PERJALANAN CINTA QONITA

PERJALANAN CINTA QONITA
Bab 17 Permintaan Ketiga


__ADS_3

Sudah 2 hari ini, Iman di luar Kota. Dia sempatkan memberi kabar pada Qonita dengan mengirim pesan. Qonita pun membalas pesan tersebut.


Dan sore hari ini, Qonita kembali kedatangan tamu, Oma Herni dan Ichy.


"Assalamu'alaikum, Sayang." Menyambut Ichy yang sudah merentangkan kedua tangannya ke dalam pelukannya.


"Waalaikum salam, Bunda." Ichy menyalam Qonita.


"Apa kabar, Bu?" tanya Qonita pada Oma Herni.


"Alhamdulillah, sehat." Oma Herni memberikan senyuman.


Tak lama Fuad, Nabil dan Vivi keluar dari kamar.


Menyalam Oma Herni dan Ichy. Lalu Vivi membuatkan minuman dan menghidangkan kue. Qonita memang menyediakan makanan ringan untuk anak-anaknya agar tak sembarangan jajan di luar.


"Ayok main, Kak," ucap Nabil pada Ichy.


"Iya, mainannya banyak, Kak. Dikasih om," ucap Fuad.


"Oh ya? Om yang mana?" tanya Ichy polos.


"Om, papinya Kakak lho," ujar Fuad.


"Haa? Papi pernah kesini? Kog gak ngajak Ichy?"


Qonita dan Oma Herni saling berpandangan.


"Mungkin sebelum papi Kamu keluar kota, Sayang. Papi kan sibuk, makanya nyuruh kita datang kesini, kan. Karna papi gak sempat ngantar," ucap Oma Herni memberi alasan.


"Pantesan papi nyuruh kita kesini ya, Oma," ungkap Ichy.


Oma Herni memberikan senyum penuh arti pada Qonita.


"Ya udah, main sana, katanya rindu main bareng Fuad dan Nabil," ucap Oma Herni.


Tak lama mereka bermain ditemani oleh Vivi.


"Mama Kamu sehat, Nak?" tanya Oma Herni.


"Alhamdulillah sehat, Bu. Pak Pras apa kabar, Bu?"


"Sehat. Makin semangat godain Iman." Tertawa kecil. Sementara Qonita sedikit mengernyit.


"Iman sekarang sering konsultasi ke papanya. Habislah dia, digodain papanya terus, secara dia kan gak pernah kayak gini. Baru kali ini melibatkan keluarganya tentang perempuan, Nak."


"Saya senang Iman benar-benar serius ke Kamu. Tadinya Saya pikir dia bakal nolak lagi kayak biasanya. Tapi ternyata Kamu bisa mengubah pandangannya," lanjut oma Herni.


"Malah dia yang terus desak kami buat segera melamar kamu," sambung oma Herni.


"Kenapa harus Saya, Bu?" Qonita menunduk memasang wajah sedih. "Apa Ibu dan keluarga tidak khawatir, Saya ini pernah bercerai, pernah gagal."


"Saya juga dari keluarga biasa, mungkin tidak akan mampu mengimbangi. Banyak kurangnya. Bagaimana dengan pandangan rekan kerja Pak Pras, pasti akan dicemooh mendapat mantu biasa seperti Saya," sambung Qonita.


"Saya cuma seorang janda dan hanya berpendidikan S1. Sementara banyak pilihan dengan latar yang mumpuni," imbuh Qonita.

__ADS_1


Oma herni tersenyum menenangkan. "Qonita, mencari pasangan itu bukan seperti mencari pekerja. Harus dilihat pendidikannya, penampilannya serta wawasannya."


"Iman itu bukan hanya mencari seorang istri untuknya saja, tetapi juga ibu untuk anaknya. Ichy suka sama Kamu, sayang sama Kamu. Dia juga suka sama anak-anak Kamu."


"Saya yakin Ichy bisa jadi kakak untuk Fuad dan Nabil." Oma Herni kemudian tersenyum sambil memejamkan mata sesaat.


"Awalnya Iman juga kekeh menolak Kamu. Karna dia belum mengenal Kamu. Tetapi setelah bertemu Kamu, lambat laun dia berubah fikiran. Mungkin dia merasa nyaman sama Kamu."


"Semua orang pernah gagal Qonita, dalam berbagai hal. Kebetulan Kamu gagal dalam berumah tangga. Lantas apa karna itu, Kamu juga dipastikan akan gagal untuk yang kedua kalinya?"


"Nggak Sayang, kita gak pernah tau kedepannya akan seperti apa, intinya kita harus berusaha untuk melakukan yang terbaik, semampu kita."


"Dan benar, diluar sana banyak yang lebih hebat dibanding Kamu, tapi dalam hal apa."


"Seorang istri yang baik tidak diukur dari kecantikan fisiknya. Seorang Ibu yang baik, tidak dilihat dari kekayaannya. Dan seorang mantu yang baik tidak pula tingkat pendidikan yang menjadi indikatornya.”


"Kekhawatiran Saya, malah tertuju pada anak Saya. Awalnya, Saya khawatir dia akan memperlakukan Kamu seperti pada Jihan dulu." Oma Herni menunjukkan raut wajah yang sedih.


"Khawatir apa dia bisa jadi imam yang baik untuk Kamu, jadi ayah yang baik untuk anak-anak Kamu. Iman juga banyak kurangnya Qonita."


"Selama bersama Jihan dulu, dia kurang perhatian, gak peka, gak ada romantisnya, dan menyibukkan diri dengan kerjaannya."


"Tapi melihat cara dia membicarakan Kamu, Saya yakin kali ini dia akan berusaha jadi suami dan papi yang baik. Saya bisa melihat kesungguhannya."


"Oh ya. Mengenai permintaan Saya yang ketiga." Qonita tekejut mendengar ucapan oma Herni, khawatir apa yang menjadi pemintaan ketiga Oma Herni.


"Saya tidak akan memintanya. Saya anggap sudah selesai." Qonita mengerjap tak percaya akan ucapan oma Herni.


"Bisa sampai seperti ini saya sudah sangat bersyukur. Melihat keceriaan Ichy, mengubah pendirian Iman, semua sudah cukup bagi Saya."


"Dan kalaupun Kamu menolak Iman, kami tidak keberatan, Nak. Kamu berhak memilih. Menentukan yang terbaik untuk Kamu dan anak-anak Kamu."


"Namun, Saya berharap biarlah permintaan pertama saya tetap berlanjut. Silaturahmi diantara kita biarkan tetap terjalin walau tanpa adanya hubungan yang mengikat. Apa bisa, Nak?" cecar oma Herni panjang.


Qonita mengangguk, namun disertai dengan buliran air matanya. Oma Herni memeluknya. Menenangkannya.


"Terima kasih, Bu." Kalimat yang keluar dari mulut Qonita.


"Bunda, kenapa nangis?" tanya Ichy yang tak sengaja melihat Qonita bersedih dalam pelukan Omanya.


"Apa papi jahat sama Bunda, makanya Bunda mengadukan pada Oma?" ujar Ichy lagi.


Qonita dan Oma Herni sama-sama tertawa.


"Nanti biar Ichy marahin papi, udah jahat sama Bunda," ucapnya cemberut.


"Nggak Sayang, papi gak jahat sama bunda. Bunda nangis bahagia Sayang, bahagia bisa kenal sama Ichy, oma, papi dan yang lain," jawab Qonita lembut.


"Ohh, Ichy juga bahagia Bunda, bisa kenal sama Bunda, dek Fuad, dek Nabil dan kak Vivi," ungkap Ichy tersenyum lebar.


❤️❤️❤️


Hari berganti malam, anak-anak sudah tidur. Ponsel Qonita berbunyi. Ada pesan masuk dari Iman.


"Assalamualaikum, Sayang. Udah tidur?" Qonita tersenyum membacanya.

__ADS_1


Qonita memngetik balasan. "Waalaikum salam, Bang. Belum. Jangan bilang abang masih lembur?"


"Haahha... Tau aja neh!"


"Haa?"


"Iya, Sayang, lebur mikirin kamu." Qonita menyebikkan bibirnya saat membaca pesan Iman itu.


"Sayang..."


Tak ada balasan dari Qonita.


Tiba-tiba ponsel Qonita berdering. Panggilan video dari Iman.


Qonita agak lama menerima panggilan itu lantaran ia harus mengenakan jilbab terlebih dahulu.


"Ya, Bang," sahut Qonita saat menerima VC dari Iman.


"Kenapa gak balas?" tanya Iman.


Qonita hanya menatap layar ponselnya. Tak menjawab pertanyaan Iman, ia hanya menggeleng.


"Marah?"


"Nggak, Bang."


"Lalu?"


"Bang..."


"Ya, Sayang."


“Bermain api itu nyenengin, ya." Iman mengernyit mendengarnya.


"Tergantung, Sayang."


"Tapi berbahaya. Makanya gak boleh."


"Gak berbahaya kalau apinya kecil, Sayang."


"Kecil pun tapi bisa buat terbakar, Bang."


"Makanya hati-hati. Semua permainan gada yang berbahaya Sayang, jika kadarnya cuma kecil."


"Walau kecil, lambat laun kan bisa jadi besar, Bang."


"Bisa, kalau ada faktor pendukungnya. Kalau faktor pendukungnya kita ilangin, kan gak bakal membesar, Sayang. Gak akan berbahaya."


“Terkadang karena terlalu asyik bermain, kita gak sadar, ternyata apinya udah membesar, Bang."


"Qonita, apa Kamu sekarang merasa terbakar?"


Hening


"Sayang, tunggu Aku pulang. Kita selesaikan permainannya sama-sama."

__ADS_1


__ADS_2