
..."Kebersamaan keluarga menjadi sempurna, manakala senyuman tiap orang di dalamnya penuh dengan keikhlasan dan saling menyayangi."...
"Proyek mana yang di luar kota cukup 2 hari ninjau nya?" tanya Iman pada asisten pribadinya, Jamal.
Mereka sedang dalam perjalanan balik ke kantor. Tadi mereka baru selesai menanda tangani perjanjian kerja sama dengan perwakilan dari perusahaan teman opa Pras.
"Kenapa? Kamu yang mau kesana?" Jamal mengernyit heran.
"Iya. Seharinya Aku nginap di Binjai dulu. Yang dua hari untuk ninjau proyek di luar. Tolong Kamu atur."
"Kamu yakin? 3 hari ini lho, Qonita gimana?" tanya Jamal memastikan.
"Qonita yang ngebolehin Aku ke luar kota."
"Ha? Kog bisa?" tanya Jamal heran.
"Dia bilang Aku harus profesional. Dan dia bisa ngertiin tanggung jawabku pada perusahaan."
""Sangat manis." Jamal tersenyum kecil.
"Semanis itu emang istri Gue." Iman tersenyum bangga.
"Ck. Istri Lo emang manis. Nah suaminya pahit dan asem gini," ejek Jamal.
"S!al. Lo hobi banget mojokin Gue," ungkap Iman kesal.
"Gue cuma mengungkap fakta. Data Gue tajam dan terpercaya. Hahaha..." Jamal tertawa puas.
"Br3ngsek!" umpat Iman.
"Ck. Lo apa Gue yang br3ngsek. Ingat jika 1 jari Lo nunjuk orang lain, empat jari Lo yang lain malah nunjuk ke diri Lo sendiri." Jamal tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Males Gue debat ama Lo," sungut Iman.
"Karena Lo gak akan bisa menang. Gue tahu semua kartu Lo. Hahaha..." Jamal tertawa puas.
❤️❤️❤️
"Besok Papi keluar kota lagi?" tanya Fuad pada papinya. Qonita memang sudah mengatakan perihal kepergian suaminya ke luar kota besok.
"Iya, Sayang. Baik-baik di rumah, ya. Jagoan Papi ini harus bisa menjaga dan melindungi Bunda, Kakak dan Adek. Kamu yang gantiin Papi, oke?" ucap Iman pada Fuad.
"Oke, Pi. Kapan Fuad boleh ikut, Pi?" Iman terkejut mendengar pertanyaan putranya.
"Kenapa Kamu mau ikut, Sayang?" Iman mengernyit heran.
"Kata opa, sesekali Abang disuruh ikut nemani Papi kerja. Biar Abang mengenal kondisi kerja Papi." Fuad terlihat menyampaikan beberapa pesan opa Pras.
Iman tersenyum miris. "Bagaimana mungkin Papi membawa Kamu, Nak," ucapnya dalam hati.
"Deal, Pi." Iman tersenyum melihat antusias putranya. Papanya, opa Pras memang begitu bersemangat mendidik Fuad agar kelak bisa meneruskan bisnis keluarga mereka.
"Kamu kasih izin gak Sayang, kalau lain waktu Aku ajak Fuad ikut?" tanya Iman setelah mendekat pada istrinya.
"Abang gak harus menuhin semua permintaan anak-anak, Bang. Kasih penjelasan aja kalau Abang itu sedang bekerja. InsyaAllah anak-anak bisa ngerti, kog," ucap Qonita pada suaminya, khawatir suaminya terpaksa menurutin permintaan putranya itu.
"Ya gak apa, Sayang. Kalau Fuad mau ikut nanti Aku atur moment yang pas. Aku gak mau maksa dia kelak menggantikan Aku, tapi kalau dia mau sendiri ya Aku dengan senang hati donk, menyambutnya. Bener, gak?" Iman tersenyum menaikkan alisnya.
"Terserah Abang aja. Yang penting gak mengganggu kerjaan, Abang," ucap Qonita pasrah.
❤️❤️❤️
Binjai, Sumatera Utara.
__ADS_1
Iman sampai di rumah Mayang, Pagi. Tapi Yuna sedang berada di TK. Mayang tentu saja terkejut akan kedatangan suaminya. Tumben datang sepagi ini, tetapi tentu saja hatinya merasa bahagia.
"Aku senang Kamu datang sepagi ini, Im." Mayang memeluk suaminya.
"Hem, Aku nginap malam ini disini. Besok pagi Aku langsung ke Jakarta," ungkap Iman.
Mereka duduk di sofa.
"Dia ngebolehin Kamu keluar kota?" tanya Mayang menatap tajam mata Iman, suaminya.
"Dia gak pernah melarang Aku, Yang."
"Bohong. Kalau dia gak ngelarang Kamu, kenapa selama ini Kamu gak pernah nginap lagi disini. Dia gak percaya sama Kamu, kan?" tanya Mayang sinis.
"Karena Aku yang gak mau. Kamu benar, Aku memang gak seharusnya dipercaya. Aku memang berbohong padanya." Iman pun balas menatap tajam pada Mayang.
Deg
Mayang menelan ludahnya. Dia tak menyangka Iman akan berkata seperti itu.
"Dan Kamu juga harus tahu, andai dia tak mengingatkanku untuk bekerja dengan profesional, maka Aku gak akan menginap disini, Yang. Tolong Kamu jangan berprasangka buruk padanya."
Deg
Mayang kembali merasakan sakit dihatinya. Dia tidak menyangka bahwa suaminya sampai seperti itu membela istri sahnya itu.
"Maafin Aku, Im." Mayang terpaksa harus menahan emosinya. Berdebat dengan suaminya, sama sekali tak menguntungkan baginya.
"Aku cuma perempuan biasa, Im. Cemburuku padanya sangat besar, Im. Kamu begitu memperdulikannya." Mayang sudah mengeluarkan air matanya.
Iman menghela nafas panjang. "Bukan Aku gak perduli padamu, Yang. Tapi Aku harus memastikan semuanya aman. Hampir 8 tahun kita menjalani pernikahan tersembunyi ini, Yang. Aku gak mau semua sia-sia dan berakhir begitu aja. Tolong Kamu ngertiin Aku, ya." Iman mengusap air mata istrinya, lalu menarik Mayang dalam pelukannya.
__ADS_1