mayang dari jarak 5 meter.


Deg


Iman menghela nafas berat.


"Maafkan, Aku Im." Mayang lalu mendekat pada Iman. Iman mundur.


"Jangan mendekat, Yang. Kamu gak tahu ada yang sedang memperhatikan kita? seru Iman.


"Karena Aku tahu makanya Aku melakukannya," imbuh Mayang pelan. Mayang tersenyum sambil matanya melirik ke arah kiri.


Iman menyadari lirikan Mayang. Dia menoleh pada arah lirikan Mayang.


Deg


Iman terkejut melihat ada Qonita sedang berdiri memperhatikan mereka dengan tangan kanannya mengelus perut buncitnya.


"Sayang..." ujar Iman lirih.


Iman hendak mendekati istrinya tapi tangannya ditahan oleh Mayang.


"Lepas, Yang." Iman menyentak tangannya kasar agar terlepas dari Mayang. Mayang hampir terjatuh dibuatnya.

__ADS_1


"Kamu benar-benar gila." Iman menunjuk Mayang dengan raut wajah yang marah.


"Bukan cuma Qonita yang memperhatikan kita, Agil pun sedari tadi memperhatikan kita juga." Iman tersenyum sinis. Lalu dia meninggakan Mayang.


Deg


Mayang terkejut mendengar ucapan mantan suaminya. Bukan kah baru saja mobil Agil sedang keluar.  Bagaimana mungkin Agil kembali secepat itu. Atau Iman hanya sedang berbohong saja. Mayang pun membalikkan badannya.


Deg


Ada Agil dengan raut wajah datar sedang menatap ke arahnya.


❤️❤️❤️


"Sayang, ini gak seperti yang Kamu kira. Aku gak tau kenapa Mayang berbuat seperti itu." Iman mencoba menjelaskan pada istrinya setelah sampai dihadapan Qonita.


Qonita hanya diam saja. Tidak mengatakan sepatah kata pun.


"Sayang, Aku bersumpah Aku gak tahu kalau Mayang mau menc1 umku. Aku gak sempat menghindar. Tolong maafkan Aku." Iman menggengam jemari kanan dan kiri istrinya.


Qonita tetap tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap wajah suaminya saja.


"Sayang... Aku akan buktikan kalau Aku gak tau apa-apa. Ayo kita lihat rekaman CCTV nya," ujar Iman khawatir karena istrinya yang sedang hamil itu hanya diam saja.


"Gak perlu, Bang. Qonita mau balik ke kamar aja." Qonita pun membalikkan badannya, hendak kembali ke dalam kamarnya.


"Sayang..." Iman mengejar Qonita.


❤️❤️❤️


M7


"Mas Agil..." panggil Mayang ketika sudah berada dihadapan Agil.


"Aku..." Mayang bingung harus menjelaskan apa.


Tidak mungkin dia mengatakan bahwa Iman lah yang berusaha menc1 umnya. Andai Agil sedari awal memperhatikan dia dan Iman tadi, sudah sangat jelas bahwa Mayang lah yang memulainya.


Tetapi mengaku pada Agil pun Mayang tidak mampu.


"Mas Agil dari mana, tadi Aku lihat mobil Mas Agil keluar."


Agil mengangguk. "Adik Kamu yang pinjam mobil Aku, mau keluar sebentar katanya. Mobilnya parkir agak dalam, payah keluarnya."


Deg


Mayang menelan ludahnya. Dia fikir tadi Agil yang pergi.


"Mayang... Maaf ya, Aku dan Rangga pulang duluan. Kamu bisa bareng mobil yang lain, kan?" tanya Agil.


Deg


Mayang merasa terkejut tiba-tiba saja Agil memutuskan pulang duluan.

__ADS_1


"Mas Agil melihat Aku tadi?" tanya Mayang takut.


Agil mengangguk.


Deg


Mayang kembali terkejut.


"Tadi itu, Aku..." Mayang tak menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan pada Agil.


"Maaf ya, Mayang. Mulai sekarang Aku gak akan menemui Kamu lagi."


Deg


Mayang lemas mendengar kata-kata Agil.


"Mas, jangan gini. Maafin Aku." Mayang mengiba pada Agil. Matanya sudah berair.


"Sekuat apa pun Aku mencoba untuk mendekati Kamu, gak akan ada hasilnya jika di hati Kamu cuma tertulis namanya dan Kamu gak memberi kesempatan untukku masuk ke dalam hatimu. Maafkan Aku, ya. Ini terakhir kalinya kita bertemu. Aku pulang malam ini." Agil mengusap lembut rambut Mayang. Lalu dia tersenyum tipis kemudian pergi.


Tanpa terasa air mata Mayang pun jatuh. Agil sudah menjauh dari hadapannya. Tiba-tiba dia merasa kehilangan.


❤️❤️❤️


Sementara Qonita merebahkan badannya di tempat tidur. Iman ikut naik dia menyentuh tangan istrinya itu.


"Sayang tolong Kamu percaya sama Aku. Aku gak tahu kenapa Mayang berbuat seperti tadi. Aku betul-betul gak bisa menghindar karna Aku gak tahu." Iman merasa frustasi karna Qonita hanya diam saja.


"Sayang, tolong maafkan Aku. Tadi Aku berdiri sendiri di luar. Tiba-tiba dia datangin Aku. Aku udah bilang kalau ngomong bicara di tempat yang ramai. Trus yang tadi terjadi begitu aja," terang Iman. Namun Qonita masih dia saja.


"Sayang... Aku minta maaf," sambung Iman.


"Qonita udah pernah bilang kan, Bang. Kalau Qonita bisa percaya sama Abang tapi nggak pada perempuan lain," seru Qonita.


Iman mengangguk. "Iya, sayang. Maafkan Aku. Ini salahku juga nggak memberi batas yang kuat tadi."


"Padahal Qonita ikut kesini biar Abang bisa terhindar dari fitnah. Tapi malah Qonita sendiri yang menyaksikan suami Qonita dic1 um oleh perempuan lain," ungkap Qonita sedih.


"Maaf, Sayang. Maafin Aku," Iman menatap sendu pada istrinya.


"Kalau seandainya Qonita balik, andai Qonita yang dic1 um oleh laki-laki lain, dan abang melihatnya, kira-kira apa yang abang rasakan?" tanya Qonita.


Deg


Iman menelan ludahnya. Tentu saja dia akan langsung memaki laki-laki tersebut. Sungguh ia tidak rela jika ada yang menyentuh istrinya. Apalagi jika ada yang menikmati apel fuji miliknya.


"Apa Abang tidak akan marah pada Qonita dan langsung memaafkan Qonita?" sambung Qonita.


Deg


Iman tidak dapat menjawabnya.


Membayangkannya saja darahnya sudah terasa naik. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi. Sudah pasti dia juga akan mendiamkan istrinya. Atau bahkan pergi meninggalkan istrinya untuk menenangkan hatinya.

__ADS_1


"Maaf..." Iman berucap lirih sambil menunduk.


❤️❤️❤️


__ADS_2